RADIKALISME DAN TERORISME ADALAH FENOMENA YANG MENJADI FOKUS NEGARA-NEGARA DI DUNIA.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.ComJakarta -RADIKALISME DAN TERORISME ADALAH FENOMENA YANG MENJADI FOKUS NEGARA-NEGARA DI DUNIA.

 

RADIKALISME,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merupakan paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Munculnya radikalisme merupakan hasil dari radikalisasi.

Radikalisasi adalah suatu proses dimana orang meningkat motivasinya untuk menggunakan cara kekerasan melawan anggota di luar kelompoknya atau menarget simbol untuk mencapai perubahan sikap atau tujuan politik.

 

Sedangkan TERORISME adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan.

BERDASARKAN PENGERTIAN TERSEBUT DAPAT DISIMPULKAN BAHWA TEROSISME MERUPAKAN SALAH SATU BENTUK ATAU AKSI DARI RADIKALISME.

 

Proses radikalisasi dapat dikelompokkan ke dalam tiga fase, yakni
(1) fase sensitif,
(2) fase anggota grup,
dan (3) fase aksi.

 

FASE SENSITIF yaitu seseorang sangat rentan terhadap pengaruh kelompok radikal.

FASE INI DISEBABKAN OLEH FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL.

Faktor INTERNAL berupa kehilangan status, hinaan yang kuat, dan personal uncertainty.

Sedangkan faktor EKSTERNAL yaitu seperti ketidakadilan, perang timur tengah, dan westernisasi.

Situasi ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merekrut anggota baru.
Salah satu media yang digunakan untuk rekruitmen adalah internet.

Kelompok radikal seperti ISIS dalam aksinya menampilkan video atau konten yang berisi propaganda.
Propaganda diduga cukup efektif untuk merekrut anggota, sehingga peropaganda membuat ISIS lebih berkembang daripada organisasi teroris sebelumnya seperti Al-Qaeda.

ISIS mempunyai pusat media Al Hayat yang memproduksi video-video propaganda.

Al Hayat konon diisi oleh tenaga ahli di bidang sinematografi, sehingga video yang diproduksi berkualitas tinggi.

Propaganda tersebut menyentuh sisi psikologis dengan membuat skenario khusus yang mampu mengaduk emosi penonton.

Dalam PERSPEKTIF NEUROSCIENCE
(ilmu yang mempelajari otak),
emosi disimpan dalam bentuk memori emosional di bagian otak amigdala.

Amigdala, hipokampus, dan bagian-bagian thalamus merupakan bagian dari system limbic yang mengelilingi batang otak pada mamalia.

System limbic memiliki beraneka ragam fungsi termasuk emosi, motivasi, perilaku dan memori.
Bagian di luar system limbic juga berpartisipasi dalam proses emosi seperti prefrontal kortex (PFC), hypothalamus, dan anterior cingulate cotex (ACC).

 

Amigdala sangat sensitif terhadap Informasi visual kasar.
Di antaranya yaitu mata membuka lebar pada wajah takut, dan kondisi mencekam saat pengeboman.

Informasi tersebut akan mengaktivasi amigdala dengan cepat dan bertahan lama ketika informasi yang masuk sesuai menurut amigdala.

Kesesuaian dan ketertarikan informasi akan digunakan oleh otak sebagai dasar klasifikasi informasi sensoris yang masuk.
Kemampuan ini dimiliki oleh otak untuk mengendalikan proses sensor dan memutuskan informasi yang akan dipilih.

Kemampuan selektif ini merupakan mekanisme yang dimiliki oleh otak untuk mengatasi keterbatasannya dalam menyerap informasi, karena tidak mungkin otak menyerap seluruh informasi yang masuk.

Amigdala sebenarnya gagal merespons sinyal emosi yang lemah dan cepat, sehingga organisasi teroris dalam membuat video propaganda harus berhasil menyentuh sisi psikologis penonton.

Maka,
Wajar jika pusat media ISIS diisi oleh tenaga ahli di bidang sinematografi untuk membuat skenario yang mampu membuat penonton tertarik dan terbawa suasana.

Fase sensitif merupakan pintu gerbang seseorang sebelum bergabung dengan organisasi teroris.
Sehingga jika fase ini dicegah maka kemungkinan besar akan menghambat bergabungnya masyarakat ke dalam organisasi teroris.

Berdasarkan perspektif neuroscience, pencegahan radikalisme dan terorisme dapat dilakukan sedini mungkin, baik oleh individu ataupun pemerintah dengan mencegah atau menyaring informasi yang masuk ke otak.

Salah satu cara sederhana untuk mencegahnya yaitu dengan tidak mengikuti media-media kelompok yang berfaham radikal atau organisasi teroris, sehingga seseorang akan terhindar dari propaganda yang disebarkan oleh mereka.

Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan menghapus video atau konten propaganda dengan bekerja sama dengan perusahaan terkait.

(Rn)