Kategori
Artikel

Puncak olah spiritual menurut sosok yang dibesarkan oleh iklim intelektualitas nan majemuk di Khurasan kala itu ialah MAKRIFAT.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – Dalam kitabnya,
RIYADHAT an-NAFS,
al-Hakim at-Tirmidzi menyebut tahapan puncak olah spiritual menurut sosok yang dibesarkan oleh iklim intelektualitas nan majemuk di Khurasan kala itu ialah MAKRIFAT.

 

Ia mengibaratkan dalam perdagangan, makrifat seperti uang pangkal atau modal.

Sedangkan,
AKTIVITAS MUJAHADAH disebutnya ialah jual beli itu sendiri.
Kemudian, keridaan Allah, ia sebut-sebut sebagai keuntungan.
Bila perilaku baik telah terkumpul pada diri seseorang, ia akan menjadi pribadi yang matang.

 

Hal ini karena ada tujuh sifat manusiawi manusia, yaitu
lupa (ghaflah),
ragu (syak),
syirik (syirik),
keinginan (raghbah),
ketakutan (rahbah),
syahwat, dan
marah (ghadhab).

Satu per satu, perangai buruk itu akan hilang tatkala hidayah datang dan menghadirkan makrifat.
Semakin makrifat bertambah maka hatinya akan tercerahkan dan terhindar dari ketujuh perangai tersebut.

Seperti apakah visualisasi olah spiritual tersebut?

Sederhananya, bagaimana gambaran pertempuran antara dimensi kebaikan dan kejahatan dalam diri seorang hamba?

Menurut al-Hakim yang pernah terusir dari Tirmidz lalu pindah ke Balkh lantaran menulis kitab yang dianggap kontroversial
( Khatm al-Awliya’ dan ‘Ilal asy-Syari’at)
itu mengatakan, jika jiwa seseorang telah terbiasa dengan kenikmatan dan syahwat atau bermain-main dengan nafsu, ia akan sulit meninggalkannya.

Sebelum segalanya terjadi maka segeralah merapat kepada-Nya.

Lihat saja bagaimana seekor binatang liar dipelihara dan diasuh menjadi hewan peliharaan di rumah.
Sebelumnya, hewan itu tumbuh dan berkembang di dunia luar yang tak teratur.

Begitu pindah ke rumah, ia mendapat perhatian yang cukup, terurus, dan berubah menjadi penurut.
Menuruti apa yang diinginkan oleh majikannya.

Ambil contoh pula dengan balita yang gemar menyusu.
Begitu dipaksa berhenti menyusu, ia akan menangis.

Lain halnya jika kebiasaan itu dialihkan dengan memberikan alternatif yang lebih baik.
Bukan tidak mungkin, ia akan dengan mudah berhenti menyusu dan melupakan air susu ibunya.

Para ahli mujahadah akan menyikapi kenikmatan dan kelezatan duniawi itu secukupnya.
Mengambil apa yang ia perlukan, baik dalam hal makan, minum, mencari nafkah, maupun soal pangkat dan jabatan.

Selebihnya, ia berusaha untuk tidak bergelimang dan terjerumus.
Inilah esensi takwa batin.
Sedangkan, ketakwaan dari segi fisik ialah menjaga segenap anggota tubuh dari berbuat maksiat.

Bagaimana kiat sederhana olah spiritual itu?

Jalankan shalat tepat waktu, sambangilah makam untuk mengingat kematian, datangi lokasi yang ada api membara, bayangkanlah bahwa kematian, panasnya api neraka ada di depan Anda.

“TAK JAUH,
CUMA SEJENGKAL KAKI DAN SEJAUH MATA ANDA MEMANDANG”.

(Rn)