Kategori
Polri

PSBB telah membuat kebijakan, namun masih banyak yang belum sadar sepenuhnya bagaimana cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19

 

Busurnews.com, Jakarta – Polri mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami sepenuhnya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai cara memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Hal ini terbukti dari masih tingginya tingkat pelanggaran terhadap pelaksanaan PSBB yang telah diberlakukan di sejumlah daerah.
“PSBB telah membuat kebijakan, namun masih banyak yang belum sadar sepenuhnya bagaimana cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Mohammad Iqbal, S.I.K., M.H., dalam sambutannya pada cara Focus Group Discussion (FGD) Webiner Series/Seminar Online di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Rabu (22/4).
Kadiv Humas Polri mengingatkan, upaya TNI-Polri bersama Pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid 19 tidak akan optimal apabila tidak dibantu oleh masyarakat.
Menurut Irjen Pol. Mohammad Iqbal, diperlukan kedisiplinan persatuan melaksanakan kebijakan pemerintah, mulai dari mengikuti imbauan-imbauan pemerintah dan ikut serta dalam memelihara kondisi saat ini agar semakin kondusif.
“Mari kita bergotong royong untuk saling mendukung kebijakan saat ini, mudah-mudah ketenangan dan kesabaran kita saat ini akan menjadi berkah bagi kita dan bagi bangsa ini,” ucap Iqbal.
Senada dengan Kadiv Humas Irjen Pol. Mohammad Iqbal,  Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.I.K., M.Si. dalam paparannya pada seminar itu menyoroti maraknya penyebaran berita Covid 19 yang justru membuat masyarakat merasa sedih dan panik. Ia mengingatkan kondisi ini bisa berdampak pada merosotnya imunitas masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid 19.
“Jangan sampai masyarakat itu ketakutan melihat informasi-informasi, infonya itu yang sedih, jangan. Bagaimana kematian, itu yang ditampilkan, bukan seperti itu,” pinta Argo seraya berharap agar media, baik media mainstream maupun media sosial, lebih banyak menampilkan bagaimana yang gembira, karena dengan gembira, imun akan naik.
Argo juga menyoroti banyaknya penyebaran berita bohong atau hoaks khususnya di media-media sosial di tengah gencarnya TNI-Polri dan pemerintah berupaya memutus mata rantai pandemi Covid 19 saat ini.
“Ada bermacam-macam yang diviralkan yang mengarah pada kepanikan masyarakat, jadi masyarakat biar panik. Jadi semua ditampilkan padahal belum tentu benar,” kata Argo.
Karo Penmas Divisi Humas Polri itu memberi contah hoaks yang menyebar terkait pandemi Covid 19 di antaranya kecelakaan di Jakarta Pusat, tapi itu kemudian di-framing bahwa itu adalah begal yang ada di Surabaya. “Akhirnya masyarakat resah. Banyak itu tidak cuma satu, kemudian ini semua di-framing terus,” ungkapnya.
Keterbukaan
Staf Ahli Utama Kantor Staf Presiden Drs. H. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si yang juga tampil dalam seminar yang mengangkat tema “Strategi Pelibatan Masyarakat Sebagai Solusi Dalam Menangkal Ancaman Kamtibmas di Masa Pandemi Covid-19” itu mengingatkan perlunya orang-orang yang berwenang memberikan pernyataan untuk selalu siap dan bersedia untuk berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan terutama media massa.
“Keenganan untuk berkomunikasi dengan pemangku kepentingan akan menimbulkan kesan bahwa negara tertutup, berusaha menyembunyikan sesuatu atau tidak mempu menangani krisis,” terang Ngabalin.
Menurut Ngabalin masyarakat harus diberikan ruang yang cukup serta mudah mengaksesnya serta murah, serta ada keyakinan bahwa publikasi yang disampaikan pemerintah melalui Satgas Covid 19 beserta data pendukungnya adalah usat kebenaran informasi dalam penanganan Covid 19 di Indonesia.
Seminar yang mengangkat tema “Strategi Pelibatan Masyarakat Sebagai Solusi Dalam Menangkal Ancaman Kamtibmas di Masa Pandemi Covid-19” itu menghadirkan narasumber Kakorbinmas Baharkam Polri Irjen Pol. Risyapudin Nursin, S.I.K., Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.I.K., M.Si., Dosen Pasca Sarjana Univ. Pelita Harapan Dr. Emrus Sihombing dan Staf Ahli Utama Kantor Staf Presiden Drs. H. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si.
Selain itu, seminar online yang dilaksanakan melalui aplikasi meeting online ini juga turut diikuti oleh para dosen beserta mahasiswa dari perguruan tinggi. (Riena).