Kategori
All

PRINSIP PALING KUAT DALAM KEPEMIMPINAN ISLAM.

 

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,JAKARTA —  Kita kerap mendengar
SAMI’NA WA ATHA’NA
terucap sesaat sebelum shalat.

Saat sang imam memerintahkan kita, jamaahnya, untuk meluruskan shaf.
Kami mendengar perintahmu wahai imam, dan kami menaatinya, sesegera mungkin.

Kalimat itu sejatinya tak boleh berhenti dalam ritual shalat saja.

 

KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT
ADALAH PRINSIP PALING KUAT DALAM KEPEMIMPINAN ISLAM.

Bagaimana rahasia pasukan Muslimin yang berasal dari tanah gersang itu bisa memengaruhi dunia?

Salah satu prinsip kuat yang diajarkan adalah loyalitas penuh kepada pemimpin.
Dengan catatan selama tak mengarahkan pada kemungkaran.

Prinsip ini yang membawa Islam menjadi jaya.
Jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini akan membawa kepada kemuliaan hidup.

Seorang istri yang memiliki kewajiban taat pada suami, dengan prinsip ini akan membawa ketenangan keluarga.
Bisa jadi bibit-bibit konflik akan layu sebelum meletup.

Karena ada prinsip asasi yang mengalahkan ego diri.
Istri mendengar dan ia taat.

Seorang pekerja akan memiliki produktivitas nan tinggi.
Karena ia siap mengerjakan apa saja perintah atasan demi selesainya sebuah pekerjaan.

Hasilnya bisa jadi jenjang karirnya akan melesat dengan cepat.
Karena ia mendengar dan ia taat.

Seorang murid akan mencapai keberkahan ilmu.
Penguasaannya terhadap pengetahuan bisa jadi lebih cepat dari murid lain yang sebaya.
Karena ia siap mendengar setiap nasihat guru dan mengerjakannya.

Sebuah negara akan stabil jika rakyatnya menerapkan prinsip yang asasi ini.
Pemimpin akan ditaati selama ia mengeluarkan kebijakan yang tidak zalim.

Keterikatan antara pemerintah dan yang diperintah akan teramat kuat.
Inilah kunci, bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat bisa melewati masa-masa sulit saat dakwah awal merekah di Makkah.

Kekuatan prinsip
SAMI’NA WA ATHA’NA
Pasti menemui batu ujiannya.

Apakah kesetiaan kita pada prinsip ini benar-benar purna atau masing setengah matang.
Ujian itu pula yang berhasil dilewati Hudzaifah.

Setelah berhasil masuk ke dalam pasukan Quraisy, Hudzaifah mendapat informasi berharga.

Namun tak hanya itu.
Ia mendapat kesempatan untuk membunuh pemimpin kaum Quraisy, Abu Sufyan karena dekat jaraknya.

Namun Hudzaifah memegang erat perintah Rasulullah SAW,
“Jangan engkau melakukan tindakan apapun”.

Ia lewatkan kesempatan emas untuk membunuh pemimpin musuh.
Ia memilih kembali kepada Rasulullah dengan sebuah berita penting.

Hudzaifah berhasil melewati ujian ketaatan meski hatinya bergolak.

Dan kita paham,
Seorang Abu Sufyan kelak sebakda Fathu Makkah menjadi pemuka kaum Muslimin yang memiliki jasa besar dalam dakwah ini.

📧
— Inilah kisah keteladanan dari lelaki bernama Hudzaifah Ibnu Yaman.

Salah satu fragmen dalam Perang Khandaq menjadikan kisahnya menjadi suar dalam Islam.

Kita paham bagaimana beratnya perang Khandaq.
Rasulullah SAW dan para sahabat memainkan strategi defensif.
Lewat peluh dan kepayahan mereka menggali parit.
Kelaparan diatasi dengan ganjalan batu.
Kaum Muslimin dikepung oleh pasukan aliansi Quraisy.

Sementara dari dalam Kota Madinah, umat Islam dikhianati oleh Yahudi.
Terlebih saat itu musim dingin menerpa dengan angin kencang yang tak henti-hentinya menerpa.

Dalam keadaan yang mencekam itu, Rasulullah SAW memberikan tugas yang amat menantang.

Memata-matai musuh di seberang. Rasulullah SAW bersabda,
“Adakah orang yang bersedia mencari berita musuh dan melaporkannya kepadaku.
Mudah-mudahan Allah menjadikannya bersamaku pada hari kiamat”.

Begitu Imam Muslim meriwayatkan.
Lihatlah balasannya yang amat besar.
Rasulullah menjanjikan bagi yang mau berangkat akan menemaninya kelak di hari kiamat.

Sebuah balasan yang amat besar.
Tapi para sahabat bergeming.
Keadaan yang mencekam lebih menusuk ke dalam kalbu mereka.

Rasulullah SAW pun sampai mengulangi sabdanya tiga kali.
Tetap,
Tak ada satupun yang beranjak.

Tiba-tiba, Rasulullah SAW langsung menunjuk seseorang.
“Bangkitlah, wahai Hudzaifah.
Carilah berita dan laporkanlah kepadaku!”

Dalam hadis yang sanadnya langsung bersambung ke Hudzaifah ini, ia sejatinya merasa berat mengerjakan perintah itu.
Sama seperti yang lain.
Namun ia mengalahkan semua keengganan itu dan segera bangkit demi namanya langsung disebut Rasulullah.

“Karena itu, tidak boleh tidak, aku harus bangkit karena beliau menyebut namaku.”

Lihatlah Hudzaifah.
Ia tetap mengisahkan bagian kemanusiaannya.
Ia merasa berat, itu wajar.
Sangat manusiawi.

Sahabat-sahabat yang senior pun juga enggan mengajukan diri.
Hatinya merasa tak sanggup melakukan pekerjaan yang pahalanya amat besar itu.

Namun ia bangkit.
Ia berangkat.
Demi mematuhi sebuah perintah yang telah terucap.

HUDZAIFAH MENDENGAR DAN IA TAAT.

Adakah sifat dan karakter itu masih terpatri dalam diri kita hari ini?

(Rn)