Presiden Jokowi bersyukur prosesi akad nikah dan resepsi berlangsung lancar.

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews .Com,Jakarta -Presiden Jokowi bersyukur prosesi akad nikah dan resepsi berlangsung lancar.

Tak lupa,
Jokowi meminta mohon doa kepada masyarakat luas di tanah air agar Kahiyang dan Bobby dapat selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.
Serta berhasil membangun sebuah keluarga yang baru.

Tak cuma pejabat negara,
Masyarakat sekitar hingga tukang becak turut kecipratan berkah dalam peristiwa penuh kebahagiaan ini.
Semua bersuka cita dan mengirimkan doa yang baik untuk kedua mempelai.

Beda kisah pernikahan puteri Jokowi, beda pula cerita saat Presiden Soekarno menikahkan puterinya.

Nyaris tak ada kebahagiaan di sana.

Saat itu Presiden Soekarno berada di senjakala kekuasaannya.
Setelah peristiwa G30S PKI dan Surat Perintah 11 Maret, kekuasaan berpindah ke tangan Mayjen Soeharto.

Presiden Soekarno yang semula adalah orang paling berkuasa di negeri ini tiba-tiba dipereteli kekuasaannya pelan-pelan.
Di akhir hidupnya,
Soekarno menjadi tahanan Orde Baru yang dilarang ditengok atau menemui orang lain.
Hidup terkungkung dikelilingi pengawal di Wisma Yasoo.

Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya.
Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang.

Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp 2 juta.

Dengan pengawalan ketat,
Soekarno menemui Yurike.
Wanita itu menangis melihat Soekarno.
Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak.
Sosok Soekarno kini tua dan renta karena tekanan batin.

“Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal.
Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang.
Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional,”
beber Soekarno dengan getir.

Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu.
Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.

Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra’i dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Peristiwa lain terjadi tahun 1969, saat itu Rachmawati Soekarnoputri menikah dengan Martomo Pariatman Marzuki.
Soekarno sebagai tahanan datang dengan penjagaan ketat tentara ke pernikahan itu.

Suasana sungguh mengharukan. Fatmawati, istri Soekarno menyambut suami yang lama tidak ditemuinya.
Fatmawati pun sedih melihat kondisi Soekarno yang kurus dan lemah.

Dengan kasar tentara itu mengusir Fatmawati agar tak mendekati Soekarno.
Presiden pertama ini benar-benar diperlakukan seperti narapidana.

Saat Sukmawati menikah,
Peristiwa itu terulang lagi.
Soekarno semakin lemah.
Dia bahkan harus dipapah saat naik tangga.
Soekarno menangis tersedu-sedu melihat putrinya menikah.
Hadirin pun menangis melihat Soekarno sangat tak berdaya.

Tapi tidak demikian dengan para penjaga Soekarno.
Tanpa belas kasihan mereka mendorong Soekarno masuk mobil saat jam kunjungan berakhir.

Saat Soekarno hendak melambaikan tangan, para tentara itu menarik tangan Soekarno dengan kasar.

Dalam kondisi terasing dan kesepian itulah Presiden Soekarno meninggal dunia tanggal 21 Juni 1970.

–. Pernikahan anak kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) Kahiyang Ayu dan Bobby Alif Nasution disebut mempertontonkan simbol politik yang kental di dalamnya.

Pernikahan yang digelar di Graha Saba Buana, Solo, Jawa Tengah, Rabu (8/11) tersebut ‘menghadirkan’ sejumlah simbol politik.

Apalagi, menjelang pemilihan presiden tahun 2019, sebagai ajang untuk menguatkan posisi Jokowi dalam Pilpres tahun 2019.

SIMBOL POLITIK DARI JOKOWI SAAT PROSESI AKAD NIKAH.

­čôî Dalam Akad Nikah,
Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi saksi dari mempelai perempuan.

­čôî Sementara,
Menko Perekonomian Darmin Nasution menjadi saksi dari mempelai pria.

Simbol politik terlihat kala ada nama Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin

dan nama mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menjadi pendamping dalam akad nikah.

 

*Keduanya dianggap sebagai perwakilan dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah untuk memberi gambaran bahwa Jokowi telah ‘merangkul’ kedua ormas*.

 

Sebelum Akad Nikah,
diawali pula oleh doa secara bergantian dari Ketua Umum PBNU Said Aqil

dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir.

 

“INI SIMBOLIS DALAM POLITIK JAWA,
ITU MENJADI PENTING UNTUK MEMPERKUAT BASIS,”.

 

RANGKUL MILITER
*Selain merangkul dua ormas Islam terbesar di tanah air, saya menilai Jokowi ingin pula merangkul kalangan militer*.

Mencontohkan,
*Kala Jokowi menunjuk nama mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Moeldoko sebagai perwakilan keluarganya memberikan sambutan dalam resepsi yang digelar pada malam hari*.

Penunjukan Moeldoko yang mewakili kalangan militer juga dinilai langkah cerdas Jokowi.
Saya menilai Moeldoko menjadi sosok segar dari kalangan militer untuk menguatkan basis kekuatannya.

Selain untuk menghindari ‘jenuh’ apabila menampilkan nama Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, penunjukan Moeldoko sebagai perwakilan keluarga sekaligus langkah tepat, sebab Moeldoko merupakan orang jawa.

Ada pula nama Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi yang mendapat tugas dalam pernikahan.
Meski,
Nama Ketua Umum PSSI itu mendapat tugas dari pihak Bobby Nasution.

 

Jokowi memilih Moeldoko mewakili keluarganya dalam resepsi merupakan sebuah kode keras dan membuktikan bahwa ada keistimewaan hubungan antara Jokowi dengan Moeldoko.

Jokowi ingin meminang Moeldoko untuk memperkuat pemerintahan.

Nama Ketua Umum HKTI itu dapat menghadapi isu-isu tertentu karena memiliki latar belakang militer apalagi mantan Panglima TNI.

“Sosok Moeldoko mungkin diharapkan bisa memperkuat Istana dalam menghadapi isu toleransi dan keberagaman yang belakangan jadi mainan politik pihak tertentu.
Bisa saja Moeldoko mengisi salah satu pos kementerian atau memimpin lembaga baru.
Saya memperkirakan kemungkinan memimpin kementerian”.

 

TAMU UNDANGAN
*Selain simbol politik dari sejumlah tokoh yang mendapat ‘peran’ dalam pernikahan, saya menilai tamu yang diundang oleh Jokowi juga sebagai sebuah simbol*.

Saya melihat langkah Jokowi yang mengundang tamu dari pelbagai lapisan.
Mulai dari tokoh politik, kalangan militer, polisi, artis, relawan hingga kalangan warga biasa.

Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi memberi simbol sebagai sosok yang diterima mau pun dapat merangkul seluruh kalangan.

 

“*Ini menegaskan bahwa kemarin itu untuk penguatan politik*.
*Secara simbolik Jokowi diterima dari bagian semua lapisan, dari lapisan yang bawah sampai atas*,”.

(Rn)