Kategori
Artikel

Premanisme yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa belakangan ini mengejutkan banyak pihak

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Premanisme yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa belakangan ini mengejutkan banyak pihak. Hampir semua media menyajikan liputan berseri.

Hukum rimba dipertontonkan dengan sangat nyata. Apa pun penyebabnya, peristiwa itu memberi pelajaran penting. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah dapat menimbulkan dampak yang sedemikian buruk. Persoalan hidup yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan damai dapat berujung pada hilangnyanyawa. Semua orang pasti merasakan amarah dengan segala manifestasinya. Manusiawi memang. Kabar baiknya, tidak sedikit orang yang mampu mengendalikan diri, tidak melampiaskan amarah baik ekspresi verbal maupun tindakan agresif yang merugikan sesama. Manakala ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, pribadi yang telah sanggup mengelola emosi cenderung memilih cara cara damai, nirkekerasan, dalam menyelesaikan setiap persoalan kehidupan. Cara demikian bukan saja lebih konstruktif, melainkan juga berkeadaban.

Latihan mengelola Marah ialah perasaan jengkel, ketidaksenangan, atau permusuhan yang kuat terhadap provokasi, sakit hati, atau ancaman. Orang yang sedang marah akan mengalami efek fi sik, seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah, serta kadar adrenalin dan noradrenalin. Ada pendapat, kemarahan merupakan emosi yang memicu bagian dari respons melawan (fi ght) atau kabur (flight) ketika orang menghadapi situasi kritis. Sebuah mekanisme pertahanan diri alami.

Kemarahan dapat memiliki banyak konsekuensi baik fisik maupun mental. Penampakan kemarahan dapat ditemukan pada ekspresi wajah, bahasa tubuh, respons fi siologis, dan ketika seseorang bertindak agresif. Psikolog menunjukkan orang yang marah sering salah bertindak karena kemarahan menyebabkan hilangnya kapasitas self-monitoring dan objective observability. Kesulitan memindai diri sendiri dan orang lain secara objektif. (Novaco, 2000).

Kemampuan untuk mengendalikan amarah dapat dilatih. Ada beberapa langkah yang mungkin dapat dicoba.

Pertama, lakukan relaksasi. Begitu menyadari ada perasaan yang tidak enak di dalam hati, tarik napas panjang. Biasanya orang yang sedang marah itu napasnya pendek-pendek dan tidak teratur. Maka itu, dapat dilawan dengan mengatur napas yang panjang. Dengan menarik napas dalam-dalam, agak sedikit panjang, apa yang biasanya terjadi saat marah dapat diulur. Time out, menyingkir sementara waktu dari situasi atau seseorang yang membuat marah dapat menjadi alternatif kedua. Biasanya amarah ditujukan kepada objek tertentu. Jika seseorang marah kepada pasangannya, rasa marah itu akan muncul ketika menemukan sasarannya.

Amarah akan mereda manakala orang itu tidak bertemu dengan pasangannya atau dengan sengaja berusaha tidak menemuinya sementara waktu. Kadang time out menjadi penting agar masalah tidak semakin meruncing.

Cara ketiga dapat dilakukan dengan rethink (Lubis, 2012). Ini bukan berarti memikirkan ulang. Kata tersebut sebuah akronim dari; recognize, kenali apa yang membuat marah, di bagian mana perasaan menjadi sangat sensitif dan mudah tersinggung. Kapan perasaan marah itu muncul, kepada siapa marah. Empati, mencoba memahami dan mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Think, memikirkan secara lebih kritis, apakah perlu marah dengan mengucapkan kata kasar atau mengumpat?

Adakah alternatif lain dengan mengatakan sesuatu dengan lebih sopan? Hear, mendengarkan orang lain untuk mencari masukan, pertimbangan, atau perspektif yang berbeda. Kebiasaan mendengarkan dari pandangan yang beragam sangat membantu upaya belajar ‘menerima’ berbedaan. Integrate, jujur pada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya menjadi penyebab amarah.

Pisahkan antara pelaku dan perilaku. Lebih baik fokus bukan pada orangnya, melainkan pada perilakunya. Banyak orang salah bersikap, marah yang seharusnya ditujukan kepada perilaku yang tidak benar, beralih kepada personal. Jika ini yang terjadi, masalah apa pun kemudian ditarik ke ranah personal. Notice, memperhatikan tanda-tanda fisik dan mental ketika marah. Memperhatikan tanda-tanda dimaksud sangat membantu individu mengelola kemarahan sebelum naik ke level yang lebih tinggi.Kemarahan lebih mudah dikontrol ketika masih berkadar rendah.

Pada akhirnya, keep the problem at present and proportional. Persoalan yang dialami ialah persoalan yang terjadi saat ini. Karenanya, jangan membiasakan diri selalu mengaitngaitkan persoalan sekarang dengan persoalan pada masa lalu.

Mengungkit-ungkit problem masa lalu justru dapat memperparah emosi. Forgive not forget Orang yang sehat mental bersedia memaafkan orang lain dan diri sendiri. Bagi sebagian orang, memaafkan diri sendiri lebih sulit ketimbang memaafkan orang lain. Apalagi, jika yang bersangkut an memiliki masa lalu yang kurang baik. Sejarah itu akan menarik mundur hampir semua yang mirip dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Ini salah satu penyebab mengapa individu kesulitan memaafkan diri dan move on, bergerak ke depan melakukan hal-hal baru yang lebih positif. Ada satu konsep yang disarankan agar orang lebih mudah mengelola dinamika emosi, yaitu memahami batas diri, mark our boundary.

Mengetahui batas antara circle of infl uence (lingkaran pengaruh) dan circle of concern (lingkaran keprihatinan). Lingkaran pengaruh ialah lingkaran atau daerah yang berada dalam kendali kita. Pada lingkaran ini, kontrol sepenuhnya ada pada individu.

Sementara itu, circle of concern merupakan daerah yang mana kita hanya bisa ikut prihatin, berharap, dan tidak dapat mengendalikannya. Dengan demikian, langkah bijak yang dapat dilakukan ialah berlatih untuk mengetahui tapal batas otoritas. Daerah mana yang dapat dikontrol, sesuatu yang sanggup kita pengaruhi, dan daerah mana yang tidak dapat dikontrol.

Pada posisi kedua, circle of concern, orang harus rela melepaskannya. Belajar menerima dan menghargai apa pun pikiran dan perasaan orang lain meski berseberangan. Di sini, orang dengan kemampuan empati tinggi lebih mudah melakukannya. Mereka terbiasa berada pada ‘sepatu’ orang lain. Langkah selanjutnya merupakan eliminate emotional attachment. Melepas ikatan emosional yang terlalu kuat pada sesuatu atau seseorang. Ikatan emosional demikian sering kali menyebabkan yang bersangkutan sulit untuk bersikap objektif. Selalu mendukung orang yang disukai dan membenci apa pun yang dilakukan orang yang tidak menjadi preferensinya. Oleh karenanya, ialah bijak jika merasa senang terhadap sesuatu jangan berlebihan. Demikian halnya manakala membenci, jangan keterlaluan.

Semua perlu dilakukan dalam takaran yang wajar.
Memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan mengganti sakit hati dengan ampunan suci.

@drr