PIALA DUNIA sudah 22 kali digelar.

 

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA — PIALA DUNIA
sudah 22 kali digelar.

–. Sepanjang 88 tahun perjalanannya begitu banyak cerita yang mewarnai.

Kita sebut misalnya final Piala Dunia 1966 saat tuan rumah Inggris bertemu Jerman Barat di Wembley.

Gol ketiga Inggris yang dicetak Geoff Hurst saat itu masih menjadi kontroversi apakah sudah melewati garis gawang sebelum memantul ke luar.

Namun wasit asal Swiss, Gottfried Dienst, dan penjaga garis Tofiq Bahramov menunjuk tangan ke titik tengah bahwa telah terjadi gol.

Dua puluh tahun kemudian, giliran Inggris yang harus menelan pil pahit.

Pada perempat final Piala Dunia 1986, Diego Maradona memang sedang berada dalam puncak kariernya.

Namun gol yang diciptakannya ke gawang Peter Shilton jelas-jelas tidak sah, karena Maradona menggunakan tangan untuk memenangi perebutan bola atas.

Dengan tubuh lebih pendek memang tidak masuk akal bila Maradona bisa melompat lebih tinggi dari Shilton, apalagi kiper Inggris itu boleh menggunakan tangan untuk menangkap bola.

Namun Inggris tidak bisa berbuat apa-apa ketika wasit Ali bin Nasser dari Tunisia menganggap gol yang dikatakan Maradona sebagai
‘gol tangan Tuhan’
itu sah.

Delapan tahun lalu di Afrika Selatan, Inggris lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit.

Tendangan voli Frank Lampard tidak mampu ditepis kiper Jerman Manuel Neuer.

Dalam tayangan ulang terlihat jelas sudah melewati garis gawang Jerman sebelum memantul kembali ke luar gawang.

Namun wasit asal Uruguay, Jorge Larrionda, menganggap belum terjadi gol dan Inggris harus tersingkir 1-4 di perdelapan final.

Bagi para pecinta sepak bola, semua kontroversi itu kemudian menjadi semacam mitos.

Kontroversi dianggap sebagai bagian dari misteri sepak bola.

Legenda seperti Franz Beckenbauer dan Michel Platini pun menganggap kesalahan wasit dalam mengambil keputusan merupakan sesuatu yang manusiawi.

Kesalahan itu merupakan bagian dari permainan sepak bola sehingga tidak perlu ada intervensi teknologi dalam sepak bola.

Namun FIFA berpendapat sepak bola harus mengikuti perkembangan teknologi.

Keterbukaan yang ditopang oleh perkembangan teknologi, tidak memungkinkan lagi kita untuk bersembunyi.

Dengan 24 kamera yang dipasang pada setiap stadion, semua kejadian di seluruh sudut lapangan tidak mungkin ada yang tidak terpantau.

Penggunaan teknologi dianggap tidak mungkin bisa dicegah, apalagi di tengah kampanye FIFA untuk menegakkan fair play.

Ke depan tim pemenang haruslah tim yang benar-benar terbaik.

Mereka bukan hanya harus ditopang kemampuan teknik yang sempurna, organisasi permainan yang rapi, kemampuan fisik yang prima, tetapi kemenangan itu juga harus merupakan hasil dari permainan yang fair.

Untuk itulah di Piala Dunia 2018, bukan hanya empat wasit yang bertugas di lapangan, melainkan ada empat lagi yang memantau dari belakang layar televisi.

Setiap ada kejadian yang tidak terpantau oleh wasit, wasit di belakang layar televisi segera memberitahukan.

Bahkan untuk tendangan yang membentur mistar, apakah sudah melewati garis gawang atau belum, langsung diteruskan ke jam tangan wasit.

Karena itu, ketika tendangan keras penyerang Uruguay Edinson Cavani ke gawang Mesir membentur mistar dan memantul keluar, wasit asal Belanda Bjorn Kuipers tidak mensahkan sebagai gol.

Sebaliknya tendangan gelandang Prancis Paul Pogba ke gawang Australia dinyatakan wasit asal Uruguay, Andres Cunha, gol karena video assistant referee (VAR) menyatakan bola sudah melewati garis gawang sebelum memantul keluar.

Penggunaan VAR yang baru pertama kali di Piala Dunia juga memancing kontroversi.

Memang VAR benar untuk memberitahukan terjadinya pelanggaran bek Australia Joshua Risdon kepada penyerang Prancis Antoine Griezmann di kotak penalti.

Namun ketika penyerang Argentina Cristian Pavon dijatuhkan di kotak penalti oleh bek Eslandia, wasit asal Polandia Szymon Marciniak tidak mencoba melihat rekaman VAR.

Memang penerapan VAR masih membutuhkan waktu untuk bisa berjalan mulus.

Terutama untuk menentukan insiden-insiden seperti apa yang memerlukan pemantau lewat VAR.

Proses untuk melihat VAR juga membutuhkan waktu, sehingga ketika bola masih dalam permainan wasit terpaksa menghentikan terlebih dahulu.

ūüďß

Inilah yang dulu dianggap orang seperti Platini dan Beckenbauer merusak ritme permainan.

Padahal serangan balik dalam sepak bola bisa berlangsung begitu cepat sampai menghasilkan gol.

Sepak bola berbeda dengan tenis, voli, basket, atau bisbol yang lebih dulu menggunakan VAR.

Permintaan untuk melakukan review bisa dilakukan cepat dan keputusan bisa diambil juga dengan cepat karena pemainnya yang tidak banyak.

Apalagi olahraga-olahraga itu banyak jeda, sehingga pemberhentian sementara permainan tidak mengganggu ritme permainan.

Kita tidak pernah akan mendapatkan pilihan yang sempurna.

Secanggih apa pun teknologi pasti ada kekurangannya.

Apalagi di belakang teknologi itu ada manusia yang harus menerjemahkannya.

Tim teknik dan riset FIFA tentu akan mengevaluasi penerapan VAR ini.

Mereka akan merekomendasikan apa saja yang perlu disesuaikan agar tujuan untuk menegaskan fair play tidak mengganggu keindahan sepak bola itu sendiri.

Sepak bola akan berjalan dengan segala misteri yang mewarnainya.

Misteri bahwa tidak semua pemain besar pernah merasakan nikmatnya mengangkat Piala Dunia.

Atau misteri bahwa juara bertahan harus tersingkir di babak awal.

(Rf)