Pesan Alquran kepada penegak hukum seperti Advokat, Polisi, Jaksa dan Hakim

 

 

Busirnews.com, JAKARTA. —:Pesan Alquran kepada penegak hukum seperti Advokat, Polisi, Jaksa dan Hakim.

Dalam surat An- Nisa ayat 135 Allah SWT memerintahkan hamba-Nya yang beriman menjadi penegak keadilan (hukum).
Ayat 135 itu artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Dalam tafsirnya Ibnu Katsir mengatkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin agar menegakkan keadilan, dan janganlah mereka bergeming dari keadilan itu barang sedikit pun, jangan pula mereka mundur dari menegakkan keadilan karena Allah hanya karena celaan orang-orang yang mencela, jangan pula mereka dipengaruhi oleh sesuatu yang membuatnya berpaling dari keadilan.

“Hendaklah mereka saling membantu, bergotong royong, saling mendukung dan tolong-menolong demi keadilan,” kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:

{شُهَدَاءَ لِلَّهِ}

“Menjadi saksi karena Allah.”
(An-Nisa: 135)

Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

وَأَقِيمُوا الشَّهادَةَ لِلَّهِ

“Dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (At-Thalaq: 2)

Maksudnya, tunaikanlah kesaksian itu karena Allah.
Maka bila kesaksian itu ditegakkan karena Allah, barulah kesaksian itu dikatakan benar, adil, dan hak; serta bersih dari penyimpangan, perubahan, dan kepalsuan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ}

“Biarpun terhadap diri kalian sendiri.” (An-Nisa: 135)
Dengan kata lain, tegakkanlah persaksian itu secara benar, sekalipun bahayanya menimpa diri sendiri. Apabila kamu ditanya mengenai suatu perkara, katakanlah yang sebenarnya, sekalipun mudaratnya kembali kepada dirimu sendiri.
Karena sesungguhnya Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap perkara yang sempit bagi orang yang taat kepada-Nya.

Menurut peraturan perundang-undang yang dikenal sebagai penegak keadilan atau hukum ada pada profesi advokat, Polisi dan Jaksa.
Dalam ilmu sosial dikenal dengan istilah empat pilar dalam penegakan hukum itu hakim, jaksa, polisi dan advokat.

Pasal 5 ayat (1) Undang-undang no. 18 tahun 2003 tentang Advokat menyebutkan
“Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan”,

Pasal 2 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia :
“Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.”

Mengacu pada Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 yang menggantikan UU No. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan R.I., Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut untuk lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum, penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

 

Dalam Undang-undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, didefinisikan, pasal 1 angka 5
“hakim adalah pada mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradian agama, peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada peradialn khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut. Peranan hakim menjadi tugas utama tentunya menegakan hukum dan untuk memimpin administrasi peradilan secara independen dan imparsial.”

(*

Haus kekuasaan menumbuhkan sifat munafik dalam hati.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya agar tidak haus dengan kekuasaan dan harta agar tidak menjadi orang munafik.
Karena dua hal tersebut dapat membahayakan diri dan orang lain.

Peringatan tersebut disampaikan Nabi melalui sabdanya.

“Gila kedudukan dan harta itu menumbuhkan sifat munafik dalam hati. Orang yang gila kedudukan tidak ubahnya seperti air yang dapat menumbuhkan sayuran.”

Nabi Muhammad bersabda.
“Dua ekor serigala buas masuk di kandang domba tidak lebih berbahaya daripada gila kedudukan dan harta dalam keyakinan agama seorang muslim.”

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Munqizh Min Al-Dhalal yang diterjemaahkan KH. R. Abdullah Bin Nuh dengan judul ‘Tafakur Sesaat Lebih Baik Daripada Ibadah Setahun’ mengatakan, sifat gila kedudukan dan harta ini takkan dapat dihilangkan hingga ke akar-akarnya kecuali dengan uzlah.
Yakni membebaskan diri dari segala yang akan mempengaruhinya.
Orang yang berpengetahuan seharusnya sudah waspada terhadap ciri-ciri yang tersembunyi di dalam hatinya.
Ia juga harus pula pandai mencari jalan keluarnya.
Yang demikian inilah yang seharusnya dilakukan seorang alim yang benar-benar bertakwa.
Imam Ghazali mengatakan, bagi orang-orang seperti kita ini, harus diarahkan untuk memperkuat iman pada hari kemudian, pada hari perhitungan.
Menurut Imam Ghazali, andaikata keadaan kita ini diketahui oleh kaum Salihin leluhur kita, pastikanlah mereka mengira kita tidak lagi beriman terhadap hari perhitungan.

Mengapa?
Karena perbuatan kita memang sudah seperti perbuatan orang yang tak beriman lagi.
Orang yang menginginkan sesuatu, tentu ia akan berusaha mencapainya.

Kita sudah tahu, bahwa untuk menjauhi api neraka, kita harus meninggalkan yang syubhat dan haram;
Harus menjauhi segala macam maksiat, bukan dengan berkecimpung di dalamnya.
Kita mengetahui pula, bahwa surga itu dapat dicapai dengan sering melakukan nawafil tetapi sebaliknya, taat fardhu malah kita lalaikan.

Kalau begitu, pengetahuan kita itu berarti tidak menghasilkan buah.
Sebaliknya, kebanyakan orang malah menjadi semakin gila harta dan kedudukan.
Mereka sudah mencontohkan kita, mereka pikir, kalau benar perbuatan demikian itu jahat atau mungkin belum akan melakukannya.
Kalau dosa kita hanya sampai dibawa mati bila ajal kita sudah sampai seperti pada orang awam.
Namun, persoalan kita tentu lebih sulit lagi dan besar benar bahaya yang akan kita hadapi.

Semoga Tuhan memperbaiki dan memberikan Taufik untuk kita bertobat sebelum ajal tiba.
Allah maha pengasih dan maha penyayang.

 

@garsantara