Perjumpaan Joko Widodo Dan Prabowo Subianto Sangat Layak Diapresiasi

Oleh: Dhedy Rochaedi Razak

Busurnews. Com JAKARTA —

Bak oasis di tengah musim kemarau panjang, perjumpaan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sangat layak diapresiasi, dimaknai dan ditindaklanjuti seluruh pihak, baik elite maupun khalayak luas.

Kedua tokoh yang bersaing dalam Pilpres 2019 itu bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7).

Ini ialah pertemuan penting guna menurunkan tensi politik yang mengalami titik didih di hampir seluruh tahapan pemilu yang dilalui.

Perjumpaan kedua tokoh sentral di Pilpres 2019 dan 2014 ini diharapkan banyak pihak menjadi titik awal untuk sama-sama mengembangkan sikap saling menghargai (respect), menumbuhkan niat baik (good will) untuk merajut ulang persatuan yang sempat terkoyak, sekaligus mulai menata pemahaman bersama
(mutual understanding)

Di antara warga bangsa.

Menarik membaca tiga hal dari perjumpaan tersebut dari perspektif komunikasi politik, yakni konteks, isi pesan (content of message), serta dampak yang mungkin timbul setelah perjumpaan digelar.

Pilihan untuk berjumpa di area publik, tepatnya moda transportasi publik mass rapid transit atau moda raya terpadu (MRT) menjadi pilihan cerdas sekaligus punya wow effect!

Terutama jika melihat dari sisi kepentingan publisitas momentum perjumpaan, dan strategi meresonansikan pesan.

Bagaimana pun perjumpaan Jokowi dan Prabowo harus dipahami sebagai panggung pertunjukan komunikasi politik yang menghadirkan sikap, perilaku, dan pesan saat ini dan ke masa depan sehingga membentuk narasi yang akan dimaknai, dipahami sekaligus memersuasi khalayak luas.

Hampir seluruh ilmuwan komunikasi politik bersepakat bahwa tindakan komunikasi aktor sudah pasti direncanakan.

Danton dan Woodward dalam bukunya

Ethical Dimensions of Political Communication (1991),

Menyifati komunikasi politik dengan istilah The intentionality of political communication.

Hal ini bermakna selalu terdapat kesengajaan dalam setiap peristiwa komunikasi politik.

Senada dengan asumsi tersebut, Brian McNair dalam bukunya

An Introduction to Political Communication (2011)

Menyebut komunikasi politik sebagai purposeful communication about politics.

Hal ini, membangun asumsi akademik, bahwa komunikasi politik itu punya karakter sengaja atau terarah.

(Rn)