Kategori
Artikel

Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (KUDATULI) merupakan skenario rekayasa politik Orde Baru untuk membungkam demokrasi arus bawah dengan kekerasan.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA –: Bahwa peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (KUDATULI) merupakan skenario rekayasa politik Orde Baru untuk membungkam demokrasi arus bawah dengan kekerasan.

Dalam peringatan tersebut, seluruh kader PDI Perjuangan dan masyarakat untuk mengingat dengan mendalam peristiwa perebutan paksa kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang terjadi 22 tahun silam.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri selalu berpesan untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam menyikapi peristiwa kekerasan tersebut.

Sebagai pengingat, pada tahun 1993, Megawati lewat Kongres Surabaya terpilih menjadi Ketua Umum PDI hingga periode 1998.

*Namun, terpilihnya Megawati tak mendapat restu dari pemerintah Soeharto sehingga dibuatlah PDI tandingan*.

Difasilitasi pemerintah Orde Baru, PDI tandingan menggelar kongres di Medan dan memilih Soerjadi sebagai ketua umum.

*Upaya massa PDI Soerjadi merebut kantor PDI Pro-Mega inilah yang memicu terjadinya peristiwa Kudatuli*.

*Dalam perjalanannya menghadapi Pemilu 1999, PDI Pro-Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan yang kemudian dideklarasikan pada 1 Februari 1999*.

Dalam Pemilu 1999 PDI Perjuangan mampu merebut mayoritas hati rakyat Indonesia yang rindu akan perubahan.

*Dalam kontestasi paling demokratis pasca-Orde Baru, PDI Perjuangan menang dengan 33 persen suara*.

“Rakyat menghendaki PDI Perjuangan untuk menang,”.

*Harus selalu diingat karena sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia*.

(Rf)