Percaya kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com JAKARTA. — Percaya kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman

Salah satu rukun iman yang wajib diimani umat Islam adalah percaya terhadap hari akhir atau kiamat.
Iman kepada hari akhir ini pun memiliki banyak manfaat.

Pertama, orang yang beriman kepada hari akhir akan mendapatkan hidayah, pahala yang besar, serta rezeki yang melimpah dan kemakmuran bagi keluarganya.

Kedua, orang yang beriman kepada hari akhir juga akan rajin mengerjakan amal saleh dan meningkatkannya sesuai dengan syariat. Karena, ia sadar bahwa semua perbuatan manusia akan dibalas di hari akhir kelak.

Ketiga, orang yang beriman kepada hari akhir juga akan waspada terhadap perbuatan dosa. Dia akan taat terhadap syariat Islam dan bertobat dari perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Karena, dia pasti takut terhadap azab Allah di akhirat.

Keempat, orang yang beriman kepada hari akhir juga akan mendapatkan kenyamanan yang telah dilewatkan di dunia, dan akan mendapatkan pahala yang besar di akhirat.

Kelima, Allah akan membangkitkan kembali hamba-Nya yang mati di hari akhir kelak. Karena itu, orang yang beriman kepada hari akhir akan berdoa kepada Allah agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah, seperti doa Nabi Yusuf dalam Alquran:
تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ”

Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”
(QS Yusuf 101).

Orang yang beriman kepada hari akhir juga akan selalu waspada melakukan kesalahan di dunia, sehingga mereka tidak meninggal dalam keadaan buruk dan masuk neraka jahanam. Dalam Alquran dijelaskan,

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْ ۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا ۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?”

Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS An Nisa 97).

Keenam, orang yang beriman kepada hari akhir juga akan memperhatikan masalah siksa kubur dan alam barzah. Karena itu, mereka akan tabah menghadapi cobaan, bertakwa kepada Allah, menegakkan syariat, dan mengikuti ajaran Rasulullah SWT.

Ketujuh, orang yang beriman kepada hari akhir juga akan mencintai apa yang dicintai Allah SWT, baik itu orang, tempat, perkataan, perbuatan, maupun kondisi.
Dengan demikian, dia pun akan melakukan amal saleh dan mendapatkan pahala di akhirat.
Selain itu, dia juga akan menghindari apapaun yang dibenci Allah SWT
(*

Eksitensi kaum munafik selalu membahayakan umat Islam sepanjang sejarah

Di dunia ini, sebagian orang masuk ke dalam golongan kaum munafik, ada yang menampakkan dan menyembunyikan sifat tersbeut.
Orang munafik telah banyak dijelaskan dalam Alquran, sunnah dan kitab-kitab ulama. Namun keberadaan kaum ini mengandung hikmah di dalamnya
Orang munafik terus mengejar ambisi mereka. Kaum tersebut bersama-sama memiliki tujuan untuk melawan orang yang beriman. Allah SWT berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan
(QS Al Anam 112).

Berikut hikmah keberadaan orang-orang munafik:
Pertama, keberadaan orang munafik justru membantu memurnikan jiwa orang yang beriman, senantiasa sabar dalam menghadapi musibah, sehingga mampu keluar dari kesulitan dengan iman yang lebih kuat dan jiwa yang lebih yakin.

Kedua, Kehadiran munafik untuk membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, serta yang mukmin dengan munafik,
فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (QS Ar Rad 17).

Ketiga, Orang yang beriman akan kembali kepada Rabb-nya, mereka mengetahui bahwa dia tidak akan dapat keluar dari cobaan ini kalau bukan karena pertolongan Allah SWT.
Dan ketahuilah segala sesuatu yang telah Allah SWT tetapkan pasti ada hikmah di dalamnya, dan Dia tidak mendatangkan sesuatu kecuali di dalamnya ada maksud dan tujuan.
(*

Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang bertakwa

Allah SWT memiliki sifat Al-Mahabbah (cinta), yakni Allah mencintai hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Namun, cinta-Nya tidak seperti cintanya makhluk dan cinta Allah itu telah dibuktikan di dalam kitab dan hadits.
Setiap umat Muslim tentu mengharapkan keridhaan serta kasih sayang dari Allah.
Karena, sejatinya tidak ada kebahagiaan yang dicari setiap hamba selain dicintai Sang Pencipta-Nya.

Pertama, yaitu diterima di bumi
Saat dicinta Allah SWT, maka seorang hamba akan mendapatkan penerimaan di muka bumi ini. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

إذا أحبَّ الله العبدَ نادى جبريل: إن الله يحبُّ فلانًا فأحبِبْه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إن الله يحب فلانًا فأحِبُّوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyuruh Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia, maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit, ”Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.”
(HR Al Bukhari).

Kedua, diberikan pemahaman dan pengamalan agama
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan agama kepadanya. Sehingga, dia pun akan mudah melakukan perbuatan baik dan jauh dari perbuatan dosa. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ

”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan kepada yang tidak dicintai, namun tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Maka, barangsiapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya.” (HR Ahmad).
Allah akan mengisi lidah orang yang dicintainya dengan dzikir dan mengisi anggota tubuhnya dengan ketaatan, menghiburnya, serta menghindarkan dari kelalaian.
Dengan demikian, hamba yang dicintainya tersebut akan selalu terhubung dengan Allah.

Ketiga, memenuhi segala permintaannya
Jika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka Allah akan memenuhi semua permintaannya dan akan melindunginya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

“Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali- Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah Hamba-Ku mendekat kepada- Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan Ibadah-Ibadah Sunnah hingga Aku mencintainya.
Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (HR Al Bukhari).

Keempat, memberikan cobaan untuk menyucikannya dari dosa dan perbuatan buruk. Jika Allah mencintai hambanya, maka Allah akan memberikan cobaan atau ujian kepadanya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda:
إن عِظَم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحَبَّ قومًا ابتلاهم، فمَن رضي فله الرضا، ومَن سخِط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya bala, dan apabila Allah SWT mencintai suatu kaum Dia memberi cobaan kepada mereka. Maka siapa yang ridha maka baginya ridha dan siapa yang marah maka baginya kemarahan.” ( HR Bukhari)

Kelima, dibukakan pintu amal saleh sebelum meninggal

إذا أراد الله بعبدٍ خيرًا، استعمله قبل موته، فسأل رجلٌ من القوم: ما استعمله؟ قال: يهديه الله تبارك وتعالى إلى العمل الصالح قبل موته، ثم يقبضه عليه

Artinya: “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan dia beramal, lalu dikatakan: apakah maksud dijadikan beramal itu? Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan saleh sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”
(HR Ahmad dan Al Hakim).

 

@garsantara