Kategori
Artikel

PERAN MEDIA SOSIAL BAKAL MENINGKAT SEBAGAI MEDIUM OPINI PUBLIK.

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA –:PERAN MEDIA SOSIAL BAKAL MENINGKAT SEBAGAI MEDIUM OPINI PUBLIK.

–. Proses politik dinilai akan mengalami perubahan pada pilkada serentak pilkada 2018.

Penggunaan media sosial untuk medium opini publik ini salah satunya dilakukan oleh Partai Golkar.

Partai besutan Airlangga Hartarto itu menyampaikan pesan lewat video soal tiga program rakyat Golkar.

Video ini beredar luas dan berantai di jejaring aplikasi WhatsApp Messenger dan Youtube.

Pemanfaatan media sosial itu sebagai langkah maju dan jeli dari Airlangga.

Saat partai lain masih ‘tidur’,
Golkar sudah bergerak selangkah lebih maju dengan menyampaikan ke publik program nasionalnya untuk pilkada.

“Kita belum tahu apa program nasional partai lain menghadapi pilkada.
Tapi kita tahu program nasional Golkar”.-

Tiga program rakyat Golkar ditampilkan dengan teknik zaman now atau speed drawing.
Selang seling antara pidato Airlangga dan animasi.

Dalam video itu,
Airlangga menyampaikan rakyat datang ke TPS tak sekedar meramaikan pesta demokrasi.

Tapi rakyat datang itu inginkan hidupnya berubah.

Golkar meminta semua kadernya dari Aceh sampai Papua menyebarkan program nasional Golkar tiga program rakyat yakni
sembako terjangkau,
perbanyak lapangan kerja, dan
rumah terjangkau.

Pelaksaaan program ini disesuaikan dengan kondisi masing masing wilayah.

“Sejak datangnya sosial media, medan politik tak lagi sama.
Tokoh dan partai yang jaya adalah yang memaksimalkan sosial media,”.

–. Tahun politik semestinya tidak hanya membicarakan para calon pemimpin, tetapi juga membahas pilar-pilar lain yang merupakan KONSENSUS SOSIAL.

Negara atau kekuasaan hanya satu dari tiga pilar yang juga mencakup bisnis dan masyarakat.

“*Yang namanya tahun politik jangan hanya ngomong siapa yang gubernur, wali kota, anggota DPR, jadi pemimpin*.

*Kepala negara akan semakin beragam apabila negaranya menjalankan fungsi yang paling dasar*”.

*Pancasila bukan memandang siapa pemimpin negara, tetapi bagaimana negara menjalankan fungsi mendasar*.

Kita pun mengajak agar pemilihan pemimpin juga menjalin permufakatan bersama.

“Mari kita ngomong secara lengkap, bagaimana bisnis ditata masyarakat, warga didik supaya konsesus sosial benar-benar dilaksanakan”.

*Masyarakat sepatutnya merawat ingatan akan Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, dan Proklamasi, sebagai tonggak sejarah yang menunjukkan seluruh rakyat ingin menjadi satu bangsa dan satu Tanah Air*.

Dengan begitu, bangsa Indonesia pasti bisa menghadapi tantangan apa pun.

*Pertemuan lintas agama dalam dialog kebangsaan dapat menguatkan persatuan bangsa Indonesia dalam kemajemukan*.

“*Indonesia terbentuk dan di dalam lintasan sejarah Indonesia meskipun satuan secara kita tidak selalu cerah, selalu ada unsur-unsur esktrem, ada unsur-unsur kekerasan, tetapi secara umum kita juga mendapatkan satu legacy, warisan perdamaian yang sangat luar biasa*”.-

(Rn)