Kategori
Artikel

Peradaban Islam sekedar dongeng atau perlu di rebut ?

 

Oleh : Donny Arman
Presiden Nasional Sahabat Jokowi

 

Busurnews.com,Jakarta – Berbicara tentang peradaban sangat menarik (interestable), karena ia menjadi bagian dari kehidupan umat manusia yang signifikan. Sejarah manusia penuh dengan berbagai peradaban yang silih berganti, tergantung para penguasa dan para pemimpin dunia.

Peradaban islam adalah terjemahan dari kata Arab al – hadha- rah al – islamiyah.Kata arab ini juga sering di artikan dalam bahasa indonesia dengan kebuayaan islam “kebudayaan” dalam bahasa arab adalah al-tsaqafa, di indonesia,sebagai mana juga di arab dan barat.

Peradaban Islam yang dibangun oleh kebudayan materi (madaniah) yaitu hasil karya fisik yang disyariatkan maupun yang bersifat mubah, yaitu produk ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun kebudayaan inmateri (Tsaqafah) yaitu berupa pemikiran yang berfondasikan aqidah dan syariah islam yaitu aturan beribadah dengan sang pencipta, aturan pergaulan, ilmu ekonomi, pendidikan, aturan pemerintahan, kemiliteran, aturan hukum, hingga aturan berhubungan dengan luar negeri.

Peradaban yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. adalah peradaban yang dibangun di atas pijakan pandangan dunia agama bukan materi. Islam lebih mengedepankan nilai-nilai ruhani dan kemanusiaan. Materi – termasuk teknologi – bukan tujuan utama tetapi hanya aksidental. Keberhasilan menurut Islam tidak diukur dengan perolehan materi yang banyak tetapi diukur dengan pendekatan diri kepada Allah dan memperbanyak bekal untuk hari akhir. Imam Ali as. di saat kepalanya ditebas oleh seorang Khawarij secara spontan berkata, “Demi Tuhan Ka’bah, aku telah berhasil !”. Sampainya seseorang kepada Allah Swt dan berkhidmat kepada manusia adalah prestasi yang dituntut oleh Islam. Materi sebagai materi tidak mempunyai nilai apapun di mata Islam. Materi akan berarti jika dimaknai dengan tujuan-tujuan akhirat.

Jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia telah memeluk agama hindu dan budha disamping kepercayaan nenek moyang mereka yang menganut animisme dan dinamisme. Setelah Islam masuk ke Indonesia, Islam berpengaruh besar baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi,maupun di bidang kebudayaan yang antara lain seperti di bawah ini.

Nabi Muhammad Saw. dengan peradaban yang berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan berhasil mengalahkan dua kekuatan yang kuat; Persia dan Romawi yang membangun peradaban dengan kekuatan materi. Meskipun pada perkembangan berikutnya para pemimpin Islam, khususnya khilafah Abbasiyyah, lebih concern pada pembangunan materi bukan pengembangan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

sejarah Islam di Indonesia tidak memunculkan “periodisasi keemasan” peradaban Islam dalam kurun waktu abad 16 sampai 18 M, karena periodisasi yang muncul adalah masa “prakolonialis”. Padahal pada masa ini tumbuh peradaban Islam yang setaraf dengan sejarah peradaban Islam di Timur Tengah masa Daulah Abassiyah. Bukti-bukti yang menunjukan lahirnya peradaban Islam di Indonesia adalah dengan munculnya para Ulama dan Intelektual Islam di seluruh penjuru Nusantara. Mereka diantaranya :
– Syeikh Hamzah al-Fansuri (Sasterawan sufi agung)
– Syeikh Nuruddin ar-Raniri (Ulama ahli debat,tersohor di Aceh)
– Habib Husein al-Qadri (Penyebar Islam Kalimantan Barat)
– Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Pengarang Sabil al-Muhtadin)
– Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari (Ulama sufi dunia Melayu)
– Syarif Abdur Rahman al-Qadri (Sultan pertama kerajaan Pontianak)
– Syeikh Abdul Rahman Minangkabau (Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah)
– Mufti Jamaluddin al-Banjari (Ahli undang-undang Kerajaan Banjar)
– Ahmad Khathib Sambas (Mursyid Tariqat Qadiriyah)
– Syeikh Nawawi al-Bantani (Digelar Imam Nawawi kedua)
– Muhammad Khalil al-Maduri (Guru ulama Jawa, Madura)
– Saiyid Utsman Betawi (Mufti paling masyhur)
– Tuanku Kisa-i al-Minankabawi lahirkan tokoh besar Hamka
– Raja Muhammad Sa’id – Cendekiawan Istana Riau
– dll

Sayang sedikit sekali pengetahuan tentang mereka, padahal mereka telah memberikan andil besar dalam peradaban Islam di Indonesia dengan karya-karya kitab yang mereka tulis. Tulisan tangan asli para ulama yang disebut manuskrip, merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di kawasan ini. DR H Uka Tjandrasasmita, seorang Arkeolog Islam menyatakan ; Di Aceh, pada abad 16–17 terdapat cukup banyak penulis manuskrip. Misalnya, Hamzah Fansuri, yang dikenal sebagai tokoh sufi ternama pada masanya. Kemudian ada Syekh Nuruddin ar-Raniri alias Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Ia dikenal sebagai ulama yang juga bertugas menjadi Qadhi al-Malik al-Adil dan Mufti Muaddam di Kesultanan Aceh pada kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani abad 16. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul ”Bustanul Salatin.” Syeikh Abdul Rauf al-Singkili yang juga ditetapkan sebagai Mufti dan Qadhi Malik al-Adil di Kesultanan Aceh selama periode empat orang ratu, juga banyak menulis naskah-naskah keislaman.

Karya-karya mereka tidak hanya berkembang di Aceh, tapi juga berkembang seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka sampai ke Thailand Selatan. Karya-karya mereka juga mempengaruhi pemikiran dan awal peradaban Islam di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, Buton hingga Papua. Sehingga di daerah itu juga terdapat peninggalan karya ulama Aceh ini. Perkembangan selanjutnya, memunculkan karya keislaman di daerah lain seperti, Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh al Banjari di Banjarmasin. Di Palembang juga ada. Di Banten ada Syekh al Bantani yang juga menulis banyak manuskrip. Semua manuskrip ini menjadi rujukan umat dan penguasa saat itu.

Berbicara tentang peradaban Islam adalah sebuah  peradaban yang besar. Peradaban islam, sebuah pembahasan yang tak luput dari khazanah ilmu keislaman. Islam sebagai pembangunan dunia baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Tanpa dukungan peradaban Islam, tentu kemajuan tak sepesat yang kita lihat seperti sekarang ini. Islam mampu mengubah dari peradaban yang Jahiliyah menjadi peradaban yang begitu dibanggakan dalam kaca mata dunia.

Kaum muslim menghasilkan peradaban Islam yang kaya, mempromosikan perpaduan dan pertukaran agama dan kebudayaan. Ini merupakan sebuah kreativitas besar generasi baru pemikir dan ilmuan terpelajar muslim baru memberikan sumbangan penting dalam filsafat, kedokteran, astronomi, optik, seni dan arsitektur. Maka disaat itu, Eropa mengalami perkembangan diberbagai bidang dari Islam.

Namun, tinggalah kita membicarakan mengenai perubahan yang terjadi pada abad sekarang. Pola transmisi kebudayaan kembali berrbalik arah ketika orang Eropa bangkit dari masa kegelapan. Menyorot ke pusat-pusat pembelajaran muslim guna memperoleh kembali warisan mereka yang hilang. Ironisnya, hingga baru-baru ini, prestasi umat Islam tidak diakui dan sangat sedikit yang menyadari peran peradaban Islam serta sumbangangsih dalam pembangunan peradaban Barat.

Semoga Indonesia dapat merebut kembali masa keemasan peradaban islam, jaman now. Wallaahu ‘aalaam bishaawab.

(Rn)