Kategori
Artikel

Pengertian kebahagiaan justru ketika orang berkemampuan memberi demi kemanusiaan

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA – Pengertian kebahagiaan justru ketika orang berkemampuan memberi demi kemanusiaan.

Terlebih seperti saat ini, akibat korona jutaan manusia sakit, ratusan ribu mati.

Ada orang yang menyumbangkan rumahnya di Klaten, Jawa Tengah. Rumah itu di pakai sebagai rumah isolasi sebelum warga yang pulang mudik masuk ke kampung halamannya.
Diberi pengertian apa pun, arus mudik tak sepenuhnya dapat dibendung.

Berdiam di kampung lebih memberi rasa aman ketimbang berdiam di rumah di perantauan tanpa kepastian, kapan pandemi berakhir.
Terlebih Lebaran telah terbayang di depan mata.

Nilai rohani meminjamkan rumah di Klaten itu tak terperikan.
Samalah tak terperikan nilai rohani US$1 miliar yang disumbangkan Jack Dorsey.
Kenapa sama tak terperikan?

Bagi yang diberi banyak, hendaklah memberi banyak.
Bagi yang diberi sedikit, bagaimana bisa memberi banyak?

Semua memang ada kepatutannya, kelayakannya, kepantasannya, yang berpijak pada pengerti an less is more, bukan more is less.

Manusia belum menjadi batu. Saban kali terjadi malapetaka besar, saban kali itu pula hati banyak orang tersentuh.

Di sini, di negeri ini, ketika terjadi tsunami Aceh, contohnya, banyak orang menyumbang seikhlasnya. Tak perlu kita tahu identitas orang itu. Orang itu pun tak mengumbar identitasnya.

Anonimitas itu juga terjadi ketika Gunung Merapi meletus. Pun sekarang, dalam derita panjang akibat korona. Ketika opini ini rampung ditulis (Sabtu, 18/4), saldo dana kemanusiaan melalui Media Group, misalnya, Rp12 miliar lebih.

Negara berkewajiban menyelamatkan rakyat. Itu keniscayaan. Dalam menyelamatkan rakyat pun tak perlu membandingkan berapa anggaran dikeluarkan Singapura, berapa digelontorkan Jepang, berapa Malaysia, berapa pula Indonesia. Kemampuan tiap negara berbeda, banyaknya penduduk yang perlu diselamatkan pun berbeda.

Tak ada negara yang bangkrut karena menyelamatkan rakyat. Yunani bangkrut bukan demi menyelamatkan rakyat dari malapetaka, melainkan terutama karena ekonomi didominasi oligarki dan pemerintah menyulap data agar negara mereka diterima menjadi anggota Uni Eropa.

Yang tidak boleh ditiru ialah keputusan Presiden AS Donald Trump menghentikan dana untuk WHO. Keputusannya itu menuai kutukan, dinilai sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Di media sosial beredar video yang isinya pengendara ojek daring mengeluh, bahkan mulai bernada marah. Mereka kehilangan penghasilan. Semua itu akibat belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah. Keadaan bertambah parah bagi mereka akibat pemberlakuan
PSBB. Physical distancing membuat mereka tidak boleh membawa orang, hanya barang.

Dalam salah satu video, seorang pengendara ojek daring mengancam, “Ente pikirin, banyak driver yang perutnya lapar….” Bagai gayung bersambut, dalam video yang lain, orang yang lain, di tempat yang lain, “Ingat lapar bisa membuat orang menjadi beringas….”

Nadiem Makarim pendiri dan pemilik Go-Jek. Apakah memberi 10% kekayaannya dapat membuat Nadiem miskin, terlebih bangkrut? Bila terlalu besar, turunkanlah separuh. Masih terlalu besar? Turunkanlah separuh lagi.
Apakah memberi 2,5% dari kekayaan bersih miliknya
membuat Nadiem kere?
Memberi berapa pun mengandung keikhlasan. Kemurahan hatinya kiranya menambah berkat baginya.

Pak Jokowi yang terhormat, yang perutnya terancam lapar bukan hanya driver ojek daring, anak buahnya Nadiem.
Jutaan anak bangsa ini, anak buah Bapak, tak punya dana cadangan untuk hidup tiga bulan.
Apalagi untuk hidup sembilan bulan; salah satu perkiraan jangka waktu global merebaknya gelombang pandemi influenza 1918, yang dikenal sebagai flu spanyol (Berapa lama pandemi itu terjadi di Hindia Belanda, bahkan tak dapat ditetapkan karena sulitnya menentukan secara tegas kapan flu spanyol itu mulai muncul di Hindia Belanda).

Bila jangka waktu seperti itu yang terjadi, hati yang berlimpah bukan hanya tak terperikan, melainkan yang hendak ditolong pun tak terkirakan.

Kiranya kita semua patuh bermasker, mencuci tangan, menjaga jarak, bekerja di rumah, dan hidup tolong-menolong agar tetangga yang isolasi mandiri terselamatkan.

Kiranya korona segera dapat kita kalahkan.
Selain hati yang memberi, untuk itu juga diperlukan
‘kemampuan untuk memandang segala sesuatu dengan sebuah jiwa yang tak terkalutkan oleh apa pun’.

@drr