Kategori
Artikel

Pengalaman 2,5 bulan percepatan penanganan virus korona atau covid-19 memberikan pelajaran berharga

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA – Pengalaman 2,5 bulan percepatan penanganan virus korona atau covid-19 memberikan pelajaran berharga tentang praktik-praktik yang harus dilakukan semua komponen bangsa dalam menghadapi wabah covid-19.

Kolaborasi pentahelix berbasis komunitas menjadi kunci kekuatan karena tidak mungkin wabah covid-19 hanya ditangani oleh pemerintah sendirian.
Setiap lapisan masyarakat mulai akademisi, dunia usaha, tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta media massa harus dilibatkan dalam upaya bersama menghadapi wabah covid-19.
Pengalaman DKI Jakarta, Bodetabek, dan Jawa Barat menunjukkan ketika kebersamaan bisa dibangun dan ada sikap seia-sekata dari semua komponen bangsa, kita bisa melakukan pengendalian penyebaran virus.

Memang proses ini tidak sekali jadi, tetapi dari perjalanan waktu akhirnya bisa dicapai sebuah pemahaman bersama.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bisa menjadi contoh lain dalam pengendalian wabah covid-19.
Tanpa harus menerapkan pembatasan sosial berskala besar, Aceh bisa melakukan pengendalian lebih baik.
Kuncinya adalah satu pandangan antarpimpinan daerah dalam mengambil langkah tindakan serta peran serta masyarakat yang diawasi langsung oleh lembaga adat syariah.
Dua minggu ke depan sebelum diambil langkah pengurangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) perlu dilakukan penguatan.
Terutama pada daerah-daerah yang menjadi episentrum baru dan grafik penularan sedang meningkat. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 perlu hadir langsung untuk menguatkan pimpinan daerah sekaligus membagikan pengalaman dua setengah bulan menangani covid-19.

Terutama cara membangun kebersamaan di antara komponen di daerah serta edukasi dan sosialisasi yang tidak boleh bosan untuk dilakukan.

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang perlu diberikan penguatan, khususnya kota Surabaya pejabat walikota lebih banyak bermanuver politik daripada kerja nyata.
Ketidakmampuan untuk mengendalikan penyebaran covid-19 akan membuat anggota masyarakat bisa jatuh sakit dan kalau terlalu banyak korban yang jatuh akan menurunkan moral seluruh bangsa.

Dua setengah bulan yang sudah kita lewati jangan dibiarkan berlalu begitu saja.
Prinsip untuk ‘menjaga yang sehat tetap sehat, yang kurang sehat dibuat menjadi sehat, dan yang sakit kita obati sampai sembuh’ harus menjadi prinsip yang dipegang oleh semua pimpinan Gugus Tugas Daerah.

Kolaborasi pentahelix berbasis komunitas harus juga dilakukan Gugus Tugas Daerah agar pemerintah daerah tidak merasa bekerja sendirian.
Langkah penguatan daerah perlu lebih gencar dilakukan karena kita harus mampu mengendalikan penyebaran covid-19.
Kondisi itu merupakan prasyarat sebelum kita menjalankan new normal atau kehidupan normal yang baru. New normal yang berbasis protokol kesehatan hanya akan bisa dilaksanakan apabila ada peran serta dari semua komponen masyarakat.
Disiplin diri dan disiplin kolektif harus selalu saling diingatkan agar kita semua selamat dari ancaman covid-19.
Ke depan masyarakat harus menjadi pengawas dari anggota masyarakat lainnya.
Mereka yang tidak menjalankan protokol kesehatan harus “dihukum” oleh masyarakat sendiri.

Gerakan ‘4 Sehat, 5 Sempurna’ yakni pakai masker, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, olahraga teratur, istirahat yang cukup, dan tidak panik, serta makan makanan bergizi, harus digulirkan.

Kita bisa belajar dari masyarakat Tiongkok yang menjijikan dengan mengubah kultur meludah di sembarang tempat, menjadi tidak meludah.
Mereka menggunakan anak-anak sekolah untuk menjadi pengingat orang tua yang meludah sembarangan.
Pesan ‘4 Sehat, 5 Sempurna’ di era covid-19 akan lebih mudah menancap di benak seluruh anggota masyarakat apabila yang mengingatkan “anak-anak” kita.

Orang pasti akan malu kalau anaknya mengingatkan dia untuk peduli kepada protokol kesehatan.
Kita sedih melihat perilaku banyak masyarakat yang menganggap enteng masalah covid-19. Mereka sama sekali tidak memedulikan keselamatan dirinya.
Padahal keharusan menggunakan masker ketika keluar rumah pertama-tama adalah untuk keselamatan dirinya.
Demikian pula dengan menjaga jarak maupun selalu mencuci dengan sabun dan air mengalir. Wali Kota New York Michael Cuomo mengatakan, penggunaan masker ketika di luar rumah juga merupakan penghormatan kepada orang lain.

Dengan menggunakan masker, kita mengurangi kemungkinan orang lain tertular oleh kita.
Sebaliknya ketika orang lain juga menggunakan masker artinya dia mengurangi kemungkinan menular kepada kita.
Rasa tanggung jawab terhadap keselamatan orang lain harus melekat pada diri semua kita.
Tidak bisa lagi kita bersikap masa bodoh, karena satu saja orang bersikap sembarangan, maka jutaan orang yang akan ikut menderita.

@drr