Kategori
Artikel

Pendidikan di Indonesia bukan perkara mudah.

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Pendidikan di Indonesia bukan perkara mudah.
Terdapat begitu banyak kompleksitas persoalan yang sulit sekali diurai.
Tak mudah untuk membangun pendidikan di masyarakat yang begitu beragam.
Kondisi geografis, demografis, dan sosial kultural yang begitu beragam membuat pembuat kebijakan harus berpikir keras dalam membangun pendidikan yang ramah dan berpihak bagi setiap anak bangsa. Meski Indonesia sudah berusia 75, masih banyak PR yang perlu diselesaikan. Imajinasi mendapatkan generasi emas di 1945 menjadi sangat sulit direalisasikan jika tidak ada pembenahan menyeluruh. Salah satu persoalan yang dilupakan, betapa negeri ini banyak melupakan atau bahkan meminggirkan gagasan baik Ki Hadjar Dewantara maupun para penggagas pendidikan seperti Willem Iskandar (pendiri Sekolah Guru Tano Bato) atau Moh Sjafei (Sekolah Kerajinan Indonesianya di Kayu Tanam). Ketiganya merupakan sosok yang begitu heroik dalam mengupayakan pendidikan bagi rakyat di era kolonial. Bahkan, berkat ketiganya, menurut Daoed Joesoef (2009), Indonesia menjadi satu-satunya bangsa yang masih dijajah tetapi sudah berani mendirikan sistem pendidikan nasionalnya sendiri, berhadapan dengan sekolah kolonial Belanda. Ketiganya merupakan pemikir dan pejuang yang sangat progresif. Relevan Jika dikondisikan dengan konteks kekinian, ide-ide Ki Hadjar Dewantara, salah satu tokoh penting pendidikan di negeri ini, misalnya masih relevan dan perlu kita kontekstualisasikan dengan kondisi saat ini. Pertama, fokus pada kritik pendidikan kolonial. Menurutnya, pengajaran bagi rakyat sangat mengecewakan dan eksklusif untuk kalangan priayi. Selain itu, mereka yang mendapat pendi dik an pun kehilangan tabiat kerak yatan. Jika dikontekskan pada momen saat ini, artinya ruang pendidikan harus inklusif dan berpihak kepada mereka yang miskin dan terping girkan, bukan pada mereka yang memiliki kapital. Ki Hadjar Dewantara mengkritik pola pendidikan yang eksklusif. Kedua, fokusnya pada perbaikan pendidikan. Ia menginginkan pendidikan berbasis pada kebudayaan dan kemasyarakatan dapat diakses setiap rakyat. Soal pendidikan vokasional (vakschool atau sekolah kepandaian), misalnya, harus ber basis budaya lokal di setiap wilayah, baik itu berbasis pertanian, pertukangan, pelayaran dan perikanan, kesenian, teknik, atau kesusastraan. Ketiga, pentingnya peran para intelektual dalam memajukan pendidikan. Ki Hadjar Dewantara menyebut kewajiban intelektual, terutama, para pemuda untuk membantu rakyat sekuat tenaga. Kaum terpelajar harus membela kepentingan rakyat dan tidak boleh terjebak kepentingan pribadi dan golongan mereka. Keempat, Taman Siswa telah berjejaring dengan pendidikan global.
Pada masa itu Taman Siswa memiliki relasi yang baik dengan Maria Montessori dan Rabindranath Tagore (dengan bertukar pelajar dengan Santiniketan). Sekolah Taman Siswa juga pernah dikunjungi Pandit Nehru. Ki Hadjar juga memiliki pikiran pentingnya pertukaran guru dan pelajar ke negara lain serta misi budaya untuk meningkatkan wawasan. Terbukti lulusan Taman Siswa melanjutkan ke India, Jepang, dan Filipina. Catatan sejarah itu menunjukkan betapa relasi dengan dunia global telah menjadi perhatian Ki Hadjar Dewantara pada masa itu. Dalam konteks kekinian, tentu, jejaring pendidikan global semakin relevan. Kelima, pentingnya posisi sekolah partikelir (swasta) dalam membangun pendidikan. Ia berpendapat sekolah-sekolah partikelir sa ngat penting mendukung pemerintah, apalagi kondisi saat itu sekolah negeri masih sangatlah terbatas. Budi pekerti Keenam, terkait dengan pendidikan agama. Ia berpandangan bahwa soal posisi pendidikan aga – ma akan terus menjadi perdebatan dan terbukti hingga saat ini. Yang paling penting ialah tiap siswa dan guru harus saling menghormati dan menjadikan pendidikan agama sebagai etik (budi pekerti). Ketujuh, pentingnya pendidikan bagi golongan minoritas. Ia berpendapat perlunya keterbukaan sekolah negeri untuk memberikan akses bagi siapa pun tanpa membedakan asal mereka. Konsekuensinya harus ada sekolah negeri untuk semua golongan baik untuk Tionghoa, Arab, Belanda, Kristen, Katolik, maupun lainnya. Pemikiran itu jelas sangat penting untuk Indonesia yang beragam. Inklusivitas pendidikan menjadi sangat penting. Jika ini terjadi, sekolah akan menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan beragam kelompok untuk saling belajar. Kedelapan, terkait dengan krusial nya penyiapan guru. Pendidikan guru sangat penting untuk menyiapkan kader-kader dan para pemimpin yang ikut membantu perjuangan mencerdaskan bangsa. Menurutnya, produksi guru harus diupayakan terus-menerus. Penyiapan guru ialah hal sentral. Guru ialah ujung tombak pendidikan di negeri ini. Operasionalisasi kebijakan pendidikan memerlukan guru tangguh, yang memiliki cara pandang maju, juga memiliki keberpihakan. Sebab itu, lembaga pendidikan dan tenaga pendidikan menjadi sangat penting dalam membangun sistem pendidikan bagi guru yang berkualitas.
Situasi sulit saat ini membuat kita memiliki ruang kontemplatif untuk kembali merenungkan arah bangsa ini.
Para pembuat kebijakan perlu kembali memikirkan visi pendidikan Indonesia masa depan.
Hal mendasar yang perlu diperhatikan, pemikiran para pendiri bangsa tentang pendidikan.
Jangan sampai kita melupakan ide-ide brilian mereka.

@drr