Kategori
Artikel

Pemerintah telah memutuskan memberi kesempatan kepada sembilan sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Pemerintah telah memutuskan memberi kesempatan kepada sembilan sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka.
Kesembilan sektor tersebut dipilih karena risiko penyebaran covid-19 rendah, tetapi memberi dampak yang besar kepada pembukaan lapangan pekerjaan dan signifikan kepada perekonomian.

Sembilan sektor itu ialah pertanian dan peternakan, perkebunan, perikanan, industri manufaktur, konstruksi, logistik, transportasi barang, pertambangan, dan perminyakan.

Pilihan pemerintah secara bertahap membuka kegiatan masyarakat produktif dan aman covid-19 merupakan langkah yang tepat.
Kita memang harus menemukan model yang tepat sebelum semua kegiatan diperbolehkan untuk bergerak lagi.
Dengan langkah bertahap ada kesempatan untuk melakukan penyesuaian, perbaikan dengan menerapkan sistem monitoring dan evaluasi.
Dashboard yang dimiliki Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memang bisa memantau penyebaran virus di seluruh Indonesia setiap hari.
Dari pengolahan data yang dilakukan setiap minggu, maka bisa diketahui perubahan status di setiap kabupaten/kota.
Pekan ini misalnya, sistem ‘Bersatu Lawan Covid-19’ mencatat perubahan 10 status kabupaten/kota dari zona hijau menjadi zona kuning.
Apabila perubahannya menuju oranye atau merah, kabupaten/kota akan kembali ditutup dan dilarang melakukan kegiatan masyarakatnya.
Ini tentunya menjadi pemacu kepada Ketua Gugus Tugas di kabupaten/kota agar selalu mengingatkan warganya untuk disiplin menerapkan protokol keamanan.

Kalau semua komponen yang ada di kabupaten/kota tidak mengindahkan protokol kesehatan, mereka semua akan kembali ke kehidupan yang penuh dengan pembatasan.

Pemberian kesempatan kepada sembilan sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka sangat baik untuk membangun harapan masyarakat dan sekaligus menyelamatkan negara ini, terutama pembukaan sektor pertanian baik itu pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan sangat berkaitan dengan ketersediaan pangan nasional.

Hasil kajian pantas membukakan kesadaran kita semua.
Pandemi covid-19 sekarang ini sangat memukul sektor pertanian.
Kalau sektor ini tidak diselamatkan, yang dipertaruhkan adalah eksistensi negara ini.

Mengapa?

Hasil produk pertanian bisa turun sampai minus 10,4% karena pembatasan orang untuk melakukan kegiatan di sektor pertanian.
Kalau sekarang kegiatan pertanian diperbolehkan untuk dilakukan kembali, dibutuhkan stimulus kepada para petani.
Dengan stimulus itu pun, produksi pertanian tidak bisa terhindarkan akan tetap turun minus 2,86%. Bagaimana dengan jumlah lapangan pekerjaan?

Jumlah orang yang bisa diserap di sektor pertanian kalau tidak dilakukan pemberian stimulus akan berkurang sampai 17,78%.
Kalau pemerintah memberikan stimulus, pengurangan daya serap tenaga kerja bisa sedikit diperbaiki, tetapi tetap terjadi penurunan sebesar 7,75%.
Yang paling dikhawatirkan ialah menurunnya daya beli petani sebab 60% penduduk Indonesia masih hidup dari sektor pertanian.

Kalau daya beli mereka menurun tajam, kemampuan konsumsi akan ikut menurun dan ini akan berdampak kepada industri lain. Untuk itulah pemerintah harus memberikan stimulus kepada keluarga petani. Hal itu harus dilakukan dua cara sekaligus, yaitu pertama, memberikan bantuan langsung tunai kepada keluarga petani agar mereka masih memiliki daya beli. Kedua, memberi stimulus berupaya modal untuk input produksi pertanian mereka. Hasil analisis yang dilakukan peneliti IPB, apabila stimulus tidak diberikan, daya beli petani akan menurun sampai 10,55%. Kalau pemerintah bisa secara tepat memberi stimulus, bukan hanya penurunan daya beli bisa ditekan sampai 3,9%, tetapi bahkan pada akhir tahun ini daya beli petani masih bisa tumbuh sebesar 0,63%. Kita tidak pernah bosan mengingatkan pemerintah untuk fokus kepada sektor pertanian karena ini merupakan kekuatan sekaligus kelemahan kita. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang kalau bisa kita optimalkan bisa memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. Sayang, sektor pertanian setelah swasembada pangan 1984 sedikit dilupakan dan akibatnya kita terlalu tergantung pada impor. Sekarang jangan lupa, dunia dihadapkan kepada kemungkinan penurunan produksi pangan akibat pandemi covid-19. Semua negara fokus kepada pemenuhan kebutuhan negaranya sendiri. Kalau tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, kita akan dihadapkan kekurang an pangan dan itu akan memberatkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Kelemahan yang kita miliki, krisis pangan bisa berimbas kepada krisis politik. Sejak zaman Orde Lama, pemerintahan bisa dipaksa diturunkan ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat. Pemerintah Orde Baru bahkan berani membayar at all cost demi memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Sekarang ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk membangun kembali sektor pertanian.

Kalau kita konsentrasi penuh kepada pembenahan sektor pertanian, ini bisa menjadi pendorong kebangkitan ekonomi pascapandemi covid-19.

Kita memiliki pasar yang besar untuk dijadikan pijakan membangun pertanian.
Bahkan dengan itulah kita bisa ikut memberi ‘makan’ kepada dunia.

@drr