Pembangunan PUSAT PERBELANJAAN pernah mengalami lonjakan luar biasa.

 

BusurNews.Com,Jakarta – Pembangunan PUSAT PERBELANJAAN pernah mengalami lonjakan luar biasa.

Berdasarkan data pada 2010, di Jakarta terdapat lebih dari 170 MAL atau setara lahan seluas 4 juta m2.

 

Alih-alih menekan pertumbuhan MAL dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2011, pengembang justru kian gencar melakukan pembangunan.

Pada 2013, MAL di Jakarta terus bertambah mencapai 564 unit.

 

LONJAKAN ITU DISEBABKAN KECENDERUNGAN MASYARAKAT YANG KERAP MENJADIKAN MAL SEBAGAI OBAT DEPRESI DAN STRES.

Rata-rata orang Jakarta,
MAYORITAS PEREMPUAN, MENGHABISKAN SEKITAR TIGA JAM SETIAP KALI MENGUNJUNGI MAL.

 

“Sayangnya,
Pengembang mengabaikan tren pada masyarakat yang tinggal di megapolitan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat,”

Ironisnya,
Para Pengembang malah menuding belanja daring (online) sebagai kambing hitam.

“Mereka tidak menyadari hal itu terjadi karena jumlah mal yang terlalu banyak dan perubahan gaya hidup masyarakat kota besar,”.

Sama seperti di Jakarta,
Sejumlah mal mengalami penurunan pengunjung bukan karena daya beli masyarakat turun.

Akibat utamanya,
Strategi pengembang properti dinilai ketinggalan zaman karena menutup mata dari perubahan.

Penduduk kota besar saat ini cenderung ingin praktis dan lebih gemar menyisihkan uang untuk kesehatan atau menghibur diri dengan olahraga dan piknik.

Itu sebabnya diperlukan strategi khusus agar tetap memenangkan pasar.

(Rn)