Kategori
Artikel

Pembangunan infrastruktur menjadi sangat penting untuk dapat didorong melalui alternatif pembiayaan lain

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – Sehubungan dengan terbatasnya anggaran pemerintah dan pentingnya meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan infrastruktur, pembangunan infrastruktur menjadi sangat penting untuk dapat didorong melalui alternatif pembiayaan lain, salah satunya melalui skema KERJASAMA PEMERINTAH DAN SWASTA (KPS).

 

Berdasarkan pertimbangan itu,
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) akan mendorong investasi bersama yakni kombinasi investasi komersial dengan donasi yang dapat dimanfaatkan untuk infrastruktur dasar, seperti
meningkatkan akses dan memperbaiki kualitas air minum / sanitasi.

 

Investasi untuk air minum dan sanitasi memang tidak sedikit dan tidak bisa hanya mengandalkan donasi yang tentunya terbatas ataupun investasi komersial yang juga mengharapkan imbal hasil tertentu.

 

“Jadi, yang kemudian kami pikirkan ialah bagaimana agar pencapaian target tercapai dengan resources yang ada.
Solusinya ya dicampur, yang dana hibah donasi dengan investasi yang sifatnya lebih komersial,”.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, akses air minum dan sanitasi ditargetkan bisa mencapai 100%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
📍 akses air minum di Indonesia mencapai 70,97% dan
📍 sanitasi mencapai 62,14%.

 

Sebelumnya,
BAPPENAS juga sempat membahas skema pembiayaan blended finance bersama Presiden Joko Widodo untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Dengan menggunakan skema blended finance yang melibatkan pihak swasta untuk mencapai SDGs, besarnya dana proyek bertujuan sosial dapat menjadi ringan karena investasi bersama.

Potensi Donasi juga tidak hanya terbatas di dalam negeri, tapi juga dari luar negeri.
Apalagi jika dikaitkan dengan SDGs.

Saat ini cukup banyak donasi yang terkait dengan SDGs ataupun lebih spesifik untuk mengatasi isu seperti perubahan iklim.

“Itu yang mau kita manfaatkan dan kita gabungkan supaya lebih besar manfaatnya terhadap masyarakat,”.

 

KREDIT SINDIKASI

Terkait dengan pembiayaan infrastruktur,
PT Waskita Karya (persero) Tbk kemarin mendapat kredit sindikasi senilai Rp5,14 triliun untuk modal kerja pembangunan proyek Tol Jakarta Cikampek II Elevated.

Pemberi kredit sindikasi itu merupakan sinergi empat bank, yaitu
PT Bank Mandiri (persero) Tbk,
PT Bank Central Asia Tbk,                            PT Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, dan
PT Bank CIMB Niaga.

 

Tol Jakarta-Cikampek II memiliki panjang 36 km.
Proyek yang mulai dibangun sejak triwulan II 2017 itu ditargetkan beroperasi pada 2019.

 

“*Dengan ditandatanganinya pemberian plafon kredit, tentunya semakin mendukung percepatan pelaksanaan pembangunan proyek ini dan akan menopang kinerja, baik Operasional maupun Finansial*,”

(Rn)