Kategori
Partai

Partai Ummat Untuk Siapa?

 

Oleh : Agung Mozin

Selama pendemi, banyak waktu yang digunakan untuk membaca kembali buku2 lama yang sudah mulai kusam termakan waktu.

Dari buku kumpulan tulisan Mohamad Sobari sebelum tahun 1998 yang mengkritik kekuasaan orde baru, menarik perhatian saya dan saya sepakat dengan beberapa pemikirannya Karena mempunyai relevansi dengan kehadiran Partai Ummat saat ini.

Bahwa gagasan Partai Ummat mengembangkan rumusan politik Islam Rahmatan Lilalamin adalah sebutan lain dari politik berwawasan kemanusiaan. Mengapa demikian, karena semaraknya berbagai tindakan kekerasan, pemaksaan hak-hak politik dan ekonomi serta kehidupan budaya dikalangan rakyat, dan kerusuhan-kerusuhan massal sejak menjelang pemilu dan hingga sesudah pemilu berlangsung-sudah kita pahami bersama. Sama seperti yang terjadi ketika rezim orde baru memimpin dengan tangan besi. Kita akhirnya mungkin tiba pada kesepakatan, bahwa semuanya itu merupakan manifestasi dari kebangkrutan struktural kita. Khususnya karena tidak berfungsinya hukum sebagai mekanisme terbaik untuk mengatur tata kehidupan sosial dan politik kita.

Pertanyaannya kepada siapakah gagasan Islam Rahmatan Lil Alamin ini diperuntukan? Apakah ditujukan kepada mereka yang memegang kendali dan menentukan merah dan hijaunya seluruh bangsa dan negara berkode 62 ini? …….Tentu jawabannya tidak mungkin. Karena dianggap lahirnya Partai Ummat sebagai sikap kritis terhadap penyelenggara negara yang telah memilih jalan politik yang sangat liberal dan menjauhkan ummat dari nilai2 langitan

Malahan saat ini, sikap kritis langsung dicurigai sebagai gerakan radikal, intoleran yang tidak sesuai dengan format Pancasila yang diklaim secara sepihak. Sikap rezim antikritik akan melembaga dalam politik kita sehingga tanpa kita sadari diam-diam politk kita semakin menjauh dan tertutup dari jangkauan rakyat.

Rakyat dijauhkan dari proses pengambilan keputusan politik penting, lembaga politik di Parlemen yang semestinya menjadi perwakilan suara rakyat telah berubah menjadi tukang stempel mau-maunya rezim dan kini telah terbentuk dinding tebal yang memisahkan rakyat dengan pemerintah atau rezim.

Jika begini persoalannya, maka kita sudah bisa menarik sebuah kesimpulan awal bahwa gagasan Partai Ummat berasaskan Islam Rahmatan Lil Alamin bukan barang yang mereka perlukan sebagai balance of power, seindah dan sebagus apapun konsep anti kezhaliman dan menegakan keadilan yang datang dari langit ini kita sampaikan untuk keselamatan ummat manusia di zone 62 ini, sungguh sangat tidak menarik mereka yang berkuasa.

Apakah kemudian kita kecewa dan pesimis atau kehilangan gairah untuk mengembangkan Partai Ummat dengan gerakan politik yang berwawasan kemanusian yang secara lugas dicantumkan sebagai azas Partai Ummat, Islam Rahmatan Lil Alimin. Jawabanya tentu tidak, karena gagasan Islam Rahmatan Lil Alamin lebih relavan dan sangat dibutuhkan rakyat saat ini sebagai tata perpolitikan yang memberikan pilihan lain atas tata kelola politik yang sangat liberal dan kapitalistik alias menghalalkan segala cara. Artinya rakyat lebih terpanggil memberikan sumbangan dalam pengaturan ulang tata perpolitikan ditingkat bawah katakan didesa-desa atau diruang-ruang terbatas diluar teropong radar kekuasaan yang arogan

Inilah mungkin makna membangun politik berazaskan Islam Rahmatan Lil Alamin karena real politik kita telah ditinggalkan oleh nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran.

Politik kita berjalan tanpa landasan, pijakan dan pelindungnya juga mungkin rapuh. Hanya pada tingkat individu atau khususnya dilapisan bawah nilai-nilai dari langit masih dipertahankan hidup, sehingga kemanusiaan, keadilan dan kebenaran tadi masih memberi energi budaya yang diperlukan Partai Ummat.

Partai Ummat dengan azas Islam Rahamatan Lil Alamin sebenarnya sebagai upaya penyelamatan struktur bawah anak bangsa sekaligus wajud pemihakan lebih kuat kepada rakyat dan bukan pada pemerintah yang telah membangun tembok tebal yang dijaga aparat yang buta mata dan hatinya dari jeritan ummatnya.

Politik kita sekarang sangat keras, dan galak, karena dibangun diatas logika kekuasaan. Dan kekuatan akan cenderung beroperasi demi kekuasaan itu sendiri-sama seperti status quo kita saat itu-Jika pemegangngnya makin lama makin takut kehilangan kekuasaan. Dalam situasi seperti itu, partai-partai politik yang diharapkan memperjuangkan politik-yang adil, jujur dan berwawasan kemanusiaan-tak mungkin tampil terbuka memihak kepada kebutuhan rakyat. Ia sebaliknya lebih tunduk dan melayani selera kekuasaan saja.

Namun kita tidak boleh lupa atau saya pastikan bahwa kecenderungan macam itu akan otomatis lenyap bersama dengan terjadinya pergantian kekuasaan. Dalam jangka pendek, terutama dimasa hangat-hangatnya semangat kebersamaan ummat melakukan perubahan. Tapi jika abai dan lalai, maka makin lama kita akan tergiring dalam putaran yang sama: ketika penguasa makin mapan, kita bakal dipaksa menjadi orang yang bersifat konservatif, anti perubahan dan gandrung kemapanan. Apalagi bila kemapanan itu lebih membenarkan rasa takut kita kepada kekerasan negara.

Kehadiran Partai Ummat kita jadikan momentum politik kebangkitan rakyat. Didorong oleh segala kekuatan orang-orang biasa dari pojok-pojok perkampungan dan desa-desa yang jauh disana dan sebagian besar orang-orang kota yang merindukan Islam Rahmatan Lil Alimin tanpa diskriminasi kepada etnis dan agama apapun sebagai etalase politik baru dan kanal yang menghadirkan pemerintah yang adil, tanpa kezhaliman.(***)