Kategori
Artikel

Pandemi ini episode protopia, meski terpuruk ada gotong royong memberi secercah harapan mengentaskan persoalan pandemi dan penguatan ekonomi.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Enam bulan pandemi aktivitas manusia terhenti agar terhindar virus.
Pemerintah, CSR, dan perseorangan bersinergi menyelamatkan warga melalui menyediakan alat pelindung dan bantuan pangan.
Pandemi ini episode protopia, meski terpuruk ada gotong royong memberi secercah harapan mengentaskan persoalan pandemi dan penguatan ekonomi.
Dengan begitu gotong royong menjadi tafsir set of belief penguatan kembali ekonomi.

Protopia gotong royong
Protopia dimaknai kondisi kehidupan hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Meskipun pandemi menurunkan kualitas kehidupan ekonomi, industri-pabrikan, pariwisata, dan kualitas pendidikan, tetapi tidak terjadi pada bidang pertanian.
Situasi ini sulit mencapai benefit, karena volume ekonomi turun, dan stagnasi pada banyak bidang.
Pada sisi lain, krisis ekonomi dan moneter 1998 juga menghancurkan industri-pabrikan, termasuk krisis ekonomi 2008, tetapi tidak pada bidang pertanian, perkebunan, dan usaha kecil.
Pengalaman manusia tidak sempurna, dan protopia mengisyaratkan kita tidak boleh menyerah, serta mencerca siapapun akibat pandemi.
Semua negara di dunia tergagap-gagap menghadapi pandemi.
Set of belief gotong royong harus menjadi jembatan proaktif dan progresif melakukan recovery ekonomi.

Pada masa lalu stereotip kerja sama sudah pernah dibangun oleh pemerintah melalui program PIR (Program Inti Rakyat).

Sayangnya program itu menjadi cultuur stelsel baru, karena inti melakukan kooptasi dan eksploitasi terhadap plasma.
Praktik kapitalisme dalam PIR tidak dapat diterima karena ada persoalan dehumanisasi terhadap plasma.
Faktor kooptasi dan eksploitasi memicu konflik, baik terhadap plasma maupun tanah ulayat milik penduduk.
Stereotip gotong royong tidak mengenal kooptasi dan eksploitasi, karena stereotip ini menata keadilan dan kesetaraan.
Dalam kenormalan baru yang dicanangkan pemerintah, gotong royong layak digunakan sebagai paradigma baru penguatan bidang pertanian dan perkebunan, UKM dan UMKM, serta industri manufaktur.
Hal ini sebagai langkah penguatan diri (self-improvement) untuk mencegah penurunan tajam kualitas kehidupan akibat situasi pandemi.
Proliferasi Self-empowerment bergayut sambut dengan keinginan memulihkan atau melakukan lompatan eksistensial akibat situasi pandemi.
Tahap pertama penguatan industri pertanian, perkebunan, dan UMKM.
Tahap berikutnya penguatan industri-manufaktur padat modal.
Kita mengetahui sejak tiga dekade yang lalu anak bangsa menolak untuk mengelola lahan pertanian akibat tidak menguntungkan, dan mereka memilih bekerja di industri-manufaktur sebagai buruh atau menekuni bidang UMKM.
Ketika anak petani tidak mewarisi bidang pertanian berakibat makin berkurang lahan pertanian, seiring dengan peningkatan kebutuhan perumahan rakyat.
Di era pandemi pemerintah wajib memberikan insentif modal dan pemasaran digital kepada petani dan UMKM, karena keterbatasan mereka.
Mahatir dalam A New Deal for Asia mengungkapkan bahwa bangsa kita tidak dibangun dan dibentuk dari kegiatan ekonomi.
Pemangku kuasa dan pemodal wajib menuntun mereka menjadi pelaku usaha pertanian dan UMK/UMKM yang handal menopang ekonomi bangsa.
Pada sisi lain, pemerintah dan pemodal bisa membangun jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi untuk menuntun, melatih dan menyiapkan diri menjadi wirausaha independen.
Dengan strategi itu mereka secara mandiri mengentaskan persoalan sosial dan kemiskinan struktural di lingkungan mereka.
Pada masa lalu Daoed Joesoef dan Wardiman Djojonegoro mengidealisasikan perguruan tinggi pusat pengembangan pengetahuan dan teknologi, serta link and match dengan dunia usaha.
Sayang ide itu ditafsirkan sebagai represi politik yang tidak memberi kebebasan kepada mahasiswa.
Pada sisi lain, dunia usaha menuntut pendidikan tinggi siap pakai.
Faktor ini penyebab kompetensi, kompetensi, dan daya saing perguruan tinggi sering pasang-surut.

Melalui idealisasi Daoed Joesoef dan Wardiman Djojonegoro, perguruan tinggi dewasa ini perlu membangun jejaring ekosistem terkoneksi dengan dunia teknologi, industri, dan usaha.
Perguruan tinggi klaster tinggi dapat meningkatkan fondasi set of belief gotong royong melalui pengembangan ekosistem digital start up yang terkoneksi dengan bidang pertanian, perkebunan, UMK/UMKM, dan teknologi industri-manufaktur.
Kita memang terlambat, tapi perlu mulai menata jejaring tersebut.

Simpul ini mengubah zeitgeist mahasiswa dari kebiasaan mereka turun jalan berdemonstrasi, menjadi kegiatan diskusi di kawasan coworking space untuk menciptakan desain, prototip produk, dan jejaring usaha rakyat yang akan ditumbuhkan menjadi program kemandirian usaha.

@drr