Kategori
Artikel

PANDEMI covid-19 mengubah banyak hal

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –PANDEMI covid-19 mengubah banyak hal.
Ibarat lintasan sirkuit Moto-GP, semua kini sedang berada di tikungan tajam, bukan di jalur lurus.
Namun, justru di tikungan tajam itulah terjadi saling intip untuk menyalip pada lap-lap menentukan.
Pandemi korona juga membuat pergerakan harta taipan di Indonesia pasang surut.
Bloomberg mencatat pada semester pertama tahun ini, nilai kekayaan pemilik Grup Djarum, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, tergerus hingga Rp171,5 triliun.
Namun, hanya dalam tujuh pekan kemudian, harta duo Hartono sudah bertambah lagi US$7,4 miliar atau Rp107,3 triliun.
Itu juga terjadi karena terus terkereknya harga saham-saham perusahaan Grup Djarum di lantai bursa.
Begitulah kiranya gambaran tikungan tajam saat ini.
Di lintasan itu kemampuan untuk menyalip lalu memenangi lomba amat ditentukan oleh adu strategi, adu fokus, adu disiplin.
Dengan cara itu, boleh jadi kita belum tentu meraih podium.
Akan tetapi, potensi untuk menang atau mulus hingga finis dengan hasil manis sangat besar.
Langkah itu sepadan dengan risiko di tikungan yang tak kalah besar.
Maka, dalam tikungan tajam covid-19, disiplin ketat menaati protokol kesehatan ialah keniscayaan.
Justru di titik krusial ini kita kerap tersandung.
Ketidakdisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan di awal-awal masa pandemi harus dibayar mahal dengan kurva positif covid-19 yang melampaui 200 ribu orang, dengan tingkat kematian melewati 10 ribu orang.
Kini, kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan menunjukkan perbaikan.
Setidaknya hal itu tecermin dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang digelar pada 7-14 September 2020.
Survei atas 90 ribu lebih responden di seluruh Indonesia itu mendapati 92% orang sudah menggunakan masker, patuh mencuci tangan, dan menjaga jarak 75%.
Kendati ada perbaikan, ada sedikit masalah dalam hal konsistensi perilaku.
Angka kebiasaan memakai masker tinggi karena ada ketakutan terhadap sanksi.
Wajar, karena merazia mereka yang tidak menggunakan masker lebih mudah daripada memelototi orang untuk patuh menjaga jarak, apalagi mencuci tangan.
Berdasarkan temuan survei itu terungkap bahwa responden perempuan lebih patuh protokol kesehatan daripada responden laki-laki.
Kemudian, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka cenderung semakin sadar akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan.
Lalu, jika dilihat berdasarkan kelompok umur, ternyata responden dengan umur lebih senior cenderung lebih patuh terhadap protokol kesehatan.
Padahal, ketiga hal dalam protokol pencegahan covid-19 itu berada dalam satu tarikan napas.
Semestinya, perlakuan terhadap ketiga-tiganya juga berlangsung paralel.
Sama persis bagaimana si raja tikungan balap Valentino Rossi, taipan Hartono bersaudara membagi kiat sukses dengan kerja keras, fokus, dan disiplin ketat.

Bahwa bangsa yang longgar dalam disiplin akan jatuh menjadi bangsa lembek.

Risikonya, kita akan terus tercecer di tikungan, bahkan cepat kehabisan amunisi di lintasan lurus. Kita tentu ingin jadi pemenang. Kita berharap bisa selamat melalui tikungan tajam pandemi korona. Syaratnya, ikuti cara para pemenang menghadapi kerasnya tantangan. Salah satu kualitas ialah keuletannya untuk mencapai sesuatu. Menuai ganjarannya karena kegigihan dan kesabaran. Dia hidup dengan filosofi, “Hari ini kejam. Besok kejam. Dan, lusa itu indah.”

@garsantara