PANDEMI covid-19 mengakibatkan krisis multidimensi di seluruh negara di dunia.

 

Busurnews.com, JAKARTA — PANDEMI covid-19 mengakibatkan krisis multidimensi di seluruh negara di dunia.
Tidak hanya menyerang dan menjadi masalah kesehatan saja, tetapi juga berdampak pada masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan stabilitas pangan nasional.
Pandemi juga memberikan dampak serius bagi pola asuh dan tumbuh kembang anak-anak di Indonesia.
Minimnya akses pendidikan anak usia dini (PAUD), mandegnya aktivitas layanan posyandu, kekerasan mental, gangguan psikologis dan ancaman malnutrisi membuat Indonesia terancam mengalami lost generation.
Dalam upaya menekan penyebaran dan mengendalikan penularan covid-19, pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada Selasa (31/3), telah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk wilayah-wilayah yang menjadi episentrum penularan covid-19.
Pembatasan kegiatan tersebut meliputi pembatasan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan sosial budaya, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, dan pembatasan moda transportasi.
Pembatasan tersebut sangat berdampak pada masyarakat termasuk anak-anak yang tidak bebas lagi berinteraksi sosial dan bermain.
Anak-anak bisa merasakan stres akibat pandemi covid-19. Dr Tali Raviv, Associate Director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital di Chicago, AS telah mengatakan bahwa wabah ini bisa memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak. Masa anak-anak yang penuh kebebasan akhirnya tertekan, sehingga dapat mengancam kondisi psikologis anak, seperti traumanya anak-anak puluhan tahun ke depan dengan keadaaan yang di alami sekarang.
Pandemi covid-19 juga memaksa anak harus banyak tinggal di rumah, sehingga dapat memunculkan ancaman baru akan peningkatan angka kekerasan dalam rumah tangga kepada anak karena tingkat stres yang tinggi dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.
Tidak optimal Selama pandemi covid-19 proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka disekolahpun dihentikan untuk dilaksanakan pembelajaran jarak jauh di rumah dengan media yang paling efektif.

Proses pembelajaran jarak jauh ini memberi banyak pelajaran bagi dunia pendidikan di Indonesia, tak terkecuali pendidikan anak usia dini (PAUD), di mana sistem pembelajarannya juga dituntut untuk bermigrasi ke pembelajaran daring (dalam jaringan/online).
Meskipun pembelajaran daring untuk PAUD tidak berjalan optimal dikarenakan dari 98,4% siswa di satuan PAUD, hanya 13% yang mengikuti pembelajaran daring. Sisanya memakai metode penugasan melalui orangtua dan kunjungan langsung ke rumah siswa masing-masing.
Hal itu dikemukakan Direktur PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Muhammad Hasbi dalam ajang bertajuk Wajah Baru PAUD di Indonesia Pasca Pandemi Covid-19: Sinergi Sekolah dan Keluarga yang digelar Program Studi Pendidikan Guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, Sabtu (16/5).

Tantangan utama pembelajaran daring selama pandemi covid-19 adalah ketersediaan jaringan internet, kemampuan teknologi informasi dan komunikasi orangtua yang memang tidak dipersiapkan untuk menjadi pendidik di rumah.

Selain kurangnya kemampuan dan keterampilan guru.
Sementara metode pembelajaran jarak jauh berbasis internet mengalami banyak tantangan karena perbedaan karakteristik daerah, tidak meratanya akses internet, hingga perbedaan kapasitas pengajar dan peserta didik di masing-masing wilayah.
Bila pandemi covid-19 ini berkepanjangan semakin banyak masyarakat yang mengalami masalah ekonomi akibat kehilangan pekerjaan atau menurunnya pemasukan, sehingga menyebabkan melemahnya daya beli dan tidak mampu memenuhi kebutuhan asupan makanan bergizi (malnutrisi) bagi anak-anaknya.
Asupan gizi Di samping itu juga ancaman krisis pangan global sebagaimana yang disampaikan Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang memprediksi krisis pangan dan kekeringan akan melanda negara-negara di dunia termasuk Indonesia, akan mempengaruhi kebutuhan asupan makanan bergizi bagi anak-anak.
Masalah asupan makanan bergizi ini bisa menambah angka kasus stunting di Indonesia di mana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus tertinggi di Asia.

Berdasar data riset kesehatan daerah (Riskesda) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8% sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20%. Pemantauan tumbuh kembang anak-anak sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan sejak dini.
Pemantauan ini dapat dilakukan di berbagai sarana kesehatan di masyarakat, salah satunya posyandu.
Peran posyandu sangat penting untuk mendukung perbaikan gizi dan kesehatan keluarga. Selain itu, sistem monitoring posyandu dapat menemukan kasus-kasus malnutrisi pada anak-anak.
Posyandu melakukan monitoring kesehatan, pengukuran tinggi badan dan berat badan anak melalui penimbangan rutin.
Hal ini membuktikan posyandu mempunyai peran besar bagi anak-anak sejak usia 6 bulan sampai usia masuk sekolah.
Oleh karena itu, posyandu dianggap mampu melakukan upaya pemberdayaan keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak dan memberikan pola asuh bagi anak-anak usia dini. Akan tetapi pemantauan tumbuh kembang terancam tidak bisa berjalan karena aktivitas layanan posyandu juga mengalami kemandegan yang disebabkan oleh pandemi covid-19. Kemandegan posyandu juga mengancam program imunisasi yang selama ini sudah berjalan rutin.
Peran orangtua dan seluruh warga masyarakat benar-benar dibutuhkan dalam memastikan pola asuh dan tumbuh kembang anak-anak tetap berjalan dengan baik. Timbang badan, ukur tinggi atau panjang badan secara mandiri sangat dibutuhkan.
Selanjutnya kader posyandu atau bidan desa mengedukasi dan memonitoring melalui media komunikasi (whatsapp) atau kunjungan rutin dan juga bisa memanfaatkan aplikasi yang sudah tersedia. Pastikan juga imunisasi dan asupan gizi anak-anak tetap terkontrol.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K) mengatakan bahwa pada saat ini dokter anak di seluruh dunia sedang memikirkan risiko buruk dari pandemi covid-19, yakni lost generation.
Untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan solusi komprehensif dari pemerintah, dan pelibatan seluruh lapisan masyarakat dalam upaya mencegah terjadinya lost generation akibat pandemi.

Anak-anak saat ini, kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia yang merupakan generasi emas yang akan membawa kejayaan bangsa di 100 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2045.

@drr