Kategori
Artikel

Pandemi covid-19 belum menyisakan ruang longgar untuk penanggulangan

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Pandemi covid-19 belum menyisakan ruang longgar untuk penanggulangan.

Semua standard precaution, termasuk physical distancing, penggunaan masker, dan mencuci tangan, hanya mencegah penyebaran virus secara temporer.
Obat-obatan yang dipakai untuk menangani kasus covid-19, mulai antivirus, antiinflamasi, hingga immune-based therapy, juga belum memberikan hasil yang efektif.
Karena itu, tidak mengherankan bila vaksin menjadi menjadi tumpuan harapan penanggulangan.
Sebagian ahli berpendapat bahwa hanya vaksin yang dapat meredam covid-19 secara permanen serta membawa kehidupan manusia normal kembali.
Karena daya tariknya, produksi vaksin kini menjadi rebutan.
Ratusan institusi dari berbagai negara berkompetisi membuat vaksin.

Regulatory Affairs Professional Society mencatat bahwa hingga 21 Agustus 2020, terdapat 42 proyek pembuatan vaksin di seluruh dunia; setengahnya telah masuk uji klinis.
Dalam dokumen resmi WHO, telah terdapat 169 proyek vaksin di seluruh dunia, dengan 30 di antaranya telah masuk fase uji klinis.
Target WHO sendiri ialah memberikan vaksin covid-19 kepada 2 miliar orang sebelum akhir 2021.
Vaksin ini akan didistribusikan secara proporsional ke semua negara yang berpartisipasi.
Pada tahap awal, hanya akan diberikan kepada pekerja kesehatan dan kemudian dikembangkan kepada sekitar 20% populasi.
Strategi ini diharapkan dapat menekan secara signifikan penyebaran covid-19 sebelum 2022.

Produksi dan distribusi vaksin
Berdasar bahan pembuatnya, vaksin terdiri atas beberapa jenis. Di antaranya ialah live attenuated vaccine, yaitu vaksin yang terbuat dari virus yang masih hidup, tetapi telah dilemahkan kapasitasnya (weakened capacity).
Vaksin dari bahan ini memerlukan safety test yang ketat karena masih berpotensi menimbulkan reaksi serius pada orang dengan kondisi tertentu.
Jenis lainnya ialah inactivated vaccine, yaitu berasal dari virus yang telah dimatikan. Vaksin jenis ini umumnya tidak sekuat live attenuated vaccine dan karenanya harus diberikan lebih sering.
Selain itu, dapat juga digunakan genetically engineered vaccine, yaitu menggunakan RNA atau DNA virus yang telah dimodifikasi untuk memicu timbulnya antibodi atau kekebalan. Pada vaksin covid-19, salah satu target modifikasi ialah terhadap spike protein (S) yang terdapat pada tonjolan permukaan virus ini.
Modifikasi struktur ini dapat menghalangi kapasitas virus untuk melekat pada sel tubuh manusia.
Sebelum disetujui penggunaannya secara luas, sebuah vaksin harus melewati lima fase. Tahap paling awal ialah pre-clinical testing, yaitu pengujian vaksin terhadap binatang yang bertujuan mengetahui apakah sebuah vaksin dapat memproduksi respons imun. Vaksin yang melewati fase ini akan memasuki tahap berikutnya, yaitu fase 1 safety trial, vaksin diberikan kepada sejumlah kecil manusia.
Tujuannya melihat apakah vaksin tersebut aman bagi manusia, jumlah dosis yang aman digunakan dan rekonfi rmasi bahwa vaksin bersangkutan dapat merangsang sistem imun. Fase selanjutnya ialah fase 2 expanded trial, vaksin mulai diberikan kepada ratusan orang yang berasal dari populasi atau kelompok berbeda. Dari fase ini diperoleh informasi tentang manfaat vaksin terhadap manusia dalam jumlah lebih besar termasuk dari populasi berbeda. Bila ini terlewati, fase berikutnya ialah fase 3 efficacy trail, vaksin diberikan kepada ribuan orang untuk melihat efektivitasnya pada populasi yang lebih luas serta kemungkinan timbulnya efek samping penggunaan.
Setelah semua fase ini dilewati, barulah sebuah vaksin dapat diusulkan untuk memperoleh approval dari lembaga perizinan negara masing-masing, seperti FDA di Amerika atau MHRA di Inggris.
Untuk melewati semua fase di atas, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, karena pertimbangan urgensi nya, para ahli sepakat bahwa fase uji vaksin covid-19 dipersingkat menjadi 12-16 bulan saja.

Setelah memperoleh approval, proses selanjutnya ialah memproduksi vaksin dalam jumlah besar dengan tetap menjaga kualitas dan efektivitasnya.
Vaksin ini kemudian harus diberikan secara aman, tepat, dan efisien terhadap populasi dengan jumlah besar.
Proses ini tidak mudah dan membutuhkan perencanaan infrastruktur dan suprastruktur yang matang, termasuk logistik yang cukup.
Normalnya, dibutuhkan 10-15 tahun untuk pengembangan vaksin hingga digunakan pada populasi. Vaksin mump ialah vaksin yang tercepat pernah dibuat, yaitu hanya dalam waktu empat tahun.
Dalam kenyataannya, setiap proyek vaksin ternyata menggunakan kriteria yang tidak seragam pada elemen fase uji vaksin, termasuk kriteria keamanan, durasi, dan jumlah sampel pada tiap fase.
Dari tujuh proyek yang telah menyentuh fase 2/3 dan 3, semuanya menggunakan kriteria berbeda.
Vaksin Sinovac yang kini diujicobakan di Indonesia, misalnya, telah memasuki fase 3. Vaksin ini telah diujicobakan terhadap 143 orang pada fase 1 dan 600 orang pada fase 2.
Untuk fase 3, direncanakan dilakukan terhadap 9.000 orang, termasuk di Indonesia dan Brasil.
Vaksin moderna yang dibuat Kaiser Permanente Washington Institute telah dicobakan pada 105 orang pada fase 1, 600 orang pada fase 2 dan sementara dicoba terhadap 30.000 orang pada fase 3. Profi l senada juga pada vaksin BNT162 yang diproduksi Pfi zer dengan fase 1/2 dicobakan pada 200 orang dan fase 2/3 pada 30 ribu orang. Selain variasi kriteria, sejumlah proyek vaksin tidak mengikuti fasefase standar uji vaksin. Dengan alasan kebutuhan mendesak, sejumlah proyek tidak melakukan fase 1 dan langsung masuk fase 2 (fase 1/2). Ada pula vaksin yang langsung disetujui untuk digunakan walaupun belum melewati keseluruhan fase standar.
Vaksin yang diproduksi perusahaan Cansino Biologics Tiongkok langsung disetujui untuk digunakan pada tentara sementara vaksin ini belum menyelesaikan fase 3. Demikian pula vaksin sputnik V dari Rusia, yang kini telah disetujui penggunaannya sementara vaksin ini belum baru melewati fase 1/2 dan bahkan belum memasuki fase 3.
Karena tidak seragamnya fase, kriteria, dan elemen yang digunakan setiap vaksin, vaksin-vaksin yang diproduksi akan memiliki tingkat efektivitas dan keamanan yang bervariasi.

Sebagian vaksin mungkin akan memberikan proteksi komplet dan lama terhadap (sterilizing immunity), tetapi sebagian lainnya mungkin hanya mampu meminimalkan keluhan dan efek samping, tetapi tidak dapat mencegah terjadinya infeksi. Keamanannya pun berpotensi bervariasi.
Sebagian vaksin mungkin hanya memberikan efek samping minimal dan jarang. Sebagian lagi dapat memberikan efek samping yang lebih serius dan sering. Adanya potensi variasi efektivitas dan keamanan dari berbagai vaksin menyebabkan WHO menyetujui rencana untuk melakukan uji perbandingan (compare and contrast) dari berbagai vaksin yang ada. MI/Seno

Efektivitas dan keamanan
Maraknya proyek vaksin mengisyaratkan atmosfer positif penatalaksanaan pandemi. Banyak yang berharap produksi vaksin bisa segera terwujud. Presiden bahkan menjanjikan akan memberikan vaksin covid-19 pada seluruh masyarakat 2021, yang dengannya pandemi akan teratasi.
Meski ini berita menggembirakan, kenyataan yang akan terjadi bisa saja berbeda. Pertama, terlepas dari adanya beberapa proyek vaksin yang tidak mengikut uji standar vaksin, sebagian besar proyek vaksin masih berada pada fase 3 dan masih membutuhkan waktu paling tidak beberapa bulan sebelum dapat mengonfi rmasi tingkat efektivitas mereka. Vaksin covid-19 dianggap efektif apabila dapat memberikan proteksi minimal 50% pada orang yang mendapat vaksinasi.
Institusi lainnya bahkan menargetkan proteksi minimal 70%-90%. Bila uji vaksin pada akhirnya terbukti bermanfaat, tetapi tidak melewati ambang standar (benchmark) ini, vaksin dianggap tidak efektif dan mungkin tidak disetujui penggunaannya.
Sejumlah vaksin tercatat pernah melewati fase 2 dengan tingkat efektivitas yang bagus, tetapi tidak dapat melewati benchmark pada fase 3 dan harus dihentikan, seperti vaksin herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2) dan vaksin glutamic acid decarboxylase (GAD) untuk penyakit diabetes tipe 1.
Kedua, bila vaksin terbukti mampu memberikan efek proteksi minimal 50%, berapa lama daya proteksi ini dapat bertahan?
Bila hanya bertahan 1-3 bulan, vaksin dianggap kurang efi sien karena harus dilakukan pengulangan vaksin (boster) setiap 1-3 bulan. Idealnya, vaksin covid-19 dapat diterima bila daya proteksinya bertahan paling tidak 6-12 bulan.

Artinya, pengulangan vaksin hanya dilakukan 1-2 kali per tahun. Sebagai catatan, sejumlah studi menunjukkan bahwa pada orang yang terinfeksi covid-19 dan sembuh, titer antibodi virus dalam tubuhnya berkurang hingga 50% dalam tiga bulan.
Artinya, ada kemungkinan titer antibodi menjadi tidak ada sama sekali setelah enam bulan. Bila profil ini diekstrapolasi ke vaksin buatan, daya proteksi vaksin diperkirakan bervariasi antara 3 dan 12 bulan.
Artinya, pengulangan vaksinasi diperlukan setiap tahun. Bila pengulangan diperlukan 1-2 kali per tahun, vaksin yang diproduksi mesti dua atau tiga kali lipat. Ini berkaitan dengan biaya produksi dan logistik yang besar. Ketiga, seberapa efektif vaksin terhadap orang yang berisiko tinggi (vulnerable) menderita penyakit covid-19. Studi vaksin yang ada kebanyakan dilakukan pada orang sehat, tanpa penyakit atau komorbiditas dan bukan usia lanjut. Artinya, bila uji vaksin ini terbukti efektif, efektivitasnya terutama berlaku bagi orang muda, sehat, dan tanpa penyakit.
Padahal pada covid-19, risiko kesehatan terbesar dan terpenting terutama terjadi pada orang yang berusia di atas 50-60 tahun serta memiliki faktor komorbiditas seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes.
Efektivitas vaksin yang diperoleh pada populasi muda dan sehat tidak serta-merta dapat diekstrapolasi pada populasi usia lanjut apalagi dengan berbagai komorbiditas. Alasannya, respons imunitas kedua populasi berbeda.
Berbeda dengan berbagai vaksinasi massal yang target populasinya ialah anak-anak dan usia muda (seperti polio, pertusis, dan campak). Studi vaksin covid-19 mesti lebih banyak ditujukan kepada orang yang berusia lanjut, atau yang memiliki komorbiditas karena kelompok inilah yang rentan terhadap infeksi dan komplikasi penyakit. Keempat, evaluasi efek samping yang ditimbulkan vaksinasi.
Walau terbukti efektif, sebuah vaksin dapat ditolak apabila menimbulkan efek samping yang signifikan.
Apalagi bila efek sampingnya berkaitan dengan kematian atau kecacatan. Efek samping yang perlu dipantau bukan hanya yang timbul dalam uji klinis 12-18 bulan, melainkan juga efek samping jangka lama.
Vaksin yang dimasukkan ke tubuh memiliki risiko potensial yang harus dipantau, di antaranya terjadinya antibody dependent enhancement (ADE) dan vaccine-associated enhanced respiratory disease (VAERD), yang berpotensi menimbulkan penyebaran infeksi yang parah dan penyakit paru yang berat.

Sejumlah vaksin pernah ditolak karena alasan efek samping.
Di antaranya ialah vaksin V710 yang diproduksi untuk mencegah infeksi Staphylococcus aureus.
Vaksin ini ditolak akibat munculnya efek samping serius pada fase 3 berupa kegagalan multiorgan dan kematian pada individu penerima vaksin.
Sejumlah vaksin covid-19 yang sementara dibuat saat ini melaporkan sejumlah efek samping dengan derajat bervariasi, termasuk gangguan paru. Kelima, target populasi vaksinasi.
Penyakit infeksi memiliki tingkat infektivitas yang bervariasi pada kelompok usia, pekerjaan, atau etnik yang berbeda.
Karena itu, tidak semua vaksinasi harus diberikan secara luas kepada masyarakat.
Ada kelompok tertentu yang berisiko tinggi dan harus diberikan, tetapi ada pula yang berisiko sangat rendah sehingga vaksinasi tidak diharuskan. Penyakit hepatitis memiliki prevalensi yang cukup prevalen; tetapi di beberapa negara, vaksinasi hepatitis tidak diberikan secara luas, tetapi hanya pada kelompok usia tertentu dan populasi yang berisiko tinggi tertular. Covid-19 sangat prevalen dan dapat menyerang semua orang.
Namun, sekitar 80%-90% orang yang terinfeksi memiliki gejala yang ringan atau tidak bergejala sama sekali dengan pengobatan serius tidak diperlukan. Kelompok ini dapat membangun respons kekebalan alamiah, yang kurang lebih dapat disetarakan dengan respons imun yang ditimbulkan vaksinasi.
Bila kelompok ini tidak membutuhkan pengobatan dan pada akhirnya akan memperoleh kekebalan alamiah, apakah perlu memberikan vaksin kepada mereka?
Keenam, virus dapat mengalami mutasi genetik termasuk virus covid-19.
Bagaimana nasib vaksin bila virus covid-19 mengalami mutasi?

Sejumlah ahli sepakat bahwa mutasi tidak akan mengubah strain, daya infeksi, dan daya letal virus Covid-19.
Namun, ahli lain mengemukakan pendapat berbeda. Studi di Malaysia baru-baru ini mengonfi rmasikan penemuan strain baru pada penderita covid-19, yang tingkat infektivitasnya dikabarkan berkali-kali lipat dari tingkat infektivitas virus Covid-19 sekarang. Bila hal ini benar, vaksin yang dibuat saat ini harus kembali dimodifi kasi agar efektif menghadapi virus yang bermutasi.

Pada kenyataannya, mutasi ialah salah satu isu penting pada vaksinasi virus. Karena alasan mutasi ini, vaksinasi seasonal flu perlu diberikan setiap tahun dengan tingkat efektivitas 40%-60%. Ketujuh, jenis strain covid-19 di Indonesia.
Mengingat Indonesia akan menggunakan vaksin yang berasal dari Tiongkok, sejumlah ahli mempertanyakan kesamaan jenis strain covid-19 di Indonesia dan Tiongkok.
Bila strain-nya berbeda, vaksin yang diproduksi di Tiongkok ini tidak dapat digunakan secara efektif di Indonesia.
Direktur Utama Biofarma, perusahaan yang akan memproduksi vaksin di Indonesia, menjelaskan strain virus di Tiongkok seperti sama di Indonesia. Genom sequencing-nya sama lebih 99%.
Meski demikian, isu perbedaan strain ini masih tetap bersirkulasi. Harapan prematur? Pemerintah dan masyarakat sangat berharap banyak pada vaksin. Hal ini wajar di tengah belum adanya penatalaksanaan yang efektif dan permanen. Vaksin diharapkan dapat segera memproteksi populasi dan menghentikan pandemi. Apalagi perkembangan penelitian vaksin juga memberikan harapan demikian.
Namun, kondisi ini tidak serta-merta menjadi magic bullet solution. Masih banyak isu seputar vaksin yang belum sepenuhnya jelas. Secara umum, hingga kini penelitian vaksin masih berjalan.
Belum final. Belum ada gambaran jelas dan detail tentang efektivitas, efek terhadap kelompok rentan, durasi efektivitas, efek samping, serta kemungkinan pengaruh mutasi virus terhadap efektivitas vaksin.
Hingga saat ini, belum ada proyek vaksin yang telah melewati secara lengkap fase-fase uji vaksin standar dan mengumumkan hasilnya. Dalam kondisi ini, sulit menilai secara objektif dan komprehensif efektivitas dan keamanan vaksin yang ada. Dengan merujuk kepada bervariasinya kriteria yang digunakan dari berbagai proyek vaksin dalam uji vaksin, serta adanya megabisnis di balik produksi vaksin, besarlah kemungkinan akan muncul berbagai jenis vaksin covid-19 di pasaran.

Bukan vaksin tunggal atau universal vaccine.
Vaksin-vaksin yang muncul memiliki kualitas, efektivitas, keamanan, dan harga yang berbeda.
Bahkan mungkin memiliki target populasi yang berbeda.

Setiap proyek akan mempromosikan vaksin mereka dan melakukan kerja sama dengan negara-negara kolaborasi.
Semacam vaccine race dan setiap negara pun bebas memilih vaksin sesuai dengan selera, kemampuan ekonomi, afiliasi politik, atau kondisi geopolitik.
Negara-negara yang memiliki keterkaitan dengan Tiongkok akan memilih menggunakan vaksin Tiongkok.
Sementara itu, negara-negara Barat akan lebih memilih vaksin buatan Amerika atau Eropa.
Pendulum bergerak ke arah yang disukai dan pemerintah ialah penentunya.
Nilai politis implementasi vaksin tinggi.
Karena itu, sejumlah pemerintah ingin cepat-cepat program vaksin masuk dan berjalan di negara mereka sekalipun safety standard atau uji vaksin lengkap belum terlewati.
Kendala lain ialah penerimaan vaksin (vaccine acceptance).
Dunia saat ini diterpa opini, narasi, dan gerakan antivaksinasi.
Berbagai alasan berada di belakang fenomena ini, termasuk agama, politik, efektivitas, dan keamanan vaksin.
Akibat fenomena ini, saat ini vaksin-vaksin konvensional mengalami penurunan cakupan pada tingkat dunia.
WHO menyebutkan sebagai dangerous stagnation of global vaccination rate (perlambatan serius tingkat utilisasi vaksin).
Pandemi covid-19 telanjur diikuti infodemi masif; salah satunya ialah vaksin adalah ladang megabisnis dari sejumlah korporasi atau negara yang melakukan konspirasi.
Atas alasan ini, cukup banyak masyarakat yang bersikap skeptis atau tidak percaya terhadap vaksin.

Di Amerika Serikat, hampir setengah populasi tidak ingin divaksinasi walau gratis.
Mereka tidak bisa dipaksa karena hal ini berkaitan dengan masalah etik.
Ingin divaksin atau tidak ialah individual preference, bersifat sukarela dan tanpa paksaan.

Dengan beragam kondisi kompleks yang menyelimuti vaksin, terlalu dini berharap bahwa vaksin covid-19 yang efektif, aman, dan berskala luas dapat segera tersedia dan diimplementasikan.

Perjalanan memperoleh vaksin yang seideal itu masih cukup panjang dan berliku.
Masih banyak kendala dan tantangan walau kita sudah ingin cepat-cepat tiba pada tahap itu.

@drr