Kategori
opini publik

Pancasila Mau Diapakan….?

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

Busur ┬áNews Com,Jakarta – Jadi Pancasila itu mau diapakan*?

Pancasila itu pelaksanaannya ya birokrat yang tidak menyiksa masyarakat untuk antre dan setor upeti pungli terhadap jasa lisensi brokrasi yang mesti dihasilkan untuk rakyat yang memerlukan lisensi dan akreditasi.

Jadi Pancasila itu harus diwujudkan dalam praktek pelayanan aparatur birokrasi terhadap masyarakat secara transparan, terjangkau dan efektif serta berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi secara cepat dan merata.

*Pancasila itu Tertib Hukum tidak ada diskriminasi, pilih kasih, tebang pilih dan penekanan korupsi berjamaah secara efektif*.

Jika birokrat diberi remunerasi layak dan kemudian koruptor ditindak tegas dengan pemiskinan aset maka mereka akan gentar korupsi.

Sekarang kelas menengah RI sudah setara dengan kelas menengah Eropa Barat dan AS, akankah mereka menuju jalan pencerahan menghentikan praktek korupsi oligarki era feodal kleptokrat menuju negara kesejahteraan yang kuat seperti Eropa Barat dan AS.

Atau mereka akan terjerat dalam kelas menengah korup, plutocrat, kleptokrat yang terus menghisap darah rakyat sehingga Indonesia akan mengalami nasib seperti negara negara Amerika Latin yang hanya slogannnya saja sosialis, pemerataan, demokrasi tapi jusru tetap melestarikan kesenjangan kaya miskin era tuan tanah colonial feudal junta militer maupun populis yang hanya melestarikan keserakahan oligarki di atas stagnasi pendapatan rakyat.

Jadi Pancasila sejati harus mampu mengejawantahkan norma norma dan nilai nilai luhur Pancasila itu dalam praktek kehidupan sehari hari bukan sekadar dipidatokan dan di seminarkan atau di simposiumkan.

*Yang diperlukan adalah action, pelaksanaan, perbuatan, program yang secara konkret dirasakan oleh masyarakat, delivery semua janji muluk dan idee luhur in realita in concerto*.

*Apa lagi bahaya terbesar bagi Indonesia*?

Dunia masih mengalami kerawanan ideologi ISIS yang bisa disulut atau berkolusi dengan neo Marxis keblinger sehingga bisa terjadi aksi destruktif hibrida ISIS kanan dan radikalis neo Marxis yang belum kapok dengan kebangkrutan Marxisme Soviet dan Maoisme RRT.

Peta geopolitik sedang bertransformasi dengan kecepatan tinggi dan mendadak bisa berubah seperti Arab Spring menjadi tsunami pengungsi ke daratan Eropa.

Kalau Eropa tidak berani bersikap terhadap tsunami kebiadaban eksekusi mati terhadap Asia Bibi, wanita Pakistan yang diancam hukuman mati karena menolak bertukar agama maka Eropa tidak memberikan pengajaran pencerahan kepada dogmatic ISIS yang berambisi menegakkan kalifah ISIS dan melestarikan kerawanan kekerasan tirani agama penguasa kepada masyarakat lemah.
Cornelius Purba menulis di The Jakarta Post Minggu 8 Mei 2016 bahwa Jokowi punya kapasitas untuk menggebrak kemacetan politik.

Saya percaya presiden ketujuh Indonesia yang lahir 21 Juni 1961 akan punya kapabilitas yang tidak kalah dari para pendahulunya dan yang lebih penting, belajar untuk tidak mengulangi kesalahan mereka tapi memilah kebijakan yang tepat dan cerdas untuk memimpin negeri yang sudah berusia 71 tahun ini secara lebih canggih dan cermat.

*Saya yakin Indonesia akan menjadi no 4 sedunia dalam kualitas pada seabad Indonesia 2045*.

(Rn).