PANCASILA jangan hanya digunakan ketika menjawab persoalan keberagaman etnis dan agama, namun harus mampu menjawab permasalahan

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – PANCASILA jangan hanya digunakan ketika menjawab persoalan keberagaman etnis dan agama, namun harus mampu menjawab permasalahan
ketimpangan pembangunan,
kemiskinan dan
keadilan sosial di Indonesia.

 

Bahwa di dunia saat ini,
Terdapat kecenderungan kuat adanya arus balik demokrasi yang terwujud dalam bentuk POPULISME.

Bangkitnya POPULISME muncul di Inggris, Prancis, Jerman, serta Amerika Serikat yang dipicu oleh kebijakan kontroversial Donald Trump.

Bahwa paham POPULISME mereduksi proses demokrasi dengan mengkonstruksi pemikiran publik, agar pilihan politiknya hanya berbasis pada sentimen primordialisme.

 

Kebangkitan POPULISME ini bertanggung jawab atas absennya kontestasi ideologi, konsep, serta program-program dalam proses Demokrasi di Indonesia.

Akhirnya yang muncul adalah propaganda sentimen primordial SARA dalam meraup suara konstituen.

 

POPULISME itu akan membunuh rasionalitas publik dalam berpartisipasi secara politik dalam proses demokrasi di Indonesia.
Hal ini akan menjadi preseden buruk bagi kehidupan demokrasi Indonesia ke depan.

 

*Perlu adanya penguatan masyarakat sipil (civil society) dan partai politik, serta membangun pendidikan kewarganegaraan (civic education) sebagai sarana untuk membendung POPULISME di Indonesia*.

 

Para pemuda seharusnya siap berdiri di garda terdepan untuk melawan
intolerasi dan
korupsi

Yang merupakan problem terbesar Bangsa Indonesia.

(Rn)