Kategori
Artikel

Pahala Mengingat Mati Ada 3 cara mengingat mati, yakni dengan cara cinta, takut, dan malu kepada Allah SWT

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Pahala Mengingat Mati
Ada 3 cara mengingat mati, yakni dengan cara cinta, takut, dan malu kepada Allah SWT.

Nabi SAW bersabda,
“Barangsiapa yang tidak menyukai berjumpa dengan Allah, maka Allah tidak menyukai berjumpa dengannya.”
(HR. Bukhari).

Dengan kata lain orang suka berjumpa dengan Allah SWT, maka Allah SWT juga suka berjumpa dengannya nanti di akhirat.
Orang yang suka berjumpa dengan Allah SWT adalah orang suka mengingat mati.

Dalam Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi Banten menulis tiga hal mengenai ini.
Pertama, orang yang mati dalam keadaan mencintai Allah SWT, maka akan dimasukkan ke surga.
Kedua, orang yang mati dalam keadaan takut kepada Allah SWT, maka akan dibebaskan dari neraka.
Ketiga, orang yang mati dalam keadaan malu kepada Allah, maka dosanya tidak ditulis.

Jadi ada tiga cara mengingat mati, yakni dengan cara cinta, takut, dan malu kepada Allah SWT.
Ketiga cara ini secara alami terjadi tergantung kadar keimanan seseorang.
Seseorang bisa memulai dengan menanamkan rasa malu kepada Allah SWT.
Misalnya, malu karena beribadah kurang dari satu jam saja padahal Allah SWT memberi 24 jam dalam sehari.

Berikutnya dari malu sedapat mungkin bisa beranjak kepada rasa takut.
Orang yang takut kepada Allah SWT mendedikaskan ibadahnya agar terhindar dari neraka.
Cara pandang ini, mirip seorang budak yang rajin bekerja untuk majikannya atas dasar upah.
Dia terus bekerja karena takut dikurangi upahnya.
Sebab dengan upahnya itu ia menggantungkan hidupnya.

Namun Nabi SAW bersabda,
“Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah, di antaranya seorang hamba (laki-laki) yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun dia mengatakan, “Aku takut kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, transformasi hati dari takut ke cinta kepada Allah SWT hingga meregang nyawa sangat didamba setiap muslim sejati.
Orang yang cinta kepada Allah SWT sejatinya tidak lagi takut terhadap neraka atau mengharap surga, namun karena ia merasakan betapa sesak hatinya memendam rindu kepada Allah SWT. Rindu itu luruh setelah dia mati.

Nabi SAW bersabda, seperti dikutip Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Hadits, “Kematian adalah jembatan yang dapat membuat seorang kekasih sampai kepada Sang Kekasih.”

Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tanqihul Qaul, kekasih Allah SWT adalah orang beriman yang jujur dan orang Islam yang benar yang selamat orang lain dari tangan dan lisannya.
Namun manakala seseorang berusaha keras untuk dapat mengingat matisehingga bisa mati dalam keadaan cinta, takut, dan malu kepada Allah SWT, di lain pihak setan begitu hebat menggoda manusia. Setan mengetahui sisi lemah manusia, yakni mencintai tiga hal, yakni makanan, pakaian, dan rumah mewah. Dengan semua itu, manusia digoda setan.
Terkait hal ini, Syaikh Nawawi Banten menceritakan ulang tentang pengakuan Hatim al-Asham, seorang ulama besar pada masanya. Hatim al-Asham bercerita, “Setiap pagi setan selalu saja bertanya mengenai tiga hal kepadaku. Pertama, setan bertanya, “Apa yang kamu makan?” Kedua, “Apa yang kamu pakai?” Ketiga, “Di mana kamu tinggal?”

Hatim al-Asham menyadari benar bahwa ketiga pertanyaan setan itu adalah jebakan.
Setan hendak menjebak Hatim al-Asham agar makanan lezat, pakaian indah, dan rumah megah dapat melupakannya dari mengingat mati.
Padahal Allah SWT sudah mewanti-wanti,
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”
(QS. ‘Abasa/80: 24).

Akhinya, Hatim al-Asham menjawab secara berurut-turut ketiga pertanyaan setan itu,
“Aku memakan kematian, aku memakai kain kafan, dan aku tinggal di kuburan.”
Mendengar ketiga jawaban Hatim al-Asham itu, tulis Syaikh Nawawi Banten, setan lari tunggang-langgang.
Rupanya setan takut kepada Hatim al-Asham yang selalu ingat akan kematian.

@drr