Kategori
Artikel

Pada 2020, di saat kita baru mulai menyadari arus besar revolusi industri 4.0, tiba-tiba pandemi covid-19 datang secara tak terduga

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Pada 2020, di saat kita baru mulai menyadari arus besar revolusi industri 4.0, tiba-tiba pandemi covid-19 datang secara tak terduga.

Pandemi covid-19 telah menjadi sumber ketidakpastian baru: kapan kerja akan kembali normal dan kapan sekolah buka secara luring sebagaimana biasanya?

Ketidakpastian ini telah berdampak secara ekonomi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Ketidakpastian pada akhirnya telah menjadi ketidakpastian global.
Artinya, semua negara berada dalam situasi yang sama sehingga siapa yang paling responsif dialah yang akan bertahan.

Bagaimana agar Indonesia tergolong tidak saja bertahan pada 2021, tetapi juga menjadikan 2021 sebagai momentum kebangkitan baru?

Kekuatan inovasi
Pandemi covid-19 telah membawa dunia pada sebuah krisis besar. Namun, pada umumnya setiap krisis ternyata menghasilkan lompatan-lompatan inovasi baru.
Saat krisis Perang Dunia Kedua telah ditemukan komputer yang pertama kali, disertai mesin jet pesawat, obat penisilin, dan radar.
Pertanyaannya, lompatan inovasi apa lagi yang akan muncul pada saat krisis covid-19 sehingga menjadi tonggak baru perubahan dunia?
Dalam Indeks Inovasi Global 2020, Indonesia berada di urutan ke-85. Di Asia Tenggara, posisi Indonesia di bawah Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Brunei. Artinya, di Asia Tenggara saja Indonesia jauh tertinggal.

Apakah mungkin pada 2021 Indonesia akan menyodok ke posisi tiga besar di Asia Tenggara?
Apakah Indonesia akan berhasil melakukan lompatan-lompatan inovasi sehingga Indonesia benar-benar menjadi negara yang berpengaruh di dunia?

Ada sejumlah syarat agar lompatan-lompatan inovasi itu dapat dilakukan. Pertama, lompatan inovasi mensyaratkan kekuatan future practice atau next practice. Ini akan menjadi kekuatan disrupsi, sebagaimana Rhenald Kasali sering ungkap.
Bila kita secara kompak memiliki orientasi baru untuk terus menghasilkan future practice, kitalah yang akan menjadi penentu kecenderungan perubahan.

Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya telah membuat dunia semakin berjejaring. Lalu Steve Chan, Chad Hurly, dan Jaweed Karim menerobos batas kelaziman bisnis media dengan Youtube.
Kini, semua orang bisa menjadi artis, penyanyi, pelawak, presenter, dan tokoh hanya melalui Youtube. Bisnis media tak lagi perlu konten. Inilah yang mendisrupsi media televisi. CNN, NHK, dan BBC tak lagi bersaing, tapi mereka sama-sama menghadapi saingan baru yang sama sekali bukan media televisi, yaitu Youtube. Merekalah contoh yang sukses menjalankan future practice, yang tentu selalu diiringi dengan kreativitas tinggi. Masalah saat ini ialah pada umumnya masyarakat masih berorientasi pada best practice, bukan future practice.

Artinya, kita masih asyik meniru orang lain. Saat berbuat, kita selalu mencari rujukan dulu dan tidak berani melangkah manakala rujukan tidak ada. Kuatnya orientasi pada best practice hanya akan menjadikan kita sebagai pengikut selamanya. Akibatnya, kalaupun kita maju, kemajuan kita akan selamanya di bawah bayang-bayang orang lain yang menjadi rujukan. Kedua, future practice hanya hadir di kalangan orang-orang yang memiliki growth mindset, dan bukan fixed mindset. Istilah growth mindset dipopuperkan Carol S Dweck (2007). Orang yang memiliki growth mindset selalu sadar bahwa dunia telah berkembang dan berubah sehingga tidak ada kata lain selain harus ikut berubah. Baginya, tidak ada istilah gagal. Kegagalan akan dijadikannya bahan pembelajaran berikutnya untuk tumbuh berkembang. Sebaliknya, orang yang memiliki fixed mindset selalu menganggap kegagalan ialah batas kemampuannya.

Orang dengan growth mindset yakin bahwa dirinya mampu mengubah dirinya sendiri dan selalu ingin mencoba dengan hal-hal baru. Sebaliknya, orang dengan fixed mindset akan fokus pada keterbatasannya dan kemampuan setiap orang dianggapnya fixed.
Orang dengan growth mindset hidup penuh pikiran positif dan optimisme. Sebaliknya orang dengan fixed mindset hidup penuh dengan pikiran negatif dan pesimisme. Ketiga, growth mindset umumnya dimiliki orang yang tergolong agile learner, pembelajar yang lincah, cepat, dan tangkas. Hari ini, yang diperlukan bukan sekadar pembelajar, melainkan juga pembelajar yang cepat, lincah, dan tangkas. Orang yang bertahan dan mampu merespons perubahan ialah orang-orang yang selalu cepat belajar sehingga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru mana pun. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada 2030. Namun, dengan berbekal sikap agile learner, kita akan cepat beradaptasi.
Keempat, tiga kata kunci di atas (future practice, growth mindset, agile learner) dapat dikembangkan melalui peran perguruan tinggi (PT). PT yang berorientasi pada lompatan inovasi harus terlebih dahulu diperkuat para mahasiswa dan dosennya, yang bercirikan tiga kata kunci tersebut. Oleh karena itu, untuk menuju titik itu, tidak ada cara lain bagi PT selain melakukan perombakan kurikulum dan menciptakan ekosistem baru yang kondusif bagi tumbuhnya tiga kunci di atas. Dengan kata lain, lompatan-lompatan inovasi sebagai penentu sejarah baru dunia akan sangat bergantung pada kekuatan PT. PT hebat akan menghasilkan inovasi hebat. Bisa jadi rendahnya kita dalam indeks inovasi global juga menjadi cerminan peran PT yang belum maksimal, atau belum dimaksimalkan. Fakta membuktikan bahwa bangsa hebat ditentukan lompatan inovasi yang hebat. Inovasi hebat akan ditentukan PT yang hebat. Karena itu, untuk menjadi bangsa hebat, pembenahan dan penguatan PT ialah mutlak.

Optimisme
Apakah kita bisa menjadi bangsa hebat? Bangsa kita masih terus dihantui beban masa lalu sebagai bangsa yang terjajah selama tiga setengah abad. Seolah-olah, beban masa lalu akan terus mewarnai sikap keseharian kita yang merasa inferior, minder, dan tidak percaya diri. Padahal, Bung Karno dan Angkatan 45 telah memberi contoh, bahwa kita bisa bangkit.

Proklamasi kemerdekaan ialah bukti bahwa kitalah penentu nasib masa depan bangsa ini. Kita tidak beri cek kosong kepada siapa pun untuk menentukan masa depan bangsa ini. Bahkan, pendiri Republik ini telah memberikan contoh dan teladan bahwa kita bisa bangkit dan menjadi pemimpin dunia.
Konferensi Asia-Afrika dan KTT Nonblok ialah bukti inferioritas telah kita pupus dan kita benar-benar menjadi negara yang berpengaruh di dunia.

Pertanyaan berikutnya ialah 100 tahun ulang tahun kemerdekaan pada 2045 nanti, bangsa kita akan menjadi seperti apa?
Kata pepatah, mimpi itu gratis. Keberanian untuk bermimpi akan menentukan masa depan kita.

Apakah kita berani bermimpi, bahwa pada 2045 kita menjadi bangsa nomor satu di dunia?
Sama-sama bermimpi mestinya kita bermimpi maksimal sebagaimana Bung Karno ucapkan, “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Bermimpi menjadi nomor satu di dunia bukanlah khayalan.
Apa yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan?

Sebenarnya tidak ada bedanya. Mereka hidup 24 jam dengan dua mata, dua telinga, dua kaki, dan dua tangan. Bahkan, secara ekonomi Korea Selatan pernah setara dengan Indonesia pada 1960-an. Bedanya ada pada tiga hal: visi, strategi, dan eksekusi. Karena itulah, mimpi besar harus diikuti dengan lompatan visi yang jauh ke depan dan adaptif terhadap perubahan, disertai dengan strategi yang jitu, dan eksekusi yang cepat-tepat. Hari ini, ketepatan tidak cukup, tetapi perlu kecepatan. Pandemi covid-19 membuat semua negara seolah sama kondisinya.

Pada titik start yang sama ini, kemudian bergantung pada siapa yang lebih cepat lagi untuk berlari. Kecepatan kita berlari sangat bergantung dari visi, strategi, dan eksekusi. Kita perlu fokus pada tiga kunci itu.

Optimisme itu, harus terus kita bangun.
Optimisme ialah energi positif untuk membawa kita keluar dari krisis dan energi menemukan masa depan.
Saatnya kita sudahi energi negatif yang masih subur pada tubuh bangsa ini. Kekompakan dan kebersamaan adalah modal penting untuk kemajuan. Tak terbayangkan bila itu semua diperkuat dengan spirit growth mindset dan orientasi future practice, kita akan kaya inovasi dan ini akan menjadi sumber inspirasi untuk terus berinovasi lagi.

Inovasi yang berkelanjutan ini ialah modal penting menjadi negara hebat. Apa yang akan terjadi pada 2045?

Kita benar-benar tidak tahu.
Namun, Abraham Lincoln mengingatkan kita bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan ialah dengan menciptakannya.

Selama 25 tahun mendatang, kita harus benar-benar berbenah.
Indonesia 2045 akan sangat bergantung pada apa yang kita ciptakan hari ini.
Karena itulah, harus ada tonggak inovasi baru pada 2021.
Indonesia 2021 ialah penentu Indonesia 2045.

 

@garsantara