Orang yang baik pangkalnya dan baik pula ujungnya. Itulah orang-orang mulia.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —:
Orang yang baik pangkalnya dan baik pula ujungnya. Itulah orang-orang mulia.

Suatu saat, Nabi Muhammad SAW mengarahkan pandangan kepada seorang prajurit yang gagah di medan pertempuran melawan kaum musyrikin.
Seketika, Beliau berkata, “Siapa yang ingin tahu penghuni neraka, lihatlah orang ini.”
Lalu, seorang sahabat mengikutinya hingga terluka parah dan ingin dimatikan segera.
Lalu, ia mengambil sebilah pedang dan menghujamkan ke dadanya.
Beliau pun bersabda, “Sungguh, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak melakukan amalan penghuni surga, tapi menjadi penghuni neraka.
Sebaliknya, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengerjakan amalan penghuni neraka, tapi akhirnya menjadi penghuni surga.
Sesungguhnya, amalan itu dihitung dengan penutupnya.”
(HR Bukhari).

Belakangan ini semakin banyak orang yang mudah mengafirkan atau menuduh orang lain ahli bid’ah yang sesat hanya karena beda pemahaman.
Mereka merasa paling benar, ahli sunah dan masuk surga, serta tidak mau mendengar pendapat orang lain. Itulah kesombongan karena menuruti hawa nafsu.
(QS an-Najm [53]: 32).

Sejatinya, kehidupan dunia ini laksana permainan yang dibatasi waktu. (QS al-An’am [6]: 32). Siapa yang meraih angka lebih tinggi, ia pemenangnya. Namun, orang yang meraih skor tinggi pun belum tentu menang, selagi permainan belum usai.
Sebab, pada saat injury time (detik-detik terakhir) atau additional time (perpanjangan waktu) segalanya bisa berubah. Artinya, seorang yang saleh belum tentu selamat, selagi kehidupan masih berjalan dan belum berakhir (mati).
Kita diajarkan agar memulai perbuatan dengan niat ikhlas (HR Bukhari). Namun, manusia bisa saja tergelincir karena pengaruh pendidikan, teman atau lingkungan sosial yang kurang baik. Orang yang semula saleh bisa berujung buruk (su’ul khatimah). Sebaliknya, orang yang awalnya buruk, bisa berakhir baik (husnul khatimah).
Oleh karena itu, manusia dibagi menjadi empat macam.
Pertama, orang yang buruk pangkalnya dan buruk pula ujungnya. Itulah orang-orang kafir yang hatinya telah tertutup dari kebenaran. (QS al-Baqarah [2]: 6-7). Mereka ingkar kepada Allah dan Nabi SAW. Misalnya Abu Lahab yang diabadikan dalam Alquran.
Kedua, orang yang buruk pangkalnya, tapi baik ujungya. Itulah orang-orang yang pernah tersesat jalan hidupnya, lalu sadar dan kembali ke jalan yang benar. Contohnya, Umar Bin Khattab RA yang menjadi pembela Islam.

Ketiga, orang yang baik pangkalnya, tapi buruk ujungnya. Itulah orang-orang saleh yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu dan rayuan setan, sehingga terjerumus dalam kekufuran. Seperti kisah lelaki yang disebutkan di atas.

Keempat, orang yang baik pangkalnya dan baik pula ujungnya. Itulah orang-orang mulia yang terlahir dalam keluarga yang taat kepada Allah SWT. Seumpama Abu Bakar RA, Ali bin Abi Thalib RA, para sahabat, tabi’iin dan yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Akhirnya, kita selalu berdoa, “Yaa Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungya, dan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan sebaik-baik hariku pada saat berjumpa dengan-Mu.”

Aamiin.

Allahu a’lam bish-shawab.

(*

Rasulullah SAW memberikan wasiat sesuai dengan kebutuhan sahabat

Nabi Muhammad SAW menyampaikan beberapawasiat kepada para sahabat.
Di antaranya adalah wasiat yang disampaikan kepada Abu Dzar dan Muadz bin Jabal.

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ”

Bertakwalah kepada Allah SWT di manapun kamu berada, iringilah kejelekan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi)

Wasiat berikutnya yaitu sebagaimana dipaparkan Imam Ahmad yang meriwayatkan dalam Musnadnya, dalam hadits Abu Dzar. Bahwa Rasulullah SAW memerintahkan Abu Dzar untuk melakukan tujuh hal yaitu sebagai berikut:
أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ، وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي، وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا، وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا، وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Tujuh itu ialah, mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, memperhatikan orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat siapa yang ada di atasku. menyambung tali silaturahim (yang masih ada hubungan saudara) meski saudara tersebut bersikap kasar, tidak meminta-minta pada seorang pun, mengatakan yang benar meski pahit, tidak takut terhadap celaan saat berdakwah di jalan Allah, memperbanyak ucapan ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’ karena kalimat ini termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.
Masih dalam riwayat Imam Ahmad dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah SAW menasihati Abu Dzar untuk melebihkan kuah saat memasak makanan agar ada porsi untuk tetangga.
Dalam hadits Abu Dawud, dari Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW menasihati Muadz agar tidak meninggalkan sholat sebelum mengucapkan:

‘اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik.”
Kemudian, dalam hadits Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW menasihati dirinya untuk melakukan tiga hal:

أوصاني خليلي بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام “

Berpuasa tiga hari setiap bulan; sholat dhuha; dan melakukan (sholat) witir sebelum tidur.”
Hadits riwayat Imam Ahmad, dari Said bin Zaid, juga menceritakan ada seorang laki-laki yang meminta diberi nasihat oleh Rasulullah SAW. Lalu Nabi SAW bersabda:

أُوْصِيكَ أَنْ تَسْتَحيِيَ مَنَ اللَّهِ، كَمَا تَسْتَحيِيَ مِن الرجلِ الصالِحِ مِنْ قوْمِكَ ”

Saya nasihati kamu untuk tidak menjadi seorang suka mengutuk.”
Wasiat lain yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat yaitu mengenai amarah.
Dalam hadits Bukhari, dari Abu Hurairah, seorang pria meminta diberi nasihat.
Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah.” Kalimat ini diucapkan Rasulullah SAW beberapa kali.

 

@garsantara