Kategori
Artikel

Orang tua mana yang tidak stres ketika anaknya yang masih kelas 5 SD setiap hari pegang telepon seluler

 

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Orang tua mana yang tidak stres ketika anaknya yang masih kelas 5 SD setiap hari pegang telepon seluler, main game hingga pukul 03.00 dinihari, dan marah jika ditegur.
Lalu ia mengancam tidak mau belajar secara daring dengan gurunya dalam masa pandemi covid-19.
Siapa pula yang tidak panik jika saat belajar di rumah secara formal keesokan harinya bersama guru, sang anak mengantuk, dan akhirnya tertidur.
Bayangkan, situasi seperti itu berlangsung sejak Maret lalu ketika pemerintah memutuskan masyarakat diharuskan belajar, bekerja dan beribadah di rumah guna mengeliminasi penularan covid-19.
Sampai sekarang. Hampir setengah tahun kita hidup bersama pandemi covid-19. Informasi formal yang tersaji di publik sejak Maret hingga saat ini adalah berupa statistik berapa jumlah kasus positif covid-19, berapa yang meninggal dunia, dan berapa banyak yang sembuh. Sampai sedemikian jauh, kita tidak pernah mendapatkan angka berapa orang yang stres akibat covid-19, berapa orang yang panik dan parno alias paranoid, hingga berapa orang yang setiap hari dihantui perasaan takut berlebihan. Atau juga, berapa penduduk lansia yang setiap hari berpikir ‘jangan-jangan besok giliranku mati’ karena terinfeksi covid. Mungkin juga muncul rasa waswas ada orang yang dicintai (orang tua, anak) sakit lalu meninggal dunia karena virus ini. Padahal bukan tidak mungkin, mereka yang psikisnya terinfeksi covid-19, jauh lebih besar daripada mereka yang fisiknya terpapar virus pengundang kematian tersebut. Banyak ahli menengarai, mereka yang kejiwaannya terganggu (jangan diartikan gila, ya) akibat trauma covid-19 cukup banyak. Namun tidak tahu harus melapor dan berkonsultasi ke mana dan siapa? Gangguan kejiwaan Tanpa disadari, secara komunal, sebenarnya sudah banyak di antara kita yang mengalami gangguan kejiwaan selama pandemi ini. Penolakan terhadap jenazah yang meninggal karena covid-19 atau merebut secara paksa jenazah anggota keluarga atau tetangga yang meninggal di rumah sakit dan diperlakukan layaknya pasien Covid-19, menurut saya, juga bagian dari gangguan kejiwaan. Tak bermaksud merasa benar sendiri- sekaligus ingin tahu sebenarnya fenomena apa yang sedang terjadi terkait covid-19-, pada Rabu (12/8/2020) saya mencoba ‘mencuri dengar’ webinar Forum Diskusi Denpasar 12 yang diselenggarakan di rumah dinas Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Tema yang diusung atau didiskusikan cukup mengusik rasa ingin tahu saya, yaitu ‘Mengantisipasi Rawan Kesehatan Jiwa Selama Pandemi’. Benar, apa yang saya dengar di forum yang diselenggarakan DPP Partai NasDem Koordinator Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis itu, akhirnya membuka pengetahuan saya (mungkin juga Anda) bahwa kasus covid-19 juga membuat psikis kita sakit, paling tidak, lelah.

Mungkin dengan bangga kita bisa mengklaim bahwa fisik kita punya imunitas menangkal covid-19. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa secara psikologi, kita sebenarnya sakit. Konkretnya jiwa kita terganggu. Kalau secara fisik kita bisa minum vitamin dan makan makanan bergizi untuk menangkal virus tersebut. Lalu, kita mau minum dan makan apa jika psikis yang diserang covid-19? Karenanya benar apa yang dikatakan Direktur Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan, Fidiansyah, bahwa jika fisik kita yang diserang, entah oleh penyakit apa pun lebih mudah penyembuhannya, diberi obat, selesai. Namun, jika psikis yang diserang, proses pemulihannya bisa berlangsung lama. Dalam masa pendemi seperti sekarang, menurut dia, begitu mudah orang mengalami gangguan kejiwaan. Berita-berita yang tidak jelas terkait covid-19, hoaks dan kabar miring lainnya, disebut Fidiansyah, kerap membuat masyarakat bingung dan mengalami gangguan psikis.
Fakta lain, kita kini bekerja dan belajar di rumah. Tidak semua keluarga mampu, sementara kita diwajibkan menggunakan aplikasi zoom untuk belajar dan bekerja. Di rumah telepon seluler atau laptop terbatas, sehingga harus digunakan secara bergantian. Tapi hal itu juga tak menjawab persoalan karena jam penggunaannya sama. Ujung-ujungnya bisa muncul kasus kekerasan dalam rumah tangga. Fidiansyah menjelaskan jika seseorang mengalami gangguan kejiwaan, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan konseling. Kita beruntung, Kementerian Kesehatan kini sudah punya hotline khusus 119 extention 8 yang diperuntukkan bagi anggota masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan. Persoalannya banyak anggota masyarakat yang menyimpan stigma jika seseorang berkonsultasi terkait dengan perasaannya (psikis) selalu dikaitkan dengan gangguan kejiwaan yang diartikan secara sempit dengan gila. Sampai sedemikian jauh, saya tidak mendapatkan informasi berapa banyak anggota masyarakat yang telah memanfaatkan hotline tersebut untuk menyampaikan keluhannya terkait dengan dampak lain pandemi covid-19. Reaksi atau respons masyarakat terhadap covid-19 dengan segala efeknya, seperti diungkapkan Nurul Hartini, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, memang luar biasa. Sebagian besar berasumsi mereka yang terinfeksi covid-19 pasti akan berujung pada kematian. Istilah ‘karantina’ belakangan ini juga menjadi sesuatu yang menakutkan. Padahal kenyataannya seharusnya tidak demikian. Sebab menurut Nurul, mereka yang dikarantina di suatu tempat karena alasan covid-19, tetap bisa bersosialisasi dengan sesama, juga melakukan kegiatan bersama. Fakta-fakta seperti ini memang perlu disosialisasikan ke masyarakat secara masif. Pasalnya, pandemi covid-19 telah berdampak kepada masyarakat di semua level usia, bahkan anak-anak. Mereka dicekam rasa takut, apalagi jika mengetahui ada anggota keluarga yang terinfeksi virus tersebut. Bisa dipahami, sebab menurut Lahifah Hanum, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, selama pandemi banyak anak yang bingung, bosan, takut, mengalami kesulitan belajar, butuh kuota internet, dan kesepian. Itu karena mereka tidak punya teman bermain layaknya ketika masih bersekolah secara fisik. Sementara di kalangan orang tua, dampak psikis covid-19 adalah stres, kesepian, banyak tuntutan, kesibukan bertambah, kesulitan finansial, konflik di dalam keluarga dan ancaman terhadap tingkat kesejahteraan.

Ternyata, menurut Lathifah, para guru pun juga mengalami stres. Dia menyebut, banyak guru yang mengalami kebingungan dalam mengajar, tidak siap menghadapi perubahan. Para guru dalam mengajar masih menerapkan cara off line yang di-online-kan dan membuat para siswa bosan dan bingung. Layanan psikologi = program KB Jika Kementerian Kesehatan sebagaimana disebut Fidiansyah di atas sudah membuka hotline 119 ext 8, Lathifa menyarankan layanan psikologi perlu dilakukan lebih terstruktur dan masif layaknya program keluarga berencana (KB). “Agar semua anggota masyarakat terjamah, tahu dan merasa nyaman,” kata Lathifa. Sayang memang, seperti diungkapkan Siswantini Suryandari, wartawan bidang kesehatan yang pernah meraih Award Winning Journalist, kasus kesehatan jiwa di Indonesia selama ini tidak menjadi prioritas. Media massa sendiri, menurut dia, kurang banyak memberitakan kasus-kasus seperti, tidak seperti peristiwa politik atau ekonomi. Praktis, sosialisasi betapa pentingnya kesehatan jiwa, tidak ada.

Padahal kesehatan jiwa dan raga sama-sama penting, sehingga perhatian dan penanganannya harus dilakukan secara seimbang.
Mengutip hasil penelitian sebuah lembaga internasional, Nova Riyanti Yusuf, Sekjen Asian Federation of Psychiatric Association — ia yang menginisiasi UU Kesehatan Jiwa — dalam diskusi Denpasar 12 mengungkapkan bahwa pada 2030 akan banyak orang di dunia yang mengalami depresi. Penelitian itu dan hasilnya terungkap sebelum pandemi covid-19. Setelah covid-19, menurut Nova, tentu mereka yang depresi lebih cepat, tak harus menunggu 2030. Yang memprihatinkan, mereka yang mengalami depresi rata-rata berusia muda. Seperti apa contoh orang yang depresi, barangkali bisa saya kutip kisah nyata yang diungkapkan Siswantini. Suatu hari saat kontrol di rumah sakit (Siswantini adalah penyintas kanker), diharuskan rapid test dulu di ruang khusus. Di ruangan ia menyaksikan ada pasien yang hasil rapid test-nya reaktif (positif). Mengetahui hal itu hasil rapid test disobek-sobek sang pasien. Ia tidak terima. Panik pastinya. Kasus pasien Covid-19 yang ‘melarikan diri’, bahkan sampai ada yang bunuh diri lompat dari jendela rumah sakit sudah kita dengar. Itu semua bukan fiksi. Dampak covid-19 terhadap gangguan kejiwaan sudah demikian serius. Pandemi covid-19, menurut wartawan senior Saur Hutabarat, membuat bayangan kita akan masa depan semakin berat. Kita kini tidak bisa lagi melihat atau mengagung-agungkan masa lalu. Kita mau tidak mau harus membangun kesadaran yang lebih panjang karena menghadapi ketidakpastian. Siapa yang bisa mengetahui, apalagi memastikan, kapan pandemi ini akan berakhir? Yang ada sekarang adalah kepastian yang tidak pasti. Semua itu harus diatasi dan dicarikan solusinya. Saur Hutabarat menyarankan pemerintah agar mengubah atau menggeser pendekatan dalam menangani pandemi covid-19. Kalau selama ini pemerintah mencoba menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan rakyat, sebaiknya diganti dengan pertanyaan dan jawaban apa yang dirasakan rakyat. Ya, apa yang dirasakan rakyat.

Jawaban atas pertanyaan itulah yang harus dilakukan pemerintah.
Dengan begitu, seperti yang diharapkan negara dan kita semua layaknya syair lagu kebangsaan Indonesia Raya, jiwa dan raga harus sama-sama kita bangunkan.
Agar jiwa dan raga kita sehat.

@drr