Orang fasik rugi di dunia dan di akhirat

 

 

Busur.news.com, JAKARTA — Orang fasik rugi di dunia dan di akhirat.

Alquran telah memberikan gambaran tentang sifat orang-orang fasik.
Ini tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 27.

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Dalam tafsir tahlili, tafsir Alquran Kementerian Agama menjelaskan ayat tersebut menjelaskan tentang sifat-sifat orang fasik dan juga orang kafir.
Sifat mereka melanggar perjanjian dengan Allah sesudah perjanjian itu teguh.
Memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Orang-orang yang merusak perjanjian Allah, yaitu merusak perjanjian Allah dengan makhluk-Nya, bahwa seluruh makhluk-Nya akan beriman hanya kepada-Nya, kepada para malaikat, kepada para rasul, kepada kitab-kitab-Nya, kepada hari kemudian dan kepada adanya qada dan qadar Allah, mengikuti semua perintah dan menghentikan semua larangan-Nya.
Untuk itu Allah menganugerahkan kepada manusia akal, pikiran, anggota badan dan sebagainya agar manusia selalu ingat akan janjinya itu.
Tetapi orang-orang fasik tidak mau mengindahkannya.
Pada surat Al Araf ayat 179 bahkan disebutkan mereka mempunyai hati, namun tak dipergunakan untuk memahami ayat Allah, memiliki mata tidak dipergunakan melihat tanda kebesaran Allah, punya telinga tak dipergunakan untuk mendengar ayat Allah.
Termasuk pula di dalam memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya ialah mengubah, menghapus atau menambah isi dari kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para rasul-Nya yang berakibat putusnya hubungan antara agama Allah yang dibawa para rasul.

Orang-orang fasik membuat kerusakan di bumi karena mereka itu tidak beriman, menghalang-halangi orang lain beriman, memperolok-olokkan yang hak, merusak akidah, merusak atau melenyapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk memakmurkan alam ini buat kemaslahatan manusia serta merusak lingkungan hidup.

Mereka orang-orang yang rugi di dunia karena tindakan-tindakannya dan rugi di akhirat dengan mendapat kemarahan Allah

(*

Iblis menyusup ke dalam aqidah umat ini, yakni kaum muslimin, dari dua jalan.

Iblis senantiasa membuat tipu daya terhadap umat Islam dalam masalah aqidah dan agama.
Dikutip dari buku Talbis Ibliskarya Ibnul Jauzi dengan pentahqiq Syaikh Ali Hasan al-Halabi, Ibnul Jauzi berkata, “Iblis menyusup ke dalam aqidah umat ini, yakni kaum muslimin, dari dua jalan”.

Pertama, taklid (mengikuti tanpa alasan) buta pada nenek moyang dan pendahulu mereka.
Kedua, tenggelam dalam masalah-masalah yang tidak diketahui ujung ataupun pangkalnya, bahkan orang yang tenggelam itu tidak akan bisa sampai pada kedalamannya.
Iblis menjerumuskan semua orang yang termasuk ke dalam golongan kedua ini kepada kerancuan. Kerancuan bagi siapa yang menempuh jalan pertama.
Iblis membuat kerancuan atas orang-orang yang bertaklid dengan membisikkan dalil-dalil yang ada tidak jelas dan kebenaran masih samar, sedang taklid itu jalan selamat. Sebenarnya sudah banyak orang yang tersesat di jalan ini, bahkan karena taklid inilah umat Islam pasti akan binasa.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani taklid kepada nenek moyang dan para ulama (rabi dan pendeta) mereka hingga mereka pun tersesat.
Demikian juga yang menimpa orang-orang jahiliyah.
Ketahuilah alasan yang dengannya orang-orang tersebut menyanjung taklid justru membuat diri mereka menjadi tercela. Sebab bila memang dalil-dalilnya tidak jelas serta kebenaran diyakini masih samar, seharusnyalah taklid ditinggalkan agar tidak menjerumuskan ke dalam kesesatan yang nyata ini.
Sungguh Rabb manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencela orang-orang yang bertaklid kepada nenek moyang dan leluhur mereka.
Demikian sebagaimana termaktub dalam Alquran.
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka’. (Rasul itu) berkata, ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu’. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya,'”
(QS. Az-Zukhruf ayat 23-24).
Ibnul Jauzi mengatakan, adapun kerancuan jalan kedua, setelah iblis berhasil menyesatkan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam kubangan taklid dan menggiring mereka layaknya binatang ternak, ia melirik orang-orang yang pandai dan lalu berusaha menyesatkan mereka.
Ini sesuai dengan kadar kemampuan dirinya dalam menguasai diri mereka.
Di antara mereka ada yang digoda oleh iblis untuk menganggap buruk sikap taklid dan diperintahkan untuk berpikir.
Lantas, iblis mulai menyesatkan setiap individu dengan kecerdikannya dalam menggoda.

Di antara mereka ada yang diperlihatkan iblis bahwa mengikuti lahiriah syariat adalah suatu kelemahan.
Lalu, iblis menggiring mereka untuk mengikuti ajaran filsafat.
Iblis akan terus-menerus berupaya menyesatkan hingga benar-benar mengeluarkan mereka dari Islam.

 

@garsantara