OPOSISI KARDUZ

 

 

Oleh :  Zeng Wei Jian

Pilpres usai. Menyisahkan ampas. PKS & Demokrat nyerang Gerindra. Overt & covert. Direct or indirect. Klotokan.

Keduanya nge-gaz. Takut Prabowo-Puan menang. Freak. Pilpres 2024 masi lama. Peta politik terlalu liquid. Bisa berubah anytime.

Paman Habiburokhman, Advokat paling ganteng & Anggota Komisi III DPR RI, dibikinin meme. Disebut “Penghianat”. Tak lupa Gerindra, Prabowo & Don Dasco pun diserang. Ganas. Bringaz.

Menhan Prabowo memberangus mark up alutsista. Selametin 50 triliun duit rakyat. Export pelor made in Pindad ke Philiphina. Wakil Ketua DPR-RI Don Dasco guarantee & bebaskan 158 orang yang terlibat accident 21-22 Mei, Eggy Sujana, Tofa Lemon & Lieus Sungkharisma.

Tokoh Oposisi cuma bisa ngatain “Anjing Peking”. Nir prestasi. Unfaedah.

Freeriders bermetamorfisis menjadi “Oposisi Rakyat”. Paman Habiburokhman menyebut “Oposisi Karduz”.

Jadi Oposisi cuma modal “beda” doang. Ngotot minta buka ruma ibadah. Giliran mau dibuka, minta tutup. Labelling Paman Habiburokhman akurat; Oposisi Karduz.

Oposisi Karduz produksi narasi “Wagub Jatah PKS”. Amerika lepas tangan apabila Cawapres dari PKS. Sandiaga Uno paling ready. PKS fait-accompli Pa Prabowo di KPU. Di detik terakhir. Moh Taufik ambil inisiatif beri ilegal signature.

Gubernur Ganjar Pranowo kerja tuntas. Pasangan Jokowi-Makruf Amin menang mutlak di 35 Kabupaten-Kota Jawa Tengah. Operasi Sapu bersih.

Pasangan Prabowo-Sandi kalah di Jakarta. Berbeda secara diametris dengan hasil Pilgub 2017. Nasional & Jakarta kalah. PKS ngotot minta kursi wakil gubernur. Mekanisme diserahkan ke DPRD. Hasilnya Ariza Patria menang. Pake mutlak.

Gerindra partai nasionalis. PKS usung teokrasi. Bertemu di level tactical.

Gerindra rekonsiliasi di atas pretext ingin membangun negeri. Oposisi Karduz menderita “testoterone rush”. Ngebet berkuasa. Full of aggression. Gahar N’ Sadiz.

Di Buku “The Virility Paradox”, Charles Ryan menyatakan “the fact that reducing testosterone may lead to increased empathy, more emotional engagement in relationships and a softening of aggression could be something of a silver lining”.

Marah-marah, Dipresi, stress, cemas kepada Kombinasi Prabowo-Puan, dan poor body image hanya membuat “Testoterone rush” berakhir pada “premature ejaculation”. Kasihan. Nafsu gede. Tapi letoy.

Above Symptoms diperparah dengan stigma “Garis-Keras” dan monolitic association. Usungan Paslon Anies-Gatot end-up sebagai “Erectile dysfunction”.

Anies Baswedan belum tentu sanggup menang melawan Mardigu Wowiek yang dipasang Jenderal Hendro Priyono. Lawong yang punya Jakarta itu Sandiaga Uno yang 2x kolaborasi dengan Jokowi-Mania.

(***)