Nahdlatul Ulama punya peran di tengah masyarakat yang tidak perlu dipertanyakan lagi

 

 

Busurnews.com, JAKARTA. —
Nahdlatul Ulama punya peran di tengah masyarakat yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Sejak berdiri, Nahdlatul Ulama melalui banyak cara konsisten berikhtiar mendukung pemerintah dalam mewujudkan cita-cita, terciptanya baldatul thayyibatun wa rabbun ghafur, negara yang seluruh warganya diliputi dengan kebahagiaan dan ketenangan.

Ada dua pendekatan yang secara bersamaan digunakan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, harakah diniyyah (gerakan keagamaan) untuk kebahagian yang bersifat ukhrawi, dan harakah ijtimaiyyah (gerakan sosial kemasyarakatan) untuk mencapai kesejahteraan sosial.

Dalam konteks global,
Nahdlatul Ulama juga terus berupaya mendukung misi-misi pemerintah dalam menghadirkan perlindungan, kesejahteraan, dan rasa aman bagi diaspora Indonesia di luar negeri.
Saat ini, telah terbentuk cabang istimewa di berbagai negara yang tersebar di seluruh dunia.
Jika tidak keliru, ada 32 pengurus cabang istimewa yang terdaftar dan aktif berdakwah menyebarkan paham Islam yang damai, moderat, dan menghidupkan tradisi Islam Indonesia di mancanegara.
Salah satunya di Turki.
Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana warga nahdiyin di Turki mengejawantahkan dua gerakan tersebut di negara tempat mereka tinggal.

Harakah diniyyah
Kita, terkadang terlalu bersemangat untuk mengenalkan Islam Indonesia kepada masyarakat internasional.
Namun, pada saat yang sama kita abai kepada warga negara kita di luar negeri yang juga sedang haus pengetahuan agama.
Bagaimanapun, masyarakat kita ialah masyarakat yang sangat religius. Tinggal di tempat yang jauh dari Tanah Air akan membuat mereka rindu pada nilai-nilai agama dan tradisi mereka.
Ketidakhadiran kita di ruang ini akan menjadi cikal bakal masyarakat kita di luar negeri mencari tempat belajar agama Islam pada kelompok yang tidak tepat.
Hasilnya, mereka kelak membawa ideologi tersebut ke Indonesia dan mulai mengafirkan nilai-nilai budaya dan tradisi agama yang telah lama disepakati leluhur kita.
Kita patut belajar dari strategi dakwah ulama-ulama Nusantara zaman dahulu di Hijaz.
Sebut saja Abdussamad Al-Palembangi.
Di tengah kariernya sebagai ulama level internasional yang berdakwah kepada seluruh umat Islam yang datang ke Hijaz waktu itu, ia juga tidak lupa untuk berdakwah kepada diaspora Indonesia.
Melalui dukungan dari kerajaan Palembang, Abdussamad mendirikan sebuah zawiyah (pondok tarekat) di Jeddah.
Di tempat ini warga Indonesia mendapat pendidikan Islam dasar sehingga mereka tidak mudah tergoda oleh aliran baru.
Sejak berdiri pada 2011 di Kota Izmir, Turki Selatan, Nahdlatul Ulama Turki berusaha hadir di ruang ini.
Memprioritaskan dakwah di kalangan warga Indonesia.
Dengan kerja sama dan soliditas anggota, Nahdlatul Ulama Turki terus diterima secara luas.

Bersama dengan perwakilan Indonesia di Turki, warga nahdiyin berperan aktif dalam merawat tradisi Islam Indonesia dan menjaga persatuan antarwarga negara Indonesia, melalui program-program yang dilaksanakan. Agenda-agenda Nahdlatul Ulama, seperti perayaan hari besar Islam, selalu dipadati masyarakat Indonesia.
Selain untuk mencari santapan rohani, sebagai ajang berkumpul dan silaturahim. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama bagi anak-anak usia dini, Nahdlatul Ulama Turki bekerja sama dengan cabang istimewa Nahdlatul Ulama seluruh Eropa, mengembangkan madrasah diniah virtual.
Sebuah sistem pendidikan agama berbasis pesantren, yang diselenggarakan secara online.
Melalui madrasah ini, kita bersama-sama memastikan anak-anak Indonesia di Eropa pada umumnya, dan Turki pada khususnya, tetap mendapatkan pendidikan agama yang memadai.
Mata pelajaran yang diajarkan ialah fikih dasar dan tahsin dan tahfidz al-Qur’an. Untuk mahasiswa dan masyarakat umum, Nahdlatul Ulama Turki mengadakan pengajian kitab, dengan metode sorogan ala pesantren-pesantren di Tanah Air.

Pengajian dilaksanakan dua kali, dalam satu pekan; Jumat untuk pengajian tafsir surah Yasin karangan Syaikh Hamami Zade dan Rabu untuk kitab Qothrul Ghoits karya Syaik Nawai al-Bantani.
Di luar itu, Nahdliyin Turki tetap merawat Islam Indonesia melalui upaya mempromosikan tradisi-tradisi Islam Nusantara dalam berbagai event. Pengajian umum seperti maulid, ziarah makam auliya, dan tahlil akbar sering dilaksanakan di tempat umum yang tidak jarang juga melibatkan warga lokal.
Pada dasarnya, amaliyah ibadah nahdiyin tidak jauh berbeda dengan Islam di Turki. Meskipun Turki dan Indonesia menganut mazhab fikih yang tidak sama,
Turki mayoritas bermazhab Hanafi sementara Indonesia ialah Syafii, keduanya memiliki karakter keislaman yang sama, tradisionalisme.
Tak ayal, setiap kegiatan yang diselenggarakan nahdiyin di Turki selalu mendapat respons yang positif, baik dari masyarakat setempat maupun dari lembaga-lembaga di Turki.

Membangun solidaritas
Di tengah pandemi wabah korona yang telah berlangsung lebih dari satu tahun, kehadiran organisasi seperti Nahdlatul Ulama juga sangat membantu kerja-kerja pemerintah di luar negeri.
Kita tahu bahwa salah satu prioritas kerja perwakilan RI di luar negeri ialah perlindungan kepada warga negara Indonesia. Nahdiyin dengan karakter yang fleksibel merangkul dan menerima semua golongan terbukti mampu memanfaatkan potensi-potensi ini.

Setidaknya, ada tiga hal penting yang telah dikerjakan Nahdlatul Ulama Turki dengan perwakilan RI dalam konteks membangun solidaritas, khususnya di tengah pandemi.

Pertama, edukasi publik. Nahdlatul Ulama memiliki modal yang besar untuk dapat melakukan edukasi publik terkait dengan covid-19.
Anggotanya yang banyak dan hetorogen, terdiri dari mahasiswa, ibu rumah tangga, santri, dan pekerja, tersebar di seluruh wilayah, yang dapat menjangkau WNI di tempat terpencil sekalipun.
Hal ini dibuktikan dengan agenda-agenda Nahdlatul Ulama sepanjang musim pandemi selalu diminati dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Selain itu, kepercayaan publik terhadap Nahdlatul Ulama yang tinggi menjadikan pencerahan dan nasihat mudah diterima masyarakat. Media-media seperti itu telah dapat digunakan warga nahdiyin dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan covid-19.

Kedua, mental and spiritual guidance.
Dalam situasi masyarakat dihadapkan pada banyak kekhawatiran, kegundahan, pemutusan hubungan kerja, dan berbagai bentuk ketidaktenangan seperti ini, Nahdlatul Ulama yang berangkat dari kelompok religius-spiritualis telah memanfaatkan peluang untuk hadir di tengah masyarakat dalam memberikan ketenangan dan dukungan spiritual.
Program istigasah, mujahadah, dan konsultasi yang digarap Nahdlatul Ulama Turki sepanjang musim pandemi telah banyak menarik warga Indonesia bergabung untuk menyampaikan keluh kesah dan problem hidup sepanjang musim pandemi.
Penanaman nilai-nilai Islam, seperti sikap sabar, rida, dan menerima keadaan sulit, dimanfaatkan sebagai manajemen stres di tengah masyarakat yang mulai lelah dengan keadaan di satu sisi dan dapat meningkatkan sistem imunitas diri di sisi yang lain.

Ketiga, memperkuat persatuan.
Salah satu tantangan besar yang kita hadapi di musim pandemi ini ialah perpecahan di tengah masyarakat akibat berita bohong dan teori konspirasi yang tersebar di tengah masyarakat.
Di sinilah peran kehadiran Nahdlatul Ulama sangat penting untuk menjadi perekat seluruh anak bangsa di penjuru Turki.
Hadir di tengah masyarakat untuk saling membantu dan saling menopang sebagaimana telah dilakukan para leluhur, ialah salah satu cara yang selalu dikerjaan nahdiyin di negara yang dipimpin Erdogan.
Memupuk persatuan Nahdlatul Ulama juga terbukti mampu menjadi pelopor dalam menutup semua potensi perpecahan di tengah masyarakat. Apalagi, di era digital seperti ini, ketika kita sering menemukan informasi hoaks yang sangat merugikan bagi persatuan bangsa.
Contoh yang paling sederhana ialah apa yang kita alami pada Pemilu 2019. Di tengah terjadinya polarisasi yang begitu tajam di tengah masyarakat Indonesia, Nahdlatul Ulama Turki mampu meredam dan menyatukan dua pendukung pasangan presiden dan wakil presiden.
Ada cerita menarik yang terjadi pada Pemilu 2019, ketika tiap pendukung pasangan calon gencar melakukan deklarasi dukungan mereka.
Untuk menjaga keberlangsungan persaudaraan,
Nahdlatul Ulama Turki memfasilitasi kedua kelompok tersebut dalam satu forum Hari Santri Nasional 2018.
Nyatanya, keduanya bisa duduk bersama dan bertukar gagasan dengan kepala dingin.
Kabar baiknya, angka pemilih di Turki melebihi target maksimal, dengan total presentasi pemilih 90%.
Dua kali lipat dari Pemilu 2014.
Akhirnya, kolaborasi antara civil society seperti Nahdlatul Ulama, pemerintah, dan kelompok lain ialah kunci dalam memenangi jihad di negeri orang.
Kekompakan ini nyata dan bisa dilihat dengan jelas di Turki.
Nahdlatul Ulama di Turki hadir dan turut berpartisipasi aktif bersama pemerintah, tidak hanya sebagai media dakwah merawat Islam Nusantara, tetapi juga membangun solidaritas dan memupuk persatuan.

 

@garsantara