Kategori
Artikel

Mudahnya anggota masyarakat terbujuk gaji tinggi di luar negeri, membuat PERDAGANGAN MANUSIA terbilang marak.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.Com,Jakafta – Mudahnya anggota masyarakat terbujuk gaji tinggi di luar negeri, membuat PERDAGANGAN MANUSIA terbilang marak.

–. Terungkapnya tiga jaringan perdagangan orang yang berbeda oleh Bareskrim Mabes Polri, kembali mengejutkan.

Bukan hanya sekadar jumlah korban atau tersangkanya saja, tapi ada fakta lainnya yaitu terkait akar persoalan, sehingga sindikat itu terus berhasil memerangkap korban.

“Salah satu faktor akar persoalannya berasal dari internal.
Sebut saja karena mudahnya masyarakat terbujuk, serta gampang diiming-imingi mendapatkan gaji tinggi di luar negeri”.-

Tak ada yang salah untuk memiliki pendapatan lebih tinggi.
Bahkan tidak salah juga bila ingin lebih meningkatkan kesejahteraan.

“Tapi kemudian, justru jangan malah merelakan diri terjebak oleh sindikat itu.
Jika sesuatu itu terlihat begitu sempurna, seharusnya malah mencurigainya.
Apa yang terlihat
too good to be true
justru mesti diperiksa berkali-kali”.

Faktor lainnya,
Adalah persoalan kemiskinan yang terstruktur sejak lama.

Juga mandeknya pertumbuhan ekonomi dan sosial di dunia saat ini, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

“Pemerintah saat ini terus berjibaku untuk membenahi hal itu.
Butuh waktu memang karena endapan masa lalu.

Terlebih lagi soal kemiskinan yang telah terstruktur sejak lama.
Belum lagi soal fakta gerak pertumbuhan ekonomi dan sosial dunia saat ini.
Pastinya itu juga memengaruhi banyak hal di tanah air,”.

Berdasarkan Data,
Perdagangan orang yang berhasil terungkap Bareskrim itu terdiri dari tiga jaringan.

Pertama adalah jaringan Arab Saudi,
Malaysia dan
Tiongkok
dengan modus berbeda-beda.

Jaringan Arab Saudi yang terungkap, misalnya.

Para korban direkrut dan dikirim untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) diiming-imingi gaji US$250-US$300
(Rp3,4 juta-Rp4 juta) per bulan.

Jalur yang digunakan untuk menyelundupkan melalui Bandara Juanda ke Pontianak.

Kemudian ke Entikong untuk diberangkatkan ke Miri dan Serawak, lalu ke Kuala Lumpur.

Di Malaysia korban ditelantarkan selama dua hari.
Pelaku jaringan Arab Saudi yang telah diamankan berinisial M, F, U dan R.
Para sindikat jaringan ini menggunakan izin untuk 39 korban dengan visa ziarah.

Sementara pelaku dari jaringan Malaysia berinisial WHA.

Sindikat itu mengiming-imingi 152 korbannya dengan gaji RM900
(Rp2,9 juta) per bulan.
Serta berbagai fasilitas kerja.

Tapi kemudian,
Para korban justru bekerja tidak sesuai dengan penawaran yang telah dijanjikan.

Baik tempat keja, gaji hingga fasilitas yang didapat.
Bukan itu saja, Polis Diraja Malaysia (PDRM) akhirnya menangkap lalu menahan mereka selama 1 bulan dengan tuduhan TKI ilegal.

Lalu jaringan Tiongkok dengan pelaku berinisial S alias S alias M, dan AY alias BB.

Sindikat ini mengiming-imingi 5 korban untuk diberangkatkan ke Tiongkok sebagai TKI.
Di sana, mereka dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Jaringan ini menggunakan izin visa wisata untuk korbannya.
Akhirnya Kepolisian Tiongkok mengamankan dan menahan mereka sebagai TKI ilegal.

Dari pengungkapan ini,
Indonesia berhasil menyelamatkan 176 korban, serta menjerat 7 tersangka dengan
UU No.21 Tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Serta
Undang-undang No. 39 Tahun 2004.
Berisi tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri (PPTKILN).

Selain melanggar UU Indonesia,
Jaringan itu juga melanggar regulasi internasional.
Salah satunya Protokol dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

“Kejahatan seperti ini memperlakukan manusia layaknya barangan dagangan.
Seperti properti dan produk komersial yang bisa dieksploitasi.

INI MERUPAKAN PENISTAAN
ATAS DERAJAT MANUSIA,”.

(Rn)