Motivasi Belajar dan Pendidikan Millennials

Migrasi para pekerja China suda sangat santer terdengar, lonjakan para pekerja dari China ke Asia Tenggara merupakan isu yang di bicarakan hingga media Internasional, sudahkah kita mempersiapkan dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan yang cukup baik dengan kemampuan yang distandarkan? Etos kerja dan gaya hidup yang juga mempengaruhi daya juang para pekerja lokal untuk dapat bersama membangun negeri.

Oleh Zuliana

Hukum yang berlaku adalah semakin dewasa usia seseorang akan semakin matang cara berpikir dan berkelakuannya. Sampai bila satu masalah timbul dalam lingkungan dapat diatasi dengan komunikasi yang lebih baik. Namun dewasa ini dengan adanya media perantara dan kemajuan teknologi, kemampuan alami individu semakin terkikis dan mulai hilang. Bukan terlihat dewasa, jadi kembali ke kanak kanakan.

kekerasan bukan lagi hal pokok yang diajarkan, orang tua modern saat ini yang cenderung membebaskan hal dianggap sangat ketat tempo dulu menjadi lebih ringan dan terkesan santai. Trend yang bergeser dan lebih mengutamakan kemudahan dalam melakukan segala hal adalah hal yang mudah ditemui disekitar kita. Sisi fleksibelitas dari pola asuh yang diterapkan dapat berdampak makin berkurangnya individu yang peduli dengan sekitarnya, semakin banyaknya pilihan semakin membutuhkan kesadaran yang muncul dari individu itu sendiri. Walau tanpa hal yang dipaksakan semua hal tersebut dapat memberikan dampak positif dan negatif dimasa depan.

Perencanaan yang matang sebagai dewasa yang tangguh memang sangat diharapkan dan dibutuhkan ditengah tengah perasaan gusar dan kurang stabil yang dipertunjukan oleh pemerintah. Siapa yang tidak bingung bila ada segudang pilihan dan dilakukan pembiaran begitu saja tanpa ada arahan yang jelas mengapa dan apa hasil yang akan didapat di depan sana. Kestabilan mental yang merupakan dasar dari individu memang paling dibutuhkan oleh millennials, semakin jelas cara asuhan millennials yang penuh dengan asumsi dan masih mengira ngira akan seperti apa karakter yang terbentuk dimasa yang akan datang.

Hal yang dipertontonkan di publik saat ini adalah jika disana ada niatan pengerusakan yang dilakukan, mungkin itu bukti kekecewaan pada diri sendiri yang masih bingung dan gusar tentang apa yang benar diinginkan, bukan jamannya lagi untuk saling mencaci tanpa arah karena kekecewaan pribadi dan tidak ada perubahan dari masa ke masa, juga tidak rasa aneh bila banyak yang masih urus sana urus sini bukan juga urusannya sendiri. bukan budaya barat yang meracuni juga bukan kepercayaan yang membatasi diri, namun banyak hal sebagai dewasa untuk lupa membangun ‘kesadaran’ yang sesungguhnya , bukan karena ditakut takuti, atau hukuman eksternal dari peraturan yang ditetapkan, namun karakter individu yang bermartabat muncul dari dirinya sendiri.

Mentalitas berliterasi dan berkesenian yang juga sangat membutuhkan waktu sehingga terbangun sebagai budaya dengan kemasan yang apik dan khas, tidak menjadi bahan saduran merajuk pada budaya modern dan gaya hidup kebarat baratan, namun literasi dan seni yang benar benar ‘berbahasa’ dan memiliki nilai  kematangan untuk tampil. Ruang hijau yang benar benar menjadi trend masa datang pun diharap terbangun lebih terarah, kata serapan bukan pula menjadi satu kalimat terobrak abrik menjadi kalimat campuran yang sangat menjemukan. Namun sebagai rantai pengikat dari sisi turunan budaya yang pernah singgah.

Menganggap budaya baru merupakan budaya yang salah merupakan hal yang kurang bijak, bukan hanya melukai diri sendiri, namun juga menutup banyak kesempatan untuk mengembangkan pola pikir yang lebih maju dan sumber daya yang memiliki kesempatan seluas luasnya. Membangun kekuatan sesungguhnya sebagai prioritas millennial untuk juga serta mengasuh generasi Alpha merupakan sebuah hukum alam sudah seharusnya memiliki prinsip dan ketetapan yang lebih mendewasakan dan membangun di era teknologi digital, yang bukan lagi waktunya menjadi bingung dan hilang arah hingga putus asa dengan banyaknya kemungkinan yang terjadi, bukan hal buruk bila hal baru mulai berdatangan dan kian erat berwara wiri disekitaran, bukan pula salah hal yang baru untuk mulai merasuk dan mencampur adukan budaya lokal, bukan hal yang harus di hindari atau dicaci, namun semakin belajar untuk membawa arus berjalan bersama dan lebih bijak.

Kesiapan adalah hal yang paling di butuhkan untuk bergerak kearah yang lebih baik, apalagi yang dilakukan kalau tidak jadi lebih baik? Bergerak lebih maju tanpa membedakan hal yang seharusnya didapat di kota maupun didesa sudah sangat lumrah ditemui, era digital menggeser banyak hal, banyak hal yang menjadi sumber ketakutan masa, banyak hal yang tidak dapat dibendung adalah setiap warga yang tinggal dikota maupun di desa dapat mengakses hal yang sama, namun daya tangkap yang diperoleh jauh berbeda dari setiap individu, teknologi sudah membuka jalan seluas luasnya namun tidak seluas daya tangkap untuk tetap positif dan bereaksi secukupnya. Spontanitas dari pendidikan darurat saat pandemi diberikan semampunya dikelola oleh kita semua, banyak diantara kita yang masih acuh, melakukan kecurangan, dan tidak sepenuhnya paham apa yang akan terbentuk menjadi sebuah budaya dan karakter baru generasi selanjutnya yang merupakan dampak dari pembiaran saat ini, bisa jadi bisa sangat buruk mulai dari era digital. Bisakah kita menyamai standar yang ditetapkan untuk menutup benih benih kesenjangan sosial yang mulai terlihat?