Kategori
Artikel

Moderasi keberagamaan dalam konteks Indonesia berkemajuan

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —Moderasi keberagamaan dalam konteks Indonesia berkemajuan.

Tema ini relevan dengan tantangan yang dihadap umat.

Harus diakui, wajah dan wijhah (pandangan) Islam di negeri tercinta, terpolarisasi menjadi kelompok fundamentalis dan liberalis.
Orientasi pemikiran keagamaan umat juga cenderung binaris sehingga terjadi gejala saling mengklaim kebenaran (truth claim).
Dampaknya, terjadi gesekan antarumat beragama atau pengikut paham keagamaan.
Gesekan semakin mengeras seiring dengan masuknya berbagai kepentingan politik dalam tiap-tiap kelompok ideologi keagamaan.
Di tengah suasana kehidupan keagamaan yang menegangkan itulah, ikhtiar untuk memoderasi pemikiran terasa sangat penting.

Setiap orientasi ideologi keagamaan, baik yang berada di kanan (fundamentalis) maupun kiri (liberalis), penting diajak untuk bergerak ke tengah sehingga terwujud umat tengahan (wasathiyyah).
Pada konteks itulah, ulama Muhammadiyah harus hadir untuk menekankan pentingnya moderasi beragama.

Moderasi beragama dapat menjadikan pemeluknya terhindar dari sikap ekstrem dan berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran agama.

Dengan tegas Alquran melarang sikap berlebih-lebihan atau ekstrem dalam beragama (ghuluw) (QS An-Nisa’: 171; Al- Maidah: 77).
Nabi Muhamad SAW juga bersabda: “Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw dalam beragama karena sesungguhnya sikap ghuluw telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR Ahmad, Nasai, dan Ibn Majah).

Berdasarkan landasan normatif itulah, moderasi penting dikedepankan dalam kehidupan beragama.
Seiring dengan adanya insiden radikalisme bernuansa agama di sejumlah daerah, program moderasi telah menjadi alternatif untuk menyelesaikan persoalan.
Dalam konteks kajian Islam, moderasi beragama dikaitkan dengan wasatiyyah Islam.
Wasatiyyah Islam, lazim digunakan di negara-negara minoritas muslim untuk menyebut posisi pertengahan di antara dua ekstremitas.
Tantangan Muhammadiyah Dalam suatu kesempatan, Nurcholish Madjid (Cak Nur) memberikan testimoni yang positif pada Muhammadiyah.
Menurut Cak Nur, Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern tebesar di dunia, lebih besar dari organisasi mana pun di dunia Islam.

Dilihat dari segi kelembagaan, Muhammadiyah sangat mengesankan, lebih dari organisasi Islam di mana pun dan kapan pun.
Cak Nur juga menyatakan bahwa Muhammadiyah merupakan salah satu cerita sukses di kalangan organisasi Islam, tidak saja secara nasional, tetapi juga internasional. Pernyataan Cak Nur merupakan pandangan bernada memuji kiprah Muhammadiyah dalam panggung sejarah pergerakan organisasi Islam.

Aktivis Muhammadiyah seharusnya menjadikan testimoni Cak Nur sebagai spirit dalam berdakwah. Pada level praksis sosial, Muhammadiyah juga layak disebut gerakan pembaru. Melalui teologi al-Ma’un (al-Ma’unisme), Muhammadiyah membuktikan diri sebagai gerakan yang menekankan pentingnya beramal salih.
Dengan menekuni wilayah praksis sosial keagamaan, berarti Muhammadiyah telah melaksanakan prinsip a faith with action.

Prinsip ini diwujudkan melalui ajaran sedikit berbicara banyak bekerja, kedermawanan atau welas asih, kesukarelaan, dan tepat waktu.
Dengan n prinsip itulah amal usaha Muhammadiyah terus berkembang. Namun, justru dengan amal usaha yang semakin banyak, Muhammadiyah dihadapkan pada berbagai persoalan.

Energi Muhammadiyah nyaris habis untuk mengurus amal usaha. Dampaknya, kontribusi pemikiran keagamaan Muhammadiyah kurang menonjol. Pada konteks itulah Muhammadiyah perlu melakukan revitalisasi ideologi agar mampu menampilkan diri sebagai gerakan praksisme sekaligus intelektualisme.

Intelektualisme sebagai modal Harus disadari, intelektualisme dapat memberikan energi positif bagi Muhammadiyah.

Dengan menjadi gerakan intelektualisme, Muhammadiyah dapat memberikan pencerahan pada tantangan keberagamaan era kontemporer.

Apalagi, realitas menunjukkan bahwa wajah Islam Indonesia telah diwarnai persaingan, sekaligus perebutan pengaruh antara kelompok Islam fundamentalis dan liberalis.
Kelompok Islam fundamentalis, dengan dalih ingin mengembalikan amalan keagamaan, sebagaimana dicontohkan generasi awal Islam, telah mengalami distorsi yang luar biasa.

Sebagai contoh, terjadi simplifikasi identitas keislaman melalui simbol pakaian bercadar, berjubah, memakai celak, berjenggot, dan bercelana cingkrang.
Meski, beberapa ekspresi budaya agama itu memiliki rujukan dalam ajaran Islam, penyederhanaan Islam dengan hal-hal yang bersifat kategoris seperti itu jelas melenceng dari substansi ajaran Islam.

Sebaliknya, kelompok Islam liberal, yang mengusung tema reaktualisasi ajaran juga sering memicu kontroversi.

Kelompok Islam liberal dikatakan telah mengutak-atik ajaran yang dianggap mapan oleh umat.

Menghadapi perdebatan dan persaingan dua mazhab pemikiran Islam yang secara diametral berhadapan itulah ulama Muhammadiyah pent ing menampilkan diri sebagai mediator.

Muhammadiyah dapat menjalankan fungsi management of ideas, di antara berbagai mazhab pemikiran (school of thoughts).
Pada konteks itulah moderatisme pemikiran keagamaan penting terus digelorakan.
Ajakan bersikap moderat akan efektif, jika ditempuh melalui dialog yang tulus, nirprasangka, dan tidak saling mengklaim kebenaran.

Jika dialog ini dilakukan secara berkelanjutan, pada saatnya kita akan menyaksikan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan toleran terhadap berbagai keragaman.

Dengan berfungsi sebagai mediator, berarti Muhammadiyah telah merekat jalinan hubungan pemikiran (silatul fikr) berbagai mazhab pemikiran keagamaan, yang ada di negeri tercinta.

 

@garsantara