Kategori
Artikel

Meski pemilihan kepala daerah (pilkada) baru berlangsung tahun depan, suasana saat ini sudah mulai hangat.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – Meski pemilihan kepala daerah (pilkada) baru berlangsung tahun depan, suasana saat ini sudah mulai kemrengseng (hangat).

Ada
17 provinsi,
39 kota, dan
115 kabupaten
yang akan menyelenggarakan pilkada.

Tradisi politik yang niscaya terjadi dalam negara demokrasi.

 

Namun,
Yang selalu menjadi catatan sampai saat ini, pascapilkada hampir selalu menimbulkan ekses.
Biasanya,
Itu dipicu kontestan yang tidak puas atau tidak menerima kekalahan dengan berbagai alasan.

Baik,
Bila itu diselesaikan di ranah hukum.
Tapi, faktanya, kerap ketidakpuasan dilampiaskan dengan aksi anarkistis.

 

Bangsa ini harus semakin dewasa dalam berdemokrasi.
Bahwa dalam setiap pemilihan pimpinan, pasti ada yang kalah dan ada yang menang.

Maka,
Sangat penting adanya modal yang harus dimiliki setiap kontestan, yaitu jiwa kesatria, yang punya etika, moral, dan kelegawaan.

Dalam konteks pilkada,
Kampanye tersebut merupakan simbolisasi adu ide, gagasan, dan program.

Siapa yang paling ampuh (baik) ialah yang menang.
Dan itu harus terus diadu hingga lahirlah sang pemenang sejati.

Nilai lain ialah kejujuran mesti menjadi modal utama bagi mereka yang ingin menjadi pemenang (pemimpin).
Bukan dengan menghalalkan segala cara untuk menggenggam kedudukan.

Bila demikian,
Selamanya pilkada tidak akan menimbulkan ekses-ekses, tetapi justru malah akan menjadi peristiwa budaya yang baik.

(Rn)