Menyambut Ramadhan

Oleh Dhedi Razak

Busur News, Jakarta – Ramadhan adalah sekolah untuk menggembleng spiritualitas.

Sebentar lagi bulan mulia itu akan tiba.
Satu bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan sehingga di dalamnya ada pengampunan dan doa dikabulkan.
Pada bulan ini juga ada jaminan pembebasan dari api neraka bagi mereka yang mengisi bulan suci dengan penuh keikhlasan.

Ramadhan adalah bulan istimewa sehingga ibadah puasa menjadi milik Sang Penguasa Alam Semesta. Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal manusia adalah miliknya kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.”
(HR Bukhari).

Saking istimewanya, tidak mengherankan jika Nabi SAW selalu menampakkan kerinduan terhadap Ramadhan dengan melantunkan sebuah doa ketika memasuki bulan Rajab. “Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah (pertemukanlah) kami dengan bulan Ramadhan.” Rasulullah sungguh merindukan bulan Ramadhan.

Beliau tidak hanya memohon keberkahan bulan Rajab dan Sya’ban saja, tapi juga memohon supaya bisa berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan, Rasulullah selalu melakukan persiapan khusus, yakni dengan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Sebagai Muslim, sambutlah Ramadhan dengan sukacita. Persiapkan jasmani dan rohani. Mantapkan keimanan serta luruskan niat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan umat Islam untuk menyambut bulan Ramadhan dengan terlebih dahulu menyucikan diri dari dosa dan bertobat dari semua kesalahan masa lalu.

Bersihkan hati sebelum bertemu dengan bulan suci. Dengan begitu, Ramadhan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kuantitas ibadah, tapi juga kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT.

Ramadhan adalah sekolah untuk menggembleng spiritualitas. Ibadah puasa menjadi sarana untuk meningkatkan religiositas. Pencapaian akhir yang diharapkan adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Berkaitan dengan itu, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah:183).
Buah dari puasa adalah takwa. Derajat takwa tidak akan bisa dicapai jika hanya mengandalkan puasa jasmani semata. Puasa yang dimensinya hanya ritual formal saja. Puasa semacam ini disebut Imam al-Ghazali sebagai puasa awam.
Barangkali puasa seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW, “Banyak orang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar saja.”
(HR Imam Ahmad).

Dalam berpuasa, kita tidak hanya berfokus pada dimensi ritual formal saja, tetapi juga harus memperhatikan dimensi spiritual.
Dalam berpuasa, kita harus mampu menahan lapar, dahaga, nafsu, pancaindra, dan juga menghindari apa saja yang dilarang hati nurani.
Di tahap itulah akal dan pikiran kita juga mesti ikut berpuasa.

(*

Ramadhan menjadi momentum ukiran banyak catatan sejarah
Proklamasi kemerdekaan, 9 Ramadhan 1364 Hijriah.
Pada bulan puasa, rakyat Indonesia meraih kemerdekaannya. Cita-cita ini diraih dengan dibayar darah jutaan jiwa, bahkan sebelum Bung Karno lahir.
Darah pasukan Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa bergolak, darah para mujahid perang sabil di Aceh, darah para Sultan, dan prajurit mulai Banten, Mataram, Ternate, Tidore, hingga Makassar.

Prosesi proklamasi jauh dari kesan mewah. Disusun di rumah sederhana Laksamana Tadeshi Maeda, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr Raden Achmad Soebardjo menghasilkan satu naskah bertulis tangan. Isinya tidak lebih dari dua kalimat. Teks itu menyatakan kemerdekaan dan perpindahan kekuasaan. Kesederhanaan juga lekat saat proklamasi dikumandangkan keesokan harinya. Lihatlah bendera merah putih yang hanya dibuat oleh tangan Ibu Fatmawati.
Pengerek bendera yang merupakan mantan tentara Peta hingga pasukan alakadarnya sebagai pengamanan peristiwa bersejarah itu.

Ramadhan pun menjadi momentum keberhasilan upaya bangsa ini baik dengan koperasi ataupun nonkoperasi untuk meraih kemerdekaan.
Upaya ini tidak lepas dengan campur tangan Allah SWT yang telah menyutradarai dinamika di dunia ketika itu sehingga Jepang pun harus bertekuk lutut.
Tak heran, jika dalam naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ada kalimat pada alinea ketiga.

“Atas berkat rahmat Allah SWT dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur.”

Begitulah Ramadhan menjadi momentum ukiran banyak catatan sejarah. Kita juga mengenang Perang Badar yang juga terjadi pada si penghulu bulan itu. Di tengah puasa, sekira 308 prajurit Muslimin berangkat ke medan perang.
Mereka hendak berhadapan dengan seribuan pasukan Quraisy yang berangkat dari Makkah. Pada Jumat pagi, 17 Ramadhan, mereka berhadap-hadapan. Pasukan yang begitu besar tampak siap menerjang kaum Muslimin.

Dalam kekhawatiran, Nabi SAW pun berdoa.
“Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa, tidak ada lagi ibadah kepada-Mu.” Sejarah pun mencatat, pasukan kecil Muslimin berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Perang pertama ini pun menjadi bukti kasih sayang Allah SWT kepada Nabi.

“Sebenarnya, bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga.”
(QS al-Anfal: 17).

Kemenangan fisik yang beberapa di antaranya diraih pada proklamasi kemerdekaan dan perang badar hanya merupakan sedikit jejak rahmat Allah dalam Ramadhan.
Sulit dicerna dengan akal sehat ketika segelintir pasukan Muslimin berhasil memenangkan pertempuran badar.

Susah juga diprediksi manakala kemerdekaan Republik Indonesia yang direncanakan oleh para founding fathers ternyata bisa datang lebih cepat saat Jepang berhasil ditaklukkan Amerika Serikat.
Sejarah mencatat, Jepang malah akan mengkhianati janji untuk memerdekakan Indonesia karena akan kembali menyerahkan Indonesia kepada sekutu.
Bila saja proklamasi itu tidak berhasil dikumandangkan, kemerdekaan bisa jadi datang lebih lama.

Wallahu a’lam.

@garsantara