Kategori
Artikel

Menjelang Natal dan Tahun baru libur panjang dipangkas, rapid antigen dan tes usap PCR diberlakukan, kerumunan pun dibatasi ketat

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —Sebagian orang sudah bersiap menikmati libur Natal dan Tahun Baru.
Tiket pesawat, hotel, destinasi sudah ditentukan.
Bahkan, sebagian mereka sudah mengepak baju dan dimasukkan koper.

Tapi, pemerintah tiba-tiba memutuskan menginjak rem: libur panjang dipangkas, rapid antigen dan tes usap PCR diberlakukan, kerumunan pun dibatasi ketat.

Apa dasar?

Tingkat penularan covid-19 masih sangat tinggi, rumah sakit mulai penuh, vaksin masih diuji, disiplin masyarakat untuk melakukan 3 M masih sedang.

Selain itu, dampak libur panjang bagi geliat perekonomian tidak signifikan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan libur panjang saat pandemi justru tidak memberikan perbaikan kepada indikator ekonomi atau tidak terjadi konsumsi, tapi justru menambah jumlah kasus covid-19.

Menurut Menkeu, pada kuartal IV-2020, jumlah hari kerja memang lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, karena konsumsi listrik di sektor bisnis dan manufaktur menurun, sehingga dampaknya ke sektor produksi juga menurun, sektor konsumsi pun tak beranjak naik.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi pada Oktober hingga awal Desember 2020 justru melemah kembali karena kasus covid-19 kembali naik.
Hal serupa disampaikan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Pariwisata (Asita).
Data Asita memang menunjukkan ada kenaikan tingkat okupansi hotel di daerah-daerah destinasi wisata seperti Bogor, Bandung, Yogyakarta, termasuk
Bali saat libur panjang. Naiknya di kisaran 40%-50%, atau sekitar 20% lebih tinggi daripada tingkat penghunian hotel secara nasional pada Agustus 2020.
Namun, kenaikan tingkat okupansi yang terjadi pada periode libur panjang sejak 28 Oktober-1 November 2020 tersebut hanya mampu menambah daya tahan sektor perhotelan untuk tetap beroperasi.
Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan sektor perhotelan menghadapi low season yang benar-benar dalam sejak Maret 2020 dengan tingkat okupansi anjlok hingga single digit.
Jadi, kenaikan okupansi hotel pada masa libur panjang ini bersifat sementara dan akan disusul dengan penurunan yang diperkirakan sangat dalam ketika memasuki momen hari-hari biasa. Kegiatan bisnis pariwisata tidak memberikan efek signifi kan bagi sektor perhotelan karena sejumlah hal.

Pertama, banyak hotel belum mengaktifkan ballroom sebagai tempat kegiatan.

Kedua, harga rata-rata kamar hotel dibanderol rendah. Harga rata-rata kamar hotel di daerah-daerah destinasi wisata saat ini 20% sampai 30% lebih rendah jika dibandingkan dengan masa normal.
Di tengah belum signifikannya geliat perekonomian di saat libur panjang, kenaikan penyebaran covid-19 justru menjadi kenyataan.

Data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan terjadi lonjakan kasus covid-19 yang signifikan pada tiga kali libur panjang di 2020.

Pada saat libur Idul Fitri, 22-25 Mei 2020, terjadi kenaikan kasus setelah liburan, yakni pada 6 Juni sampai akhir Juni, dengan peningkatan kasus 70%-90% daripada sebelumnya (dari 600 per hari naik jadi 1.100 per hari).

Pada libur panjang kedua, 20-23 Agustus 2020, terjadi kenaikan kasus covid-19 pada pekan pertama sampai dengan akhir September.
Kasus kumulatif mingguan bertambah dari 13.000 menjadi 30.000, angka positivity rate juga naik 3,9%. Jeda waktu kenaikan sekitar 10-14 hari.

Libur panjang ketiga, dari 28 Oktober sampai 1 November 2020, lonjakan kasus terlihat tiga pekan setelah liburan.
Saat itu, angka positivity rate naik 1,3%.

Deretan data dan fakta di atas menjadi pembenar atas penambahan ‘tekanan injakan rem’ yang dilakukan saat ini.
Saat rezeki nomplok bulan Desember yang diharapkan ternyata masih ‘kelabu’, di sisi lain yang datang justru ‘badai’, langkah menginjak rem patut didukung.

Untuk jangka panjang, langkah tersebut bakal menghapus kelabu dan mengusir badai bulan Desember.

 

@drr