Kategori
narkoba

Membangun Manusia Produktif Tanpa Narkoba

 

Busur News Com,Jakarta– KMI (Kaukus Muda Indonesia) kembali mengadakan diskusi pubklik yang diadakan di Hotel Luwansa, Jakarta (18/4). Dalam diskusi kali ini KMI mengambil tema “Membangun Generasi Produktif Tanpa Narkoba” .

Instruksi pemerintah untuk saling bersinergi dalam memberantas narkoba, menyatakan perang terhadap narkoba, menutup celah pintu masuk narkoba, kampanye bahaya narkoba harus digaungkan, pengawasan di lapas lebih diperketat dan program rehabilitasi harus berjalan efektif, nampaknya belum mampu dilaksanakan secara efektif. Faktanya, BNN maupun Polri masih kalah dalam menghadapi peredaran narkotika, padahal Presiden seringkali menegaskan bahwa Negara tidak boleh kalah oleh narkoba. Hal ini disampaikan H. KRH. Henry Yosodiningrat, SH, Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) ketika hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut.

Henry menambahkan, keinginan Presiden untuk mengambil langkah lebih keras dalam menghadapi narkoba terkendala oleh Undang-Undang dan pertarungan antara kebijakan dalam negeri dan internasional.

Irjen Pol. Drs. Ali Johardi, Deputi Pencegahan BNN menjelaskan bahwa terkait masalah narkotika, dimensi sosial, kesehatan dan hukum merupakan dimensi yang perlu penanganan secara bersama-sama. Adanya fenomena jenis baru narkoba semakin menambah kompleknya masalah narkotika di Negara kita.  Sementara, isu yang berkembang secara global, beberapa negara menginginkan bahwa narkotika adalah semata-mata masalah kesehatan, namun di sisi lain pemerintah sudah menegaskan darurat narkoba. Yang harus disikapi bijak karena terkait isu internasional adalah beberapa negara ingin PBB mengeluarkan resolusi bahwa untuk keperluan pengobatan tradisional dibolehkan, namun Indonesia tetap menolak.

Di satu sisi kita harus menghargai kedaulatan hukum, di sisi lain jika kita tidak mengikuti arusi global dampaknya dikucilkan. Jadi kita pandai-pandai menyikapi persoalan tersebut. Ujar Ali.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Marjuki, Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos mengatakan, peran kemensos difokuskan pada pendekatan keluarga. Dari sisi sosial, tindakan pembohong, nyolong, dan bengong merupakan tindakan yang perlu diwaspadai oleh keluarga.

“Kami dari kemensos sudah bekerja sama dengan elemen masyarakat melalui penyuluhan dan rehabilitasi sosial bagi penyalahgunaan napza. Kita fokuskan pada pendekatan keluarga dalam mengupayakan rehabilitasi sosial. Kendalanya, adanya stigmatisasi dari masyarakat menyebabkan kembalinya korban terjun ke narkoba. Ungkap Marjuki.

Harbet Sidabutar, Dr. SpKJ, Kepala Seksi Napza Kementerian Kesehatan berpendapat, untuk membangun generasi produktif harus dimulai dengan pola asuh yang baik sejak kecil. Deteksi dini harus dimulai dari rumah dan lingkungan. Pihaknya, kata Harbet, sudah melakukan koordinasi dengan lintas sektoral dan penganggaran biaya rehabilitasi.

“Tantangan kami, kesehatan jiwa belum menjadi prioritas. Harapan kami semoga ada regulasi lebih baik ke depannya. Tutur Harbet.

Sementara itu, Kombes Timisela, Analisis Kebijakan Direktorat Narkoba Mabes Polri. Menurutnya, apa yang disampaikan ketua Granat adalah benar. Metoda penanganan yang dilakukan bareskrim selaras dengan kebijakan pemerintah yaitu melakukan upaya preventif dan bekerjasama dengan stakeholder lainnya.

“Tugas polri adalah mengungkap dan memutus jaringan narkotika. Bareskrim selalu bersinergi dengan instansi terkait dan masyarakat. Bahkan kerjasama bilateral dan internasional juga sudah dilakukan. Pola pemberantasan, kebijakan yang strategis, pelaksanaan tindakan tegas, melaksanakan TPPU dan memberi hukuman berat serta partisipasi semua stake holder sudah dilakukan. Pungkasnya. (nor)