Media Inklusif Anak Muda : Media Baru Media Masa Media Anak Muda

Mencari celah untuk mengendarai sebuah kendaraan publik dengan berisikan 40 kepala yang masih diselimuti emosi akan menjerumuskan 1000 orang kedalam jurang merupakan kesalahan yang fatal, posisi yang paling baik bukan di area depan atau belakang namun semua sama sama jadi pelaku dan menambah perkara yang ada. Visi dan misi media yang benar kini mulai dipertanyakan seiring banyak bermunculan berita berita yang sulit diketahui kebenarannya.

Oleh Zuliana

Mark Zuckerberg pernah bermimpi untuk menghubungkan semua orang kedalam dunia virtual, sosial media yang sepatutnya dapat digunakan oleh segala usia untuk menghubungkan satu sama lain kian disangsikan sebagai media perantara yang kini menjadi wadah para badut untuk lempar batu sembunyi tangan. Masih ada tangan tangan jahil yang tak tahu menahu batasan batasan dalam ruang publik yang mungkin saja dapat terlihat oleh segala usia. Pendewasaan dini mungkin saja terjadi di beberapa tahun mendatang, melihat sisi lain dari penggunaan sosial media oleh orang orang yang tak tau dan tak mau tahu serta melihat dari beberapa arah. Sosial media bisa jadi melahirkan banyak bibit bibit para pewarta, mulai dari hal hal amatir yang dapat ditemui dan dirasa bisa jadi sumber yang menginspirasi publik.

Media inklusif anak muda yang tentu diketahui kita bersama untuk apa ini tercipta dan dapat digunakan, sama sama terlelap tidur hingga tersulap seperti orang orang mabuk yang menyebarkan apa saja yang dirasakan, mengujarkan kebencian, emosi, dan menghasut, tentu hal lain yang bisa jadi sangat mudah ditemui. Sarana mediasi yang kini menjadi sangat sulit untuk ditebak dan secara acak berpotensi menghidupkan mental pengecut bisa jadi bisa lebih buruk tanpa daya dengan pengetahuan seadanya, malah pergi membeda bedakan dan semakin mengelompokan hal yang ada.

Munculnya ratusan bahkan ribuan media yang menyebarkan banyak hal secara bersamaan, komunikasi kata bukan sampah atau angin lalu yang dapat terbaca namun benar apa yang terjadi, setidaknya bukan rekaan publik untuk membuat senang atau sedih. Catatan itu akan dihidupkan yang benar hidup dan terjadi. Kesalahan yang terjadi bila seseorang berfikir bahwa media dapat mengendalikan massa dan jadi penentu apa yang dapat dimenangkan dan menjadi lebih arogan dan berlaku seperti tuhan. Kesewenang wenangan itu akan terjerat dalam hukum hukum pasti yang bukan berasal dari hulu,  bahkan orang lalu lalang di pinggir jalan bisa menulis dengan lihainya tentang apa yang dirasa tanpa harus mengerti inti yang ingin disampaikan.

Media yang juga ikut mengambil bagian dalam memberikan pendidikan dalam lingkungan sosial harus serta merta memahami bahwa, segala hal yang ada dalam lingkungan sosial bukan hal yang seharusnya dirundung ramai ramai, bukan menghidupkan api api emosi, namun hal yang membuat kita semua berfikir untuk mengubah hal yang tidak disukai menjadi nyata lebih baik. Mencari celah untuk mengendarai sebuah kendaraan publik dengan berisikan 40 kepala yang masih diselimuti emosi akan menjerumuskan 1000 orang kedalam jurang merupakan kesalahan yang fatal, posisi yang paling baik bukan di area depan atau belakang namun semua sama sama jadi pelaku dan menambah perkara yang ada. Visi dan misi media yang benar kini mulai dipertanyakan seiring banyak bermunculan berita berita yang sulit diketahui kebenarannya.

Bukan media yang mengendalikan massa, bukan karena tulisan yang diulang ulang itu bisa merubah pola pikir yang tidak percaya menjadi percaya. Komunikasi yang sebenarnya bijak dan betul benar dikerjakan oleh para ahli media yang membuat massa berfikir, segala hal bukan hal yang benar terlihat adanya, bukan secara gamblang harus seperti itu, bukan hal yang dapat diterima seperdetik setelah meluncur dari meja meja redaksi, segala sesuatu yang dapat dipertimbangkan, Kesalahan dalam pengertian media yang menjadi pokok apa seharusnya yang kita ketahui, mengapa dan dimana kedaulatan dan pilar pilar itu berdiri tegap.

Kami inginkan komunikasi yang matang, bukan serta merta melawan arus dan curi curi perhatian. Kami ingin satu stabil dan tidak menyudutkan, kami baru ingin putar balik kembali saat dimana media berinteraksi sebagai penengah tanpa ada politik jabatan atau memenangkan satu kedudukan. Kami juga harap harap bila komunikasi itu dibangun untuk jadi semangat juang untuk berfikir sebebas bebasnya bukan harapan kosong dan menjerumuskan untuk mengubah publik dalam pemilihan dan peralihan kepemimpinan. Batasan batasan yang jelas itu harusnya bisa jadi satu yang dapat dipercaya menjadi lebih dewasa di tengah terombang ambingnya kebijakan yang sering dilontarkan oleh pemangku kebijakan. Bukan halnya memperkeruh suasana bukan motivasi yang kurang banyak di bawa oleh media, namun satu hal inklusif jadi ban penyelamat ditengah lautan untuk anak muda yang kalap akan berkspresi dan mencurahkan emosi.

Rekaan cerita bisa buntu tanpa melihat sejarah dan peta yang jelas untuk tahu bagaimana dan kemana alur akan berjalan, kedaulatan negara sosial demokrasi dan pancasila patut diragukan. Pendidikan inklusif media satu jalan menyatukan jadi satu kepala. Kampanye yang harus segera di gaungkan untuk menjadikan satu dedikasi dalam profesi inti dan ahli dapat dipertanggung jawabkan sebagai hal yang tepat dan akurat sesuai dengan sumber tanpa niatan membawa arus atau mengendarai publik untuk sebuah jabatan, hingga dapat menginspirasi publik untuk berekspresi yang baik dan benar dalam media inklusif.