Kategori
Artikel

Masyarakat Jepang lebih mengenal Samuel Ullman (1840-1924) ketimbang orang Amerika Serikat. Padahal, sang penyair itu ialah warga AS

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Masyarakat Jepang lebih mengenal Samuel Ullman (1840-1924) ketimbang orang Amerika Serikat.
Padahal, sang penyair itu ialah warga AS.
Semua gara-gara Jenderal Douglas McArthur, komandan perang AS untuk Asia-Pasifik yang bermarkas di Jepang.
Sang ‘Singa Pasifik’ dalam Perang Dunia II itu menyimpan prosa tulisan Ullman di dompetnya. Judulnya Youth, alias ‘Pemuda’.
Ke mana McArthur pergi, ia selalu memperlakukan prosa liris ‘Pemuda’ laiknya jimat.
Ia menyelipkan ungkapan prosa itu dalam pidato-pidatonya.
Sebelum pergi dari Jepang, McArthur pun membingkai prosa ‘Pemuda’ itu lalu ia gantung di dinding meja kerjanya di Tokyo.

Bait penting prosa liris yang ditulis saat Ullman berusia 78 tahun itu terjemahan bebasnya kurang lebih begini:
‘Muda itu bukan urusan umur, melainkan sikap pemikiran; bukan berarti pipi kemerahan, bibir merah merekah dan dengkul yang lentur, melainkan terletak pada kemauan, kualitas imajinasi, kekuatan emosional, kesegaran dan kebugaran dari sumber paling dalam kehidupan’. ‘Umur bisa mengeriputkan kulit, tapi kehilangan antusiasme hidup akan mengeriputkan jiwa. Tak peduli usia Anda 60 atau 16 tahun, jangan pernah kehilangan gairah yang tak habis-habisnya untuk ingin tahu apa yang terjadi, dan menikmati permainan hidup serta kehidupan’, tulis Ullman.

Kutipan itu dipajang Douglas McArthur dan 40 tahun kemudian menyebar di kalangan eksekutif Jepang, baik yang muda maupun apalagi yang tua.
Gairah itu menjadi dapur pacu mereka untuk maju.
Pada 1990 sampai diadakan pertemuan besar pengagum Samuel Ullman.
Di Indonesia, jiwa muda seperti yang ditulis Ullman itu menemukan muaranya saat Sumpah Pemuda dipekikkan.
Sumpah Pemuda itu ialah tekad.
Tekad dari suatu kaum yang progresif.
Penanda utama pemuda bukanlah usia, melainkan situasi mental kejiwaan (state of mind). Itulah mengapa yang muda ialah jiwa mereka.
Saat mereka memilih bahasa Melayu-Indonesia, bukan bahasa Jawa yang jadi bahasa mayoritas peserta Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, itu berarti pengorbanan. Jiwa muda mereka mampu menembus sekat.
Gairah muda mereka mengalahkan kesulitan. Pemancangan bahasa Melayu-Indonesia, misalnya, bukanlah perkara mudah.
Bagi pemuda-pelajar yang terdidik dalam persekolahan bergaya Eropa, penggunaan bahasa Indonesia membawa kesulitan serius: menimbulkan kegagapan bagi pembicara dan kebingungan bagi pendengar.
Namun, kurang dari tiga bulan, masalah bahasa bisa mereka atasi.
Bahasa persatuan Sumpah Pemuda itu ialah kebesaran jiwa.
Meski sebagian besar pemuda-pelajar waktu itu berasal dari Tanah Jawa, mereka rela berkorban tidak memaksakan bahasa mayoritas (bahasa Jawa) sebagai bahasa persatuan.
Demi mengusung gagasan kebangsaan yang egaliter, mereka sepakat menjadikan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Jiwa-jiwa muda itu mengalahkan jiwa keriput.
Apa itu?
Jiwa yang kehilangan bahasa bersama: ‘bahasa optimisme’. Jiwa keriput itu kehilangan gairah maju.
Ia tak punya nyali, berwajah murung, lenyap kegembiraan. Bahasanya dipenuhi keluh kesah, nyinyir, kebencian.
Pokoknya bahasa geram. Hari ini, setelah 92 tahun, Indonesia butuh menyalakan lagi Sumpah Pemuda.
Agar jiwa-jiwa muda terus hidup, mengalahkan jiwa keriput yang terus mengempis.
Supaya usia muda (16-30 tahun) tidak cuma menggelembung dalam struktur demografi, tetapi juga membesar secara mental muda.
Kritik bahwa tampilnya orang-orang berusia muda dalam berbagai bidang kehidupan tidak memperkuat semangat ‘kaum muda’ tak bisa dianggap enteng.
Suara bahwa kaum muda kebanyakan tak sanggup mengambil jarak dari ‘kaum tua’ yang mewariskan tradisi korupsi dan keterbelakangan; kebanyakan juga tidak menunjukkan kehendak untuk memuliakan harga diri bangsa mereka melalui pengetahuan dan gagasan kemajuan, harus dijawab.
Gambaran bahwa figur-figur politik berusia muda beradu cepat meraih puncak-puncak kekuasaan tanpa kekuatan etos kejuangan yang etis, miskin imajinasi, cenderung mengambil jalan sesat dalam meraih kekuasaan, dan tidak menunjukkan vitalitas daya yang progresif, tidak bisa lagi dianggap sekadar nyanyian orang-orang dengki.

Seperti pesan Samuel Ullman,
“Setiap hati hendaknya memasang antena untuk menerima pesan keindahan, harapan, kegembiraan, gairah, keberanian, dan kekuatan dari alam semesta yang tak terbatas maka Anda akan selalu muda. Bila antena itu tak keluar, jiwa akan diselimuti salju pesimisme dan sinisme. Anda bisa tua pada usia 20 tahun, dan sebaliknya bila antena keluar memanjang menangkap sinyal optimisme tadi, ada harapan Anda akan mati muda”.

 

@emalia