Kategori
Artikel

Manusia diharapkan belajar dari peristiwa-peristiwa masa lalu untuk kehidupan mereka

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –

Manusia diharapkan belajar dari peristiwa-peristiwa masa lalu untuk kehidupan mereka, sebab esensi dari peristiwa itu akan berputar dan berulang layaknya sebuah lingkaran.

-Beberapa hari ini saya sibuk mencari buku-buku terbitan tahun 80-an atawa 90-an, untuk mencari tiga teori yang pernah saya baca dalam tahapan sejarah umat manusia.

Seingat saya itu teori yang diambil dari teori psikologi Sigmud Freud, Erick Fromm, C. G. Jung. Atau Alfred Adler, dalam sejarah psikologi.

Ketika saya baca ulang tiga teori: teori lingkaran (cyclica theory), teori takdir, dan teori progres (progress theory) ternyata tidak ada dalam buku-buku psikologi.

Dari teori sifat dan behavioristik, teori-teori holistik (organismik-fenomenologis) dan teori Psikodinamik ternyata tidak ada.
Tiga teori itu saya temukan dalam ulasan tentang tahapan dalam sejarah perkembangan manusia.

Teori lingkaran mengatakan bahwa pada dasarnya terdapat fenomena-fenomena dasar yang sama antara satu peristiwa dan peristiwa lain; perbedaan yang ada sering kali hanya pada dataran permukaan dan bukan esensi.

Manusia diharapkan belajar dari peristiwa-peristiwa masa lalu untuk kehidupan mereka, sebab esensi dari peristiwa itu akan berputar dan berulang layaknya sebuah lingkaran.

Berbeda dengan teori lingkaran yg ditentang pada zaman ketika gereja Kristen mendominasi kehidupan.
Teori lingkaran ditentang oleh teori Takdir (provindential theory)
Teori lingkaran ditentang pada abad pertengan karena tidak sesuai dengan ajaran Kristen.
Salah satu pokok dalam ajaran Kristen adalah kehadiran Kristus (Isa al-Masih) sebagai penyelamat dunia.
Kedatangan Kristus, menurut paham Kristen, hanya terjadi sekali dan tidak akan berulang secara berskala.

Kalau menurut teori lingkaran, kedatangan Kristus akan terjadi berulang-ulang, artinya kejadian itu tidak istimewa, tetapi biasa saja.
Pada waktu Gereja Kristen mendominasi kehidupan manusia maka teori takdir yang berlaku.
Teori takdir yang didominasi paham Kristen itu menguasai abad tengah.
Manusia dipandang tidak mempunyai hak dan kemampuan untuk mengontrol diri dan lingkungannya.
Mereka ditentukan oleh kekuasaan di luarnya.
Segala aktivitas kehidupan hanya diperuntukkan pada kehidupan akhirat.

Menurut teori takdir, semua peristiwa sejarah dipahami dalam konteks ajaran agama.
Bencana alam, pandemi, perang, dan yang semacamnya dipahami sebagai wujud kemarahan Tuhan Yang Maha Esa.

Teori progres yang kemudian mengoreksi teori-teori sebelumnya.
Inti dari teori progres itu ialah sebuah penelitian yang bisa dilakukan oleh setiap orang.
Karena setiap peristiwa bisa diteliti dan dipelajari untuk kehidupan yang lebih baik, teori progres ini pun melahirkan renaissance, reformation, enlightenment.

Teori progres melahirkan revolusi besar dalam kehidupan manusia melalui perkembangan sains dan teknologi.
Sampai hari ini teori progre terus dianut dan dipakai orang dalam melihat kejadian dan peristiwa yang terjadi hari-hari ini.

Tiga teori yang saya lupa itu, seingat saya, saya baca dalam ulasan psikologi di majalah Inti Sari pada tahun 80-an.

Dalam majalah itu diulas teori lingkaran untuk melihat orang menemukan pasangan hidupnya.

Teori lingkaran bisa menjelaskan bojo, jodoh kita dari cara pandang teori lingkaran.
Walaupun terasa ada usaha simplementasi dalam teori dalam ulasan di majalah itu.
Karena teori perkembangan sejarah diturunkan menjadi personal psikologis.

Jangan lupa kita masih dalam suasana PSBB.

@drr