MANFAAT LAIN EKONOMI DIGITAL IALAH SENTRA-SENTRA BARU EKONOMI DI LUAR JAWA MENJADI TERBUKA.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta –  MANFAAT LAIN EKONOMI DIGITAL IALAH
SENTRA-SENTRA BARU EKONOMI DI LUAR JAWA MENJADI TERBUKA.

 

Salah satu faktanya diperoleh dari pemilik Alibaba Jack Ma yang memberikan informasi terdapat e-commerce di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, Palu, yang mempekerjakan dari 6 orang menjadi 60 orang.

Produk bisnis itu juga diekspor ke Selandia Baru.
“Di desa-desa yang tidak kita duga kini menjadi pusat pengiriman barang.
Yang punya data itu JNE”.

Berbagai pihak tidak meremehkan hal itu dengan menyebut perpindahan perdagangan ke daring sangat kecil dan menuding daya beli melemah sebagai biang keladi merosotnya penjualan ritel modern.

JUAL BELI Di DUNIA MAYA SUDAH MENGHANCURKAN EKSISTENSI RITEL MODERN.

Penjualan Hypermart Rp6,7 triliun per tahun,

sedangkan penjualan dua hari belanja daring nasional mencapai Rp13,7 triliun.

 

“Yang bilang kecil itu orang yang hidup di peradaban lama.
BPS juga baru menghitung bulan ini dan yang dihitung hanya transfer. Padahal banyak transaksi yang COD (cash on delivery)”.

 

LANGKAH ANTISIPASI

Untuk itu,
Efek negatif ekonomi digital
–layaknya pengurangan tenaga kerja–
harus diantisipasi sejak dini.

Pemilik mal harus mengurangi biaya sewa tempat sebab mereka bersaing dengan pelaku e-commerce yang bekerja di rumah dengan harga produk lebih murah.

“Brand mewah akan jadi public brand.
Generasi milenial dan Z tidak mementingkan merek dan lebih suka menggunakan uang untuk berselancar di dunia maya dan travelling”.

 

Ke depan mal sekadar tempat untuk display produk, tapi orang lebih memilih berbelanja daring karena harga lebih murah.
Mal masih bisa menjadi tempat rekreasi kuliner, khususnya bagi kelas menengah baru di perkotaan.

Pemilik ritel modern disaran-kan pula untuk memindahkan lokasi usaha ke tempat wisata, tapi bukan di mal.

Para pekerja,
Khususnya di perbankan, juga didorong mulai memilih pekerjaan baru.

Kita menyebut pekerjaan seperti teller tidak dibutuhkan lagi karena bank bakal mengurangi kantor cabang.
Pekerja harus mulai beralih ke perusahaan kecil menengah dan membekali diri dengan keahlian teknologi informasi dan mampu mempresentasikan produk secara daring.

Toko konvensional perlu berinovasi dan menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan teknologi atau tren belanja dunia.

“Mal harus berinovasi memberikan sajian menarik pengunjung.
Ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan toko daring.
Contohnya lifestyle seperti hang out di kafe, bar, menonton bioskop, dan lainnya”.

 

Toko daring tidak akan melaju pesat seperti sekarang jika sebelumnya tidak dijajakan di toko konvensional.

“Daring itu channel ya.
Para pemain offline retails harus mengikuti tren.
Sekarang trennya sudah digital semua. Tapi bukan berarti itu menggantikan offline”.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI yang ditandai dengan perubahan lanskap ekonomi menjadi digital harus disikapi secara positif.

 

DATANGNYA ERA EKONOMI DIGITAL DENGAN KEMUNCULAN BERBAGAI E-COMMERCE MERUPAKAN WUJUD EKONOMI KERAKYATAN.

 

Soalnya,
Masyarakat kini diuntungkan dengan keberadaan akses untuk berjualan langsung melalui beragam kanal e-commerce alias jual beli daring.

Dulu warga mesti menitipkan barang dagangan mereka ke toko ritel modern.

“Positifnya, ekonomi beralih dari ekonomi untuk kepentingan orang kaya menjadi ekonomi kerakyatan.
Bukalapak dan Tokopedia punya masing-masing 2 juta vendor yang sebelumnya tidak pernah berjualan”.-

(Rn)