Maksiat membuat para pelakunya hina dihadapan manusia dan Allah SWT

 

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —: Maksiat membuat para pelakunya hina dihadapan manusia dan Allah SWT
Allah SWT melarang perbuatan maksiat baik yang ditujukan terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap Sang Khaliq dan utusan-Nya, Muhammad SAW.
Perbuatan maksiat menyebakan datangnya kehinaan pada diri pelakunya. Hal ini diketahui sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 112:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Dari ayat tersebut, dapat direnungkan bahwa Allah SWT menimpakan kehinaan kepada mereka yang berbuat maksiat di mana pun mereka berada.

Lalu mengapa Allah SWT mempermalukan mereka?
Itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.
Sesungguhnya perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa, maksiat, dan mengabaikan perintah Allah SWT serta melampaui batas yang telah ditentukan Allah SWT. Inilah penyebab terbesar Allah SWT mempermalukan mereka.
Mereka yang membangkang perintah Nabi Muhammad SAW juga ditimpa kehinaan oleh Allah SWT. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda:

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ”
Aku diutus dengan pedang sampai mendekati kiamat, sehingga nanti hanya Allah yang disembah serta tak ada yang menyekutukan-Nya.
Rezekiku ada di bawah naungan tombakku. Kehinaan dan kerendahan itu diperuntukkan bagi mereka yang tak mematuhi perintahku.” Itulah salah satu alasan terbesar mengapa iblis berani melawan hamba Allah. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ”
Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun.”
(QS Ali Imran ayat 155)

(*
Menjaga rahasia sesama merupakan salah satu perbuatan yang mulia

Nabi Muhammad SAW menjanjikan surga kepada umatnya yang mampu menghidupkan sunnah-sunnahnya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

عَنْْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ. ثُمَّ قَالَ لِي: يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Anas bin Malik, dia berkata, “Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai, anakku! Jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari di hatimu tidak ada sifat khianat pada seorangpun, maka perbuatlah.” Kemudian beliau SAW berkata kepadaku lagi: “Wahai, anakku! Itu termasuk sunnahku. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di surga.”
Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nasaihul ‘Ibad, menuliskan bahwa Ali bin Abi Thalib RA pernah mengatakan, “Siapa yang tidak ada sunnatullah dalam dirinya, maksudnya aturan-aturan Allah SWT (sunnah rasul-Nya) aturan-aturan Rasul dan sunnah para walinya, yaitu contoh amal ibadah mereka, (maka tidak ada mempunyai sedikit pun di tangannya) maksudnya ia tidak mempunyai sedikit pun sesuatu yang berharga.” Lalu Ali pernah ditanya apa yang dimaksud dengan sunnatullah itu. Ali menjawab:

من لم يكن عنده سنة الله وسنة رسوله وسنة اوليائه فليس فى يده شيء : قيل له ما سنة الله؟ قال: كتمان السر وقيل ما سنة الرسول؟ المدراة بين الناس وقيل ما سنة اوليائه؟ قال: احتمال الاذی عن الناس وكانوا من قبلنا يتواصون بثلاث خصال: ويكاتبون بها من عمل لأخرته كفاه الله امر دينه ودنياه ومن احسن سريرته احسن الله علانيته ومن اصلح ما بينه وبين الله اصلح الله ما بينه وبين الناس

“Menyembunyikan rahasia. Rahasia, adalah sesuatu yang harus disembunyikan, agar orang lain tidak mengerti. Menyembunyikan rahasia orang lain adalah wajib. Ali ditanya lagi, “Apa yang dimaksud dengan sunnah Rasul itu?” Ali menjawab: “Bersikap ramah kepada sesama manusia.” Tentang sifat ramah, sebagaimana disebutkan dalam syair:
“Berbuatlah terhadap mereka selagi engkau berada di rumah mereka dan buatlah hati mereka puas, selama engkau berada di bumi mereka.”
Ali RA, lalu ditanya lagi apa yang dimaksud dengan sunnah para wali itu? Ali menjawab: “Sabar dalam menghadapi perlakuan yang menyakiti hati.”
Dalam kaitan ini orang-orang sebelum kami juga biasa saling mengingatkan, yaitu saling menasihati satu kepada yang lainnya dan berkirim surat dengan tiga hal berikut:

Pertama, siapa yang beramal sesuatu dari amalan yang baik untuk kepentingan akhiratnya, maka Allah akan memelihara urusan agama dan dunianya.

Kedua, siapa yang membina batinnya atau isi hatinya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya karena keadaan zahir orang menunjukkan isi batinnya.

Ketiga, dan siapa yang memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah SWT dengan berbuat amal yang ikhlas, terbebas dari riya, ujub dan sum’ah maka Allah akan menjamin kebaikan hubungan antara dia dan sesama manusia. “Karena orang yang dicintai Allah itu juga akan dicintai makhluk-Nya,” katanya.

Menurut Syekh Nawawi riya berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain, sedangkan sum’ah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain.
Riya berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga.

 

@garsantara