Kategori
Artikel

MAD’U (OBJEK DAKWAH) DIJAMIN DALAM EKONOMI DAN STABILITAS KEAMANAN.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – MAD’U (OBJEK DAKWAH)
DIJAMIN DALAM EKONOMI DAN STABILITAS KEAMANAN.

Sebagaimana firman Allah SWT,
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka’bah).
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar
(jaminan ekonomi)
dan mengamankan mereka dari ketakutan
(jaminan keamanan).”
(QS al-Quraisy [106]: 3-4).

Untuk itulah,
Siapa yang melakukan AKSI TEROR yang mengancam stabilitas keamanan mendapatkan ancaman serius dalam JINAYAT (PIDANA) ISLAM.

 

Perbuatan terorisme adalah perbuatan terlaknat baik dari penduduk bumi maupun langit.

Sebagaimana hadis Nabi SAW,
“Siapa yang mengacungkan senjata kepada saudaranya (Muslim) maka malaikat akan melaknatnya sampai ia berhenti.”
(HR Muslim).

LAKNAT sudah dikantongi seorang teroris semenjak ia menodongkan senjata.
Jika ia benar-benar melukai bahkan sampai membunuh, dosa yang ia dapat seakan ia telah melukai atau membunuh seluruh umat manusia.

Firman Allah SWT,
“Dan siapa yang membunuh seorang mukmin di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.”
(QS al-Maidah [5]: 32).

Lantas hukuman seperti apa yang dijatuhkan Islam bagi pelaku terorisme?

Hal ini jelas ditegaskan dalam Alquran,
“Sesungguhnya balasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri
(tempat kediamannya).
Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”
(QS al-Maidah [5]: 33).

Dalam ayat ini,
Hukuman bagi pelaku terorisme yang diistilahkan

YAS’AUNA FIL ARDHI FASADAN

(membuat kerusakan di muka bumi)
sama beratnya dengan mereka yang memerangi Allah SWT dan rasul-Nya.

Hukuman bagi mereka berupa hukuman bunuh, disalib, atau dipotong salah satu tangan dan kakinya dengan bertimbal balik.

Ibnu Abbas RA dalam tafsirnya terkait ayat ini menerangkan,
Segala bentuk perbuatan
qat’ut thariq
(begal jalanan) atau HIRABAH punya ancaman serius.

Dalam fikih Islam,
HIRABAH berarti tindakan mengangkat senjata melawan orang banyak dan menakut-nakuti mereka

(MENIMBULKAN RASA TAKUT DI KALANGAN MASYARAKAT).

Menurut Ibnu Abbas RA,
Jika pelaku
qat’ut thariq atau muharib
(pelaku hirabah) melakukan aksi teror, hukum paling ringan adalah penjara.

Jika aksi teror disertai pencurian atau mengambil harta korban, salah satu tangan dan kakinya dipotong dengan cara timbal balik.
Yakni, kaki kanan dengan tangan kiri atau kaki kiri dengan tangan kanan.

Apabila AKSI TEROR tersebut hanya membunuh tanpa mengambil harta, ia dihukum bunuh.

Sedangkan,
Apabila AKSI TEROR dilakukan dengan membunuh serta mengambil harta si korban, ia disalib sampai meninggal.

Majelis Ulama Indonesia (MUI)
dalam keluaran fatwanya Nomor 3 Tahun 2004 tentang TERORISME juga menjadikan surah
al-Maidah [5] ayat 33
ini sebagai landasan FATWA.

MUI juga merujuk pada tafsiran ayat tersebut sebagaimana diterangkan dalam tafsir Ibnu Abbas RA.

TERORISME MENURUT FATWA MUI adalah

TINDAKAN KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN DAN PERADABAN YANG MENIMBULKAN ANCAMAN SERIUS TERHADAP KEDAULATAN NEGARA,

BAHAYA TERHADAP KEAMANAN, PERDAMAIAN DUNIA, SERTA MERUGIKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.

Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik
(well organized),
bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa
(extra-ordinary crime)
yang tidak membeda-bedakan sasaran
(indiskriminatif).

šŸ“§
MUI memerinci karakteristik tindak terorisme menjadi beberapa sifat.

Yakni,
Bersifat
merusak (ifsad) atau
anarkis (faudha),

Bertujuan menciptakan rasa takut serta menghancurkan pihak lain, kemudian dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.

Dalam ajaran Islam,
Seseorang baru diperbolehkan mengangkat senjata ketika ia diperangi.

Haram mengangkat senjata di daerah yang aman.
Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran,

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu.
(Yaitu), orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, Tuhan kami hanyalah Allah.”
(QS al-Hajj [22]: 39).

Mengangkat senjata sebagaimana yang dilakukan warga Palestina yang diserang serta diusir dari negerinya sendiri tidak dikategorikan terorisme.

Demikian juga perjuangan kemerdekaan yang dilakukan bangsa Indonesia melawan penjajah.

Para ulama menyebutnya dengan jihad yang sangat jauh dari sifat-sifat terorisme.

Jadi menurut MUI,
IZIN untuk angkat senjata hanya ketika musuh Islam telah memerangi, menganiaya, atau mengusir orang Islam dari negerinya.

Sebagaimana dijelaskan dalam surah
al-Hajj ayat 39
tersebut.

MUI juga menegaskan,
Tindakan bunuh diri apa pun motifnya adalah diharamkan.

Pelaku bunuh diri mendapat balasan negara di akhirat kelak
(QS an-Nisa [4]: 29ā€“30).

MUI mengecam segala bentuk aksi teror dengan motif apa pun.
“Hukum melakukan teror secara qath’i adalah haram baik dengan alasan apa pun, apalagi jika dilakukan di negeri damai
(dar al-shulh)
dan negara Muslim seperti Indonesia,”

Demikian bunyi fatwa nomor 3 tahun 2004 tersebut.

Bagi pelaku terorisme yang telah menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa umat Islam, mereka sudah sepatutnya dihukum bunuh pula.

Wallahu a’lam.

(Rn)