Layar Emas Indonesia : Hiburan Berpolitik Suatu Kedaulatan Bangsa

Muda, berparas cantik atau tampan, memiliki kelakuan yang baik bak impian. Kami memiliki perbedaan yang sangat luar biasa, seni pertunjukan yang mestinya dapat ditayangkan lebih apik lagi, bukankah yang diinginkan adalah hiburan yang menyenangkan dan menenangkan. Menyangsikan dengan kesuksesan yang didapat, hingga terjerumus ke panggung politik. Apakah ada yang salah?

Oleh Zuliana

Seni meramu formula yang tepat saat pertunjukan dunia hiburan tidak lagi seindah yang dibayangkan. Tayangan yang terasa menjemukan bukan tanpa sebab, berkreasi tidak semudah mengedipkan mata, karakter yang kuat belum ditampilkan, sepi peminat? mungkin saja, siapa yang mau rugi untuk buat hal yang tidak pasti.

Tayangan berciri khas kolosal, bersendu, komedi, misteri alur cerita khas Indonesia, entah ini akan mengalami perubahan dimasa depan, atau akan tetap berdiri negeri sendiri. Dunia hiburan tidak semenarik dulu sensasinya setelah meledak media sosial dan kanal-kanal yang dapat menyajikan video secara independen, sekarang semua penghibur beralih merangsek masuk ke dalam lingkup media sosial untuk lebih independen. Bukan tanpa maksud untuk menjadikan sebuah pamor yang lebih menarik dibanding yang ada di layar kaca, kita semua pun akhirnya mempelajari tidak semua hal dapat ruang yang baik atau diapresiasi selamanya.

Terkadang tidak mudah menoleh kanan kiri dan akhirnya akan terlihat seperti memaksakan kehendak. Penguatan mentalitas pun belum juga terlaksana entah ini dapat dibuat menjadi skenario yang jadi dalam satu malam. Sekedar ikut-ikutan trend, mengikuti kemauan pasar, hingga alasan tidak adanya kebebasan berkesenian, bukan langkah yang tepat dilihat dari budaya jaman sekarang yang terlihat jadi terombang ambing. Memang tidak ada yang salah apabila membuat pertunjukan dalam sosial media, namun eksistensi yang dimaksud dapat siap lenyap dalam sekejap.

Semua yang ditayangkan sudah dibentuk dan terbentuk. Seakan kami bisa mengubah tayangan yang ingin kami lihat atau tidak hingga masuk kedalam politik negeri. Sebagai orang awam kami tidak mengerti betul untuk tidak seharusnya begitu egois dengan mimpi mimpi yang besar. Kalau menyukainya, tetap duduk disana, hal yang dapat membunuh sebuah karakter bila dibiasakan akan terbiasa dan merusak hal yang seutuhnya dapat di cegah mulai dari akarnya.

Media digital untuk mengikuti perkembangan jaman, bukankah ini akan sangat beresiko dan lebih tidak memberi kepastian? Nilai dari satu tayangan yang akan hilang dan sulit dimengerti akan lebih efektif. Kesempatan tidak lagi sama, seperti apa yang dibayangkan dalam berkebebasan berkreasi. Berkesenian yang juga memerlukan karakter dan ciri khas akan kehilangan kelas yang dapat menjadikan lebih bermakna, terlebih kehilangan pesan moral cerita. Tanpa pemahaman kita tidak akan diyakinkan semua berjalan baik-baik saja di masa depan.

Pencarian identitas yang belum sepenuhnya terbentuk salah satu faktor mengapa bisnis hiburan negeri akan terlihat sangat buruk tidak tentu, wacana demi wacana pun dibeberkan, bukan juga sepenuhnya hal yang salah dalam mengikuti perkembangan teknologi, kebosanan mungkin akan mudah terlihat sebelum masuk pada inti yang akan disampaikan. Bila tidak muda lagi, semua kian terlihat jelas dan tidak pasti.

Berharap ada perubahan mendasar sebuah karakter, kebijakan yang benar sama rata. Kenapa ini tidak mungkin bila menyangkut pautkan dengan panggung politik, akan terasa menjijikan menggunakan popularitas untuk kepentingan diri. Entah seperti mencoreng profesi dunia hiburan lokal yang sebenarnya dan sebenarnya disadari betul para penghibur memang bukan orang pintar berpolitik, namun tidak bermaksud membodohi segelintir pengidola untuk memberikan suara dan menghancur leburkan kedaulatan yang sebenarnya. Bukan hal sepele untuk menyajikan citra muda bersosial. Namun ada dampak yang harus dibayarkan bahwa ini adalah suatu yang tidak benar serius. Menjadi penghibur bukan pintu untuk masuk ke dalam ranah politik, seharusnya tahu betul kita kehilangan jati diri dan mempertontonkan  citra negeri tanpa karakter, tegas, dan dapat dipercaya. Seolah mencari jarum dalam tumpukan jerami, identitas harus sudah terbentuk pasti.

Menengok kembali bagian inti Pasar Kreatif Asia Tenggara, “Daya tarik yang masih dipergunjingkan dan makin maraknya menyadur atau menggandakan yang sudah jelas pasar dan peminatnya menjadi bisnis yang tidak sepenuh hati dijalankan.” Layar emas yang diidam idamkan tidak termakan oleh waktu, entah ciri khas apa yang dipertunjukan, para pembuat kebijakan yang juga ikut galau melihat perubahan yang semakin sulit dibendung, tanyangan negeri mudah tenggelam disandingkan dengan film internasional, seolah menunggu bangku kosong atur jadwal agar tidak bersamaan duduk dalam satu ruang. Disana bukan hal yang harus ditutup, dipotong, dibuang dari satu pertunjukan namun karakter masyarakat yang seharusnya terbentuk melalui pendidikan inklusif. Alur cerita yang dapat dibungkus dengan sangat rapi, namun karakter sesungguhnya hanya dapat terlihat seiring dengan waktu, lebih dewasa dan kompetitif.

Industri kreatif akan memberikan banyak pelajaran berharga dan membuka banyak kesempatan, kreativitas yang tidak akan pernah habis akan lebih menarik dengan karakter yang pas. Kualitas tidak akan mengecewakan, begitu juga dengan kepastian yang diberikan. Identitas yang dipertontonkan bukan hal yang main main atau amatiran yang coba coba melancong tanpa peta yang jelas.