Kategori
Artikel

KORUPSI tentu saja tindakan tercela

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com,  JAKARTA —KORUPSI tentu saja tindakan tercela.
Menjadi sangat tercela ketika dilakukan saat wabah, justru oleh sebuah kementerian yang seharusnya menjadi teladan terdepan, yang memastikan bahwa bantuan sosial pemerintah sampai kepada warga, terutama yang terpapar covid-19.

Bahkan, tidak tanggung-tanggung, Menteri Sosial Juliari Batubara langsung ditetapkan KPK jadi tersangka korupsi bantuan sosial (bansos) di Kementerian Sosial.

Penetapan Juliari sebagai tersangka merupakan tindak lanjut dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang dilakukan pada Sabtu (5/12) dini hari. Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan enam orang.
Keenam orang itu ialah MJS, direktur PT TPAU berinisial WG, AIM, HS, seorang sekretaris di Kemensos berinisial SN, dan pihak swasta berinisial SJY.
Kata Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Minggu (6/12),
“Kami sangat mengikuti apa yang menjadi diskusi di media terkait dengan pasal-pasal, khususnya Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 31 1999 tentang Tipikor. Tentu kita akan dalami terkait dengan apakah Pasal 2 itu bisa kita buktikan, terkait dengan pengadaan barang dan jasa.”

Kasus suap ini diawali adanya pengadaan bansos penanganan covid-19 berupa paket sembako untuk warga miskin dengan nilai sekitar Rp5,9 triliun total 272 kontrak dan dilaksanakan dua periode.
Perusahaan rekanan yang jadi vendor pengadaan bansos, diduga menyuap pejabat Kementerian Sosial lewat skema fee Rp10.000 dari setiap paket sembako yang nilainya Rp300 ribu.

Apalagi kalau bukan faktor mental dan sikap tamak yang menyebabkan seseorang terperangkap dalam tindakan nista korupsi.
Padahal, kalau kita simak, berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan 30 April 2020, Juliari Batubara memiliki harta kekayaan cukup fantastis, sebesar Rp47,188 miliar.

Barangkali, benar apa yang dibilang Lord Acton, power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.
Sebuah ungkapan yang menggambarkan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya.
Kekuasaan cenderung orang berperilaku korup.
Korupsi bukan hanya berhubungan dengan uang, melainkan juga kebijakan, untuk meluaskan kekuasaan dan mental yang sakit.

Mengingatkan pada Gonzales
Perbuatan mungkar Menteri Sosial ini mengingatkan saya pada sosok Gonzales dalam novel menarik yang ditulis Albert Camus (7 November 1913-4 Januari 1960).
Novel yang mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 1957, La Peste (Sampar).
Sampar persis memotret keragaman respons masyarakat kita terhadap virus korona sekarang ini.
Minimal ada empat tipologi.

Pertama, Rambert. Sosok yang tak acuh dan sama sekali tak merasa harus berurusan, apalagi mempunyai kewajiban moral terpanggil membantu menyelesaikan sampar. Tipe manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri.

Kedua, Peneloux. Sosok rohaniwan yang tak pernah henti melihat wabah dari optik keagamaan. Ke mana-mana, menyampaikan khotbah yang ditautkan pada penjelasan serbametafisis. Bahkan, cenderung abstrak dan tidak mudah dipahami, terlebih oleh korban. Firman-firman Tuhan yang ditafsirkan secara subjektif dijadikan sebagai jangkar psikologis agar manusia menerima sampar dengan penuh kesabaran. Disebutkannya bahwa penyebab semua bencana itu tak lain ialah dosa-dosa yang dilakukan manusia, yang tak sempat ditobati. Maka, jalan keluarnya manusia harus lekas kembali kepada Tuhan dan menyesali segenap perbuatannya yang sesat, kafir, dan menyimpang.

Kita simak khotbah Romo Peneloux seperti diterjemahkan A Setyo Wibowo.

“Sudah terlalu lama Tuhan menyerukan panggilan-Nya kepada kita. Terlalu lama kita malas dan tidak taat kepada-Nya. Kita berpikir bahwa belas kasih Tuhan masih akan memberi kita waktu.
Tidak. Tuhan yang kecewa sudah capek melihat kebengalan manusia. Ia memaling wajah-Nya dari kita. Dan lihatlah sekarang keadaan kita… saat cahaya Ilahi menghilang, kita semua terbenam dalam kegelapan wabah sampar… melalui kemalangan, kehendak Allah akan menuntun kita untuk menyadari apa yang paling penting dalam hidup ini.
Saudara-saudara, itulah yang bisa saya sampaikan. Semoga bukan hanya kata-kata yang kalian bawa pulang, melainkan juga penghiburan.”

Ketiga, Gonzales. Sosok ini melambangkan orang-orang yang justru menjadikan wabah sebagai alasan untuk mengeruk keuntungan materiel dan meraih popularitas politis. Tragedi dikapitalisasi demi memuaskan nafsu diri. Tak ada wajah ketulusan, kecuali tawaran kebijakan sekadar menunjukkan sikap simpatik yang dibuat-buat. Anggaran untuk masyarakat yang terkena sampar, malah disunat hanya demi menyalurkan nafsu serakahnya yang kebablasan.

Keempat, Rieux. Sosok ini menyimbolkan kalangan dokter, para perawat atau siapa pun yang menyalurkan pertolongan secara ikhlas, konkret, dan terlibat aktif sepenuh hati. Dokter Rieux dengan etos hospitalitasnya telah mengondisikannya berpikir nyata dan bertindak terukur walaupun dirinya disekap keterasingan karena istrinya hidup terisolasi di luar kota dan tak bisa pulang masuk ke kota bersatu menemui Rieux sebagai suaminya. Namun, Rieux sama sekali tak pernah membocorkan nestapa yang menimpanya kepada siapa pun. Dia tak ingin membebani lian dan juga tak mau sibuk mengobati istrinya, sedangkan khalayak menderita karena diabaikan. Rieux sampai pada moralitas sempurna yang tak goyah, tiba pada insan kamil dengan etikanya yang kukuh, “Aku tak bisa hidup gembira sendirian.”

 

Mendefinisikan jati diri Covid-19 tak ubahnya sampar yang menghantam penduduk Kota Oran, membetot kita secara mendalam, pada perenungan eksistensial di hadapan malapetaka: setiap kita sesungguhnya tengah mendefiniskan jati diri. Dari keempat kategori manusia itu kita berada pada posisi mana.

Tentu, harapannya, siapa pun yang melakukan korupsi pada masa wabah ini harus dihukum berat.

Bahkan, terancam hukuman mati.

Kata Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (4/12). “Benar bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi dalam situasi yang kondisi seperti ini, kondisi negeri lagi menghadapi musibah wabah covid-19 seperti ini, tentu sangat berharap bahwa tidak ada perilaku-perilaku korupsi yang terjadi dalam kondisi yang serbasusah seperti ini, sebagaimana juga yang dibutuhkan di dalam Pasal 2 ayat 2.”

Selanjutnya,

“Bahwa ancaman hukuman mati bisa saja dilakukan pada mereka yang melakukan tindak pidana korupsi di masa ada bencana nasional, bencana sosial, dan sebagainya,”.

Menteri Sosial telah mendefinisikan dirinya sebagai sosok Gonzales.

Korupsi di musim pandemi.

Tentu dia harus bertanggung jawab atas seluruh perbuatannya.

 

@garsantara