Kategori
Artikel

KORONA seperti mencelikkan mata kita, bahwa kita bukan bangsa yang berdisiplin.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –KORONA seperti mencelikkan mata kita, bahwa kita bukan bangsa yang berdisiplin.
Mengherankan bahwa kita seakan baru tahu bahwa kita bukan bangsa yang berdisiplin.
Kita marah terhadap diri kita sendiri.

Lalu keluarlah peraturan, barang siapa tak mematuhi protokol kesehatan, dihukum di ruang publik.
Antara lain, menyapu trotoar, membersihkan got. Hukuman sosial itu berbasiskan rasa malu.
Dikira, orang yang dipermalukan di depan orang banyak bakal bertobat.
Semoga benar.
Sejauh ini belum ada tanda-tanda akibat rasa malu kedisiplinan kita meningkat.
Baiklah diingat apa yang terjadi di KPK.
Tersangka korupsi mengenakan rompi oranye, rompi pesakitan.
Malu?
Tidak. Dengan gembira pesakitan melambaikan tangan ke arah jurnalis yang meliput–fakta publik yang dapat ditonton di televisi.
Yang terjadi ialah rompi KPK diperlakukan seperti kostum dipertunjukan melodrama.
Lalu muncul hukuman Lucu.
Orang melanggar protokol kesehatan dihukum masuk ke peti mati, untuk merenung selama 1-3 menit.
Hukuman yang bisa bikin orang takut mati, dikira bakal efektif.
Ternyata juga salah besar.
Peti mati menjadi objek mainan.
Orang malah riang gembira menjepretnya dengan kamera HP.
Peti mati menjadi properti entertainment.
Sepertinya orang malah berimajinasi atau bersensasi pernah merasakan hidup di dalam peti mati.
Sebuah jenis melodrama aneh.
Hukuman masuk peti mati itu ramai diberitakan bahkan di halaman depan surat kabar. Sebuah melodrama versi jurnalistik di masa pandemi.
Namun, kemudian, hukuman masuk peti mati itu tiba-tiba menghilang begitu saja, tanpa pamit, tanpa rasa malu.
Demikianlah, malu dan mati bukan hukuman efektif untuk seketika kita menegakkan disiplin.
Sesungguhnya memang mana ada di dunia ini, obat mujarab yang berkemampuan mengubah banyak anak manusia di sebuah negara, dalam tempo sangat cepat menjadi makhluk berdisiplin.
Manusia bukan besi, yang dapat ditempa seketika, selagi panas. Disiplin mengandung dua kualitas pokok, yakni responsif dan respectful.
Bukan malu dan mati. Responsif bermakna cepat menjawab, cepat bertindak positif.
Di dalam suatuan trean ada orang yang asyik berangan-angan.
Lupa gilirannya bergerak maju.
Orang yang antre di belakangnya sopan memberitahu.
Disiplin antre pun terus bergerak maju, berkat hadirnya kualitas yang bernama ‘responsif’. Di dalam disiplin juga terkandung kualitas respectful, rasa hormat.
Orang yang memotong antrean tak menghormati orang lain, juga tak menghormati dirinya sendiri.
Datang terlambat ke suatu rapat pun demikian.
Sudah tentu tak memakai masker di masa pandemi.
Contoh dapat diperpanjang.
Korona terus merenggut nyawa dan kita berduka.
Yang publik ketahui ialah telah menjadi norma, orang yang meninggal langsung dibawa dari rumah sakit ke permakaman.
Karena itu, muncul kritik ketika jenazah Saefullah, Sekda Pemprov Jakarta, dibawa dulu ke Balai Kota, untuk mendapat penghormatan terakhir. Sekalipun jenazah tetap berada di mobil jenazah, jauh dari tempat upacara pemberangkatan dan pelayat, sebuah perkara telah terjadi, yaitu pengecualian terhadap ketentuan.
Pengecualian macam ini bukti pelanggaran, contoh buruk bagi warga.
Siapakah anak bangsa ini yang tak berkeinginan memberi penghormatan terakhir kepada anggota keluarganya yang meninggal?
Kenapa hanya pejabat yang boleh?
Kenapa rakyat biasa tak boleh?
Senyatanya di situ terjadi pengabaian terhadap prinsip responsif dan respectful.
Membawa jenazah ke Balai Kota itu justru menunjukkan Pemprov Jakarta bertindak responsive without responsibility, responsif tanpa tanggung jawab.
Ini pun bentuk lain melodrama ala Balai Kota. Dua kualitas responsif dan respectful kiranya tak dapat ditegakkan seketika.
Juga tak dapat tertanam mendalam bila semata patuh karena diawasi tentara dan polisi di ruang publik.
Disiplin tegak bukan karena rasa takut (tak ada polisi, tabrak rambu lalu lintas), melainkan karena berseminya responsif dan respectful baik di dalam diri maupun di luar diri terhadap sekitar.
Untuk itu, baiklah kita berhenti bermelodrama, dalam pengertian Winston Churchill.
Katanya, ‘pria melodrama tidak dianggap cocok untuk dunia pascaperang’.
Disiplin instan itu kiranya cocok untuk masa pandemi lalu lenyap di masa pascapandemi.
Kita kembali menjadi bangsa yang tak berdisiplin.
Oleh karena itu, baiklah dipikirkan pembentukan disiplin yang tertanam dalam-dalam, yang berisikan kualitas responsif dan respectful, hasil proses panjang–yang tangguh untuk semua keadaan yang dihadapi bangsa ini.  

 

@garsantara