Kombinasi ini beri kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah di Bumi  

 

Oleh: Dhedi Raxak

Busurnews.com, JAKARTA —:Kombinasi ini beri kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah di Bumi

Hampir semua agama menyatakan manusia adalah makhluk Tuhan paling istimewa.
Di dalam Al-Qur’an manusia dinyatakan sebagai ciptaan paling istimewa (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4).
Keistimewaan manusia tidak dibedakan berdasakan etnik, agama, atau kepercayaan.
Siapapun yang merasa anak cucu Adam wajib dimuliakan, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam”
(Q.S. Al-Isra’/17:70).

Manusialah satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan mengemban amanah besar dari Allah Swt: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia”.
(Q.S. al-Ahdzab/33:72).

Atas kelebihan yang dimiliki, manusia kemudian dilantik sebagai khalifah di bumi: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
(Q.S. al-Baqarah/2:30).
Di samping sebagai khalifah, manusia juga sebagai hamba: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
(Q.S. al-Zariyat/51:56).
Yang paling penting ialah satu-satunya makhluk yang diajarkan langsung keseluruhan nama-nama-Nya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya”.
(Q.S. al-Baqarah/2:31).

Manusia satu-satunya makhluk Tuhan yang teomorfis,  yang di dalam dirinya tergabung dua dimensi yaitu dimensi Lahut (Q.S.al-Hijr/15:29) dan nasut (Q.S. al-Naml/27:82).
Di dalam dirinya juga menyatu dua kekuatan besar, yaitu kekuatan maskulin (quwwah jalaliyah) dan kekuatan feminine (quwwah jamaliyyah), sebuah kombinasi yang tidak dimiliki makhluk lain.
Kombinasi inilah yang memberi kemungkinan sekaligus kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah bumi (khalaif al-ardh).
Namun, menurut SH Nasr, kombinasi ini juga menjadikan manusia sebagai makhluk eksistensialisme, yakni makhluk yang bisa turun-naik martabatnya di sisih Allah Swt.
Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), tetapi manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/Q.S. al-Tin/95:5, Q.S. al-A‘raf/7:179).
Makhluk lain tidak terkecuali malaikat, tidak mungkin berdosa karena tidak memiliki quwwah jalaliyyah. Meraka hanya memiliki quwwah jamaliyyah. Malaikat dan makhluk lainnya hanya bisa merepresentasikan aspek perbedaan dan ketakterbandingan (tanzih) tetapi tidak bisa merepresentasikan aspek keserupaan dan keterbandingan (tasybih).
Sebaliknya mausia, dengan kombinasi kedua kekuatan yang dimilikinya mampu mencapai maqam “sintesa ketuhanan” (al-jam’yyat al-ilahiyyah). Manusia mampu menampilkan sifat-sifat jalaliyyah di samping sifat-sifat jamaliyyah Tuhan.
Komposisi masculine-feminine harus selalu terukur agar tidak berat sebelah. Manusia mampu mencapai ma’rifah tingkat lebih tinggi, yang dalam ilmu tasawuf sering disebut “Maqam Adna” (Q.S. Al-Najm/53:9).
Selain berbagai keistimewaan yang disebutkan di atas, manusia juga diberikan keistimewaan khusus, di mana alam semesta ditundukkan kepadanya, yang lebih dikenal dengan konsep taskhir dalam teologi Islam.
Segenap alam semesta ditundukkan  kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah (khalaif al-ardh), sebagaimana disebutkan dalam ayat: Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia. (Q.S. al-Hajj/22:65).
Ketundukan (taskhir) alam semesta kepada manusia bukannya tanpa reserve. Alam semesta akan tunduk sepanjang manusia menjalankan kapasitas kekhalifahannya dengan benar. Manusia tetap memimpin jagat raya sesuai dengan tuntunan Sang Khaliq sebagaimana dituntunkan dalam Kitab Suci.
Misalnya di dalam menjalankan kapasitas kekhalifahannya selalu mencontoh Allah Swt sebagai “Pemelihara alam-alam semesta” (Rabb al-‘alamin/Q.S. al-Fatihah/1:2), manusia juga harus sadar bahwa Allah Swt lebih menonjol sebagai The Mother of God daripada The Father of God di dalam mengelola alam semesta ini. Sebagai khalifah, manusia juga tidak boleh melampau batas: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(Q.S. al-An’am/6:141).

Makhluk lain tidak terkecuali malaikat, tidak mungkin berdosa karena tidak memiliki quwwah jalaliyyah. Meraka hanya memiliki quwwah jamaliyyah. Malaikat dan makhluk lainnya hanya bisa merepresentasikan aspek perbedaan dan ketakterbandingan (tanzih) tetapi tidak bisa merepresentasikan aspek keserupaan dan keterbandingan (tasybih).
Sebaliknya mausia, dengan kombinasi kedua kekuatan yang dimilikinya mampu mencapai maqam “sintesa ketuhanan” (al-jam’yyat al-ilahiyyah). Manusia mampu menampilkan sifat-sifat jalaliyyah di samping sifat-sifat jamaliyyah Tuhan.
Komposisi masculine-feminine harus selalu terukur agar tidak berat sebelah. Manusia mampu mencapai ma’rifah tingkat lebih tinggi, yang dalam ilmu tasawuf sering disebut “Maqam Adna” (Q.S. Al-Najm/53:9).
Selain berbagai keistimewaan yang disebutkan di atas, manusia juga diberikan keistimewaan khusus, di mana alam semesta ditundukkan kepadanya, yang lebih dikenal dengan konsep taskhir dalam teologi Islam.
Segenap alam semesta ditundukkan  kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah (khalaif al-ardh), sebagaimana disebutkan dalam ayat: Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.
(Q.S. al-Hajj/22:65).
Ketundukan (taskhir) alam semesta kepada manusia bukannya tanpa reserve. Alam semesta akan tunduk sepanjang manusia menjalankan kapasitas kekhalifahannya dengan benar.
Manusia tetap memimpin jagat raya sesuai dengan tuntunan Sang Khaliq sebagaimana dituntunkan dalam Kitab Suci.
Misalnya di dalam menjalankan kapasitas kekhalifahannya selalu mencontoh Allah Swt sebagai “Pemelihara alam-alam semesta” (Rabb al-‘alamin/Q.S. al-Fatihah/1:2), manusia juga harus sadar bahwa Allah Swt lebih menonjol sebagai The Mother of God daripada The Father of God di dalam mengelola alam semesta ini. Sebagai khalifah, manusia juga tidak boleh melampau batas: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(Q.S. al-An’am/6:141).

Manusia tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang digariskan Allah Swt kepadanya, yang pada akhirnya akan merugikan sendiri kehidupan umat manusia, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
(Q.S. al-Rum/30:41).
Konsep taskhir dalam Islam mempunyai prasyarat. Ketika manusia melupakan dirinya sebagai hamba dan khalifah yang harus memakmurkan bumi, lalu mereka melakukan eksplorasi alam yang melampaui ambang daya dukungnya, dan sesama mereka saling menghujat dan menyebabkan pertumpahan darah, sebagaimana dikhawatirkan malaikan
(Q.S. al-Baqarah/2:30).
Ketika manusia tidak lagi mengindahkan ketentuan Allah Swt, misalnya para penguasa tidak lagi memihak kepada keadilan dan kemaslahatan umat, mengabaikan akal sehat dan hati nurani, para pebisnis tidak lagi mengindahkan etika bisnis, para ulama dan ilmuan sudah kehilangan pertimbangan objektivitasnya, para buruh dan karyawan sudah kehilangan rasa ketulusannya, maka ketika itu bencana demi bencana senantiasa mengintai dalam masyarakat.
Tegasnya, ketika manusia sebagai khalifah terjebak di dalam kualitas over masculine maka ketika itu akan muncul musibah sebagai peringatan dan lesson learning bagi manusia.

@garsantara